FeaturedImpresi

La Marupe dan Prediksi Pilkada Sulsel Review album Theory of Discoustic, La Marupe (2018)

MUSIK yang bagus bukan hanya soal bebunyian. Bukan juga soal lirik yang menggebu-gebu, puitik, ataupun sastrawi.

Bagi saya, musik yang bagus kadang juga soal mengikat makna dengan asalnya. Mungkin itu kampung halaman. Ah, bisa juga peristiwa-pertistiwa yang terkait dengan lingkungan sang musisi atau seniman, Pilkada misalnya.

Ini mi kenapa album Theory of Discoustic, La Marupe ini begitu penting. Pada kenyataannya saya adalah seorang perantau yang bisa dibilang mendakak melankolis ketika mendengar perihal yang menjurus pada kampung halaman, Sulawesi Selatan.

Terlebih ketika melihat siaran debat kandidat Pilkada di layar televisi atau riuh rendah debat di grup WA alumni sekolah dan kampus.

Theory of Discoustic adalah sebuah band folk asal Makassar. Lewat album ini, band ini hendak melangkah mundur dari roda waktu, sekaligus menceritakan dengan relasinya kini. Meminjam apa yang Nirwan Dewanto sebut dalam esainya, “Segera Tamatkah Seni?”.

Sebuah upaya untuk merawat seni dan budaya lewat usaha perhitungan kembali, refleksi yang kritis terhadap sejarah, premis-premis, kredo-kredo, dan fungsinya dalam kebudayaan.

Bisa ji dilihat dari keseriusan band ini dalam menggarap album ini. Saat kita membuka sleeve album ini. Setiap lagu dilengkapi narasi dan kisah sehingga para pendengar tidak tersesat dan mungkin keliru dalam menginterpretasi.

Wajarlah, album ini serasa mengantarkan untuk membaca beberapa bab La Galigo, Manusia Bugis, atau karya-karya sejarawan dan budayawan tanah Phinisi. Apalagi sejarah dan budaya acap kali digunakan untuk klaim politik dan hoax sejarah toh?

Album ini juga direkam di sebuah pabrik semen tua di wilayah Sulawesi Selatan, dengan pelbagai macam alasan yang disebutkan dalam situs band ini–terlepas dari apakah itu sekedar gimmick atau hasrat ekletik. Kesemuanya memperlihatkan bahwa La Marupe penuh perhitungan, diskusi, dan presisi.

Perihal unik lainnya dari album ini, adalah penggunaan beberapa diksi arkaik yang jarang dipakai oleh para pencipta lagu kekinian. Sangat jarang mendengar lagi kata “mahligai” , “titah”, digunakan lagi dalam lagu—terakhir kali saya mendengar itu digunakan di lagu Guruh Gipsy atau Chrisye.

Tak salah kalau saya bilang album ini adalah eksplorasi yang berhasil bagi Theory of Discoustic setelah di EP sebelumnya, Alkisah yang juga menceritakan sejarah dan budaya di Sulawesi Selatan.

Bedanya, di album ini, kelompok ini lebih mengeksplorasi di ranah genre trip hop dan ambience yang lebih gelap. Namun ciri budaya Sulawesi Selatan sangat nampak, utamanya di corak dan ekspresi vokal Dian.

Biar mami suaranya cenderung cempreng, komposisi vokal dan musik seakan menyatu dalam satu kesatuan dan berpadu. Tak jua Dian, vokal Fadly memiliki peran penting, utamanya mengantarkan pesan lagu.

Lihat saja di lagu pertama,  dibuka dengan lagu “Tabe”’. Pemilihan nada vokal dan gitarnya, mengingatkan pada bunyi kecapi dan sinrili. Lagu ini juga menjadi pintu gerbang untuk melnelisik isi album ini.

Trek sepanjang 1 menit lebih ini bagi saya sangat folk dalam kesemua aspeknya. Tabe’ yang secara harfiah berarti semacam permohonan izin untuk melakukan sesuatu, bisa jadi ungkapan seorang yang hendak jadi pemimpin. Frasa saat menemui konsituen, calon pemilih, bisa juga calon pemodal kampanyenya.

Lagu “Makrokosmos” merupakan sebuah trek ambience yang menceritakan ritual rumah baru. Kiranya ritual ini masih dilakukan acap kali dilakukan oleh masyarakat dengan tradisi Sulawesi Selatan, khususnya Bugis-Makassar.

Dari judulnya kita bisa lihat bahwa persoalan papan memang persoalan semesta, yang menjadi pusat segala gerak dan perihal filosofis.

Mungkin mi karena pentingnya rumah sebagai makrokosmos, membuat orang-orang berebut menjadi kepala di “rumah” asalnya baik level kota, kabupaten, atau provinsi. *sambil menopang kepala*

Trek “Tanah Tua” adalah upaya band ini berlari ke sebuah masyarakat adat di selatan, Kajang. Di lagu ini, eksplorasi terhadap gaya hidup dan budaya masyarakat Kajang dilakukan dalam notasi mayor, dan bisa dibilang lagu paling riang di album ini.

Kontradiksinya adalah nomor selanjutnya, “Lingkar Atas”. Lagu yang di mana band ini melangkah menuju ke arah utara Di mana berdiri tanah adat lainnya, Toraja dengan notasi minor.

Mendengar dua lagu ini saya teringat dua orang penyair dan penulis prosa yang kerap mengangkat tema kearifan Kajang, Alfian Dipahattang. Juga Faisal Oddang yang pernah menuliskan novel perjalanan sesudah kematian pada orang Toraja, Puya ke Puya.

Lagu “ Arafura” adalah lagu tergelap di album ini, sama seperti bagaimana latar belakang lagu ini, menceritakan tenggelamnnya RI Macan Tutul. Coba dengarkan sambil menutup mata.

Bisa jadi Anda akan merasa tenggelam dan kegelapan laut yang dalam.Dingin dan menyesakkan.

“Janci” dan “To Manurung” adalah dwilogi yang menceritakan soal To Manurung, yang menjadi tokoh awal di epos La Galigo. Aksen wild west terasa di aransemen lagu ini.

Oh ya, dalam mitosnya, konon keturunan To Manurung adalah para pemimpin di Sulawesi Selatan. Apakah ini kode untuk para paslon Pilgub atau Pilwali? Hmmm…

Apa di’? Kenapa saya membayangkan lagu ini mengisi jeda iklan sesi debat kandidat Pilkada?

Trek terbaik di album ini adalah single mereka, yang menjadi trek terakhir, “Badik”.

Nomor trip hop ini toh dibuka dengan tekanan tuts piano disertai pukulan perkusi dan hentakan kick. Ini serasa mengingat adegan perkelahian dalam Kill Bill , saat di mana Bride berhadapan dengan O-Ren Ishii.

Bisa ji juga lewat mexican standoff di menjelang akhir film the Good, the Bad, and the Ugly. Cengkok dan suara Dian, sekalipun halus, seakan menjadi dramaturgi ketegangan di trek ini.

Suspense lagu ini sangat terasa. Hingga menggapai klimaks di saat vokal Fadly masuk beradu dengan dawai gitar.

Di sana saya membayangkan Bride dan O-Ren Ishii sudah beradu pedang, juga peluru mexican standoff sudah keluar dari moncong pistol.

Mmm.. bisa ji juga membayangkan seru serang bertubi-tubi kandidat walikota terhadap petahana berujung gugatan hukum. Juga menegangkannya debat kandidat gubernur.

Nyatanya memang lagu ini menceritakan detik-detik menegangkan dalam tradisi paling berdarah di Sulawesi Selatan. Saat ujung badik harus teracung untuk berlindung dari malu. Membendung nilai seorang Bugis-Makassar, harga diri alias siri’.

Mungkin ini lah alasan kenapa proses politik di Sulawesi Selatan selalu berjalan alot dan panas. Mau mi diapa–mau bagaimana lagi. Semoga tahun ini tidak.

Album La Marupe milik ToD (singkatan untuk band ini) mi yang senantiasa mengetuk-ngetuk benak untuk segera pulang. Untuk memilih pasangan walikota dan kepala daerah, demi proses demokrasi. Eh, apa tong. Hahahaha…

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Previous post

Tips Mendekati Gebetan ala Partai Perindo

Ilusttasi (sumber foto: pijarnews.com)
Next post

Tebakan Tepat Tentang Abu Tours