Locita

Kisah Perempuan dari Beranda Rumah

FILM Nyai (A Woman From Java) bertutur dalam satu shot selama 90 menit; tanpa cut, tanpa putus, terus berjalan seperti sebuah kehidupan. Sekali, setelah itu selesai–itu jika Anda tidak percaya dengan reinkarnasi.

Garin Nugroho selaku sutradara film Nyai, memindahkan sebuah kehidupan di beranda rumah. Siklus waktu selama dua hari hanya berpusar di depan pintu dan jendela yang tidak berhenti menatap. Semua kejadian bisa dibilang berawal di beranda. Semua kejadian teras disaksikan dengan cermat oleh penonton. Tidak sekelippun mata kamera
berpaling. Mata kamera adalah bangku penonton itu sendiri.

Semua properti tampak hidup dan memiliki perannya masing-masing. Bingkai foto ratu Belanda terpampang jelas di atas pintu. Meja dan kursi membeku sedang menunggu kedatangan entah siapa. Sementara pintu bagai tirai pekat seperti dalam sebuah pertunjukan teater–ataukah memang film ini adalah pementasan teater?

Kita tak pernah betul-betul tau kapan dan bagaimana seharusnya film Nyai dimulai dan bagaimana semestinya diakhiri. Kejadian dan adegan-adegan di dalamnya memang tampak berpola juga terjadi begitu lugas dan tegas.

Berlatar belakang di masa penjajahan Belanda tahun 1927, dalam film Nyai, tampak seorang perempuan Jawa yang telah dinikahi seorang Londo–yang kini renta dan sakit-sakitan, tidak pernah sedetikpun gentar menghadapi ancaman dan cacian orang-orang bumiputera. Ia adalah salah satu dari sekian wanita perkasa yang sanggup bertahan dan menjalani takdir yang dipaksakan padanya.

Nyai, sebagai tokoh protagonis kita, tetap tegar dan tegap berdiri sebagai seorang wanita tangguh. Lebih penting lagi, meski kehidupan masa lalunya hanya ada kegelapan demi kegelapan, hanya ada kegagalan demi kegagalan. Dengan kokoh, ia menyusuri kehidupan dengan elegan. Meski dulu ia dijual oleh ayahnya, seorang mandor pabrik yang menginginkan dirinya naik jabatan.

Asih–namanya dahulu–masih ingat betul kejadian masa itu. Hari dimana ia berpisah dengan rumah dan pelukan Ibunya, hari dimana ia melihat wajah uang yang sebenarnya, hari dimana jarak membentang begitu panjang, hari dimana tubuhnya serasa asing dan tak ia kenali sendiri, hari ketika ada noda yang tidak bisa ia lupakan di dalam ingatan dan di dalam tubuhnya, hari dimana ia pertama kali menjadi Nyai seorang Londo.

Tapi ia tidak berpasrah ria. Ia barangkali hanya menangis seharian, selepas itu ia bangkit dari ratapnya dan merebut cahaya yang kian redup kian menghilang. Nyai kemudian mempelajari budaya Eropa. Belajar membaca dan menulis huruf, tidak hanya bahasanya sendiri, tetapi juga bahasa Belanda.

Ia mengerti bahasa dan istilah-istilah hukum. Etika-etika kulit putih. Pikirannya kian melebar dan bercahaya. Ia berpikir tidak seperti wanita Jawa pada umumnya. Meski begitu, ia tetap dibalut tubuh Jawa. Tubuh yang terus menerus dikenakan oleh adat dan kebudayaan.

Ia menceritakan secara detail peristiwa itu ketika Sastro mendatanginya dari Surabaya. Pertemuan yang berawal dari pertukaran surat selama tiga tahun. Surat-surat yang berisi perasaan yang meluap-luap.

Kata-kata yang dulunya hanya digunakan sebagai tangan yang berusaha menjangkau, tetapi kemudian berubah menjadi sebuah saling-tatap yang canggung, barangkali juga sebuah kasih yang mekar.

Dengan pelan dan penuh kehati-hatian, kamera membidik, menangkap dan melekatkan emosi Nyai kepada penonton. Seperti sebuah pertunjukan teater, kita bisa merasa dekat dengan Nyai. Kita bisa merasakan degup dan getir suara ketika ia berbicara. Nyai tidak sedang monolog. Ia juga tidak sedang bicara dengan dirinya sendiri. Kata-katanya tidak berakhir sunyi belaka. Ia bicara dengan seluruh hidup dan kehidupan yang menodongnya.

Orang-orang datang silih berganti ke beranda rumah. Keluhan-keluhan dari masyarakat ia topang sendiri. Nyai mendapat kepercayaan dari banyak orang. Ia juga menyambut mereka dengan hangat dan tangan terbuka. Lagu-lagu didendangkan, doa-doa disahutkan kepada Miller–suami Nyai, demi kesembuhannya. Tari-tari didatangkan untuk menghibur dan melelapkan suaminya.

Meski begitu, masih juga ada yang menganggap Nyai sebagai gundik, selir, pelacur, bahkan kafir. Ia dilempari kotoran dan tai. Sebuah penghinaan yang tidak ia minta sama sekali. Namun tentu saja selalu ada yang memihak dan menemaninya dengan tulus di rumah, yaitu kedua pembantunya. Tembang dilantunkan dengan sayu dan rapuh. Mbok bernyanyi membuat beranda dan isi-isnya seperti laut yang menggema dan saling berlipat-lipat.

Tapi Miller rupanya memelihara bom waktu. Utang melilitnya dan menjangkiti keluarga mereka. Lalu itu menjadi sebuah tamparan keras baginya juga bagi Nyai. Nyai dipermalukan dan hanya bisa meratap.

Sebelum ia baca surat dari anaknya yang berada di kapal dalam perjalanan menuju Belanda, ada kematian yang datang mengetuk di pelataran rumah. Kematian menari seperti sebuah ajal yang datang dari tanah yang tandus. Setelah itu hanya ada sepi. Mencekam dan bising.

Film Nyai memang berlangsung selama 90 menit dan tidak menawarkan kebosanan. Tidak flat dan tetap dinamis. Emosi para pemain yang konsisten dan utuh sepanjang film. Tawaran estetika yang padat. Penonton tidak dibiarkan berpaling sebab tubuh-tubuh di dalam bingkai layar itu terus bergerak dan memaku perhatian.

Berlatar di teras rumah. Tempat yang kerap dijadikan untuk berkumpul dan bercerita dengan keluarga atau sekadar mengamati tetangga dan kendaraan yang berlalu. Ruang yang dimaksimalkan. Utuh dan berkesan. Film Nyai saya kira menempatkan teras sebagai simbol untuk menyuarakan sesuatu. Suara yang menggema sampai film habis, bahkan sampai penonton pulang ke mimpi masing-masing.

Film ini berhasil mengawinkan seni pertunjukan dengan seni rekam. Penonton tidak lagi sedang menyaksikan pertunjukan teater yang direkam. Nyai adalah teater itu sendiri. Dan pertunjukan, Nyai adalah film itu sendiri. Tapi di situlah menariknya; kita tak lagi mengatakan bahwa film Nyai adalah “dokumentasi” pertunjukan teater.

Di titik ini, kita dan film Indonesia, lagi-lagi ditawarkan eksperimen baru dari Garin Nugroho. Selama satu shot, kita mendapat gaya tutur dan bentuk lain dari sebuah film. Pengalaman keindahan yang apik dan memikat. Gagasan yang tidak luput serta penuturan sejarah yang dikemas dengan indah.

Jika Anda menonton Nyai dan pernah membaca Bumi Manusia tulisan Pramoedya Ananta Toer, Anda akan melihat representasi Nyai Ontosoroh di sana. Bukan, Asih bukan dan memang tidak akan pernah menjadi Nyai Ontosoroh. Tetapi, lagi-lagi Asih tidak bisa disamakan dengan Nyai Ontosoroh.

Film Nyai barangkali memang mengambil inspirasi dari sana. Asih adalah orang lain. Nyai Ontosoroh juga adalah orang lain. Meski cerita dan masalah mereka hampir sama. Mereka berdua adalah orang yang berbeda dan lahir dari rahim yang berbeda pula.

Saya menonton film ini dua kali. Pertama, tanggal 1 Desember 2017, ketika pembukaan Jogja-Netpac Asian Film Festival (JAFF) yang ke 12, pada layar sorot di luar gedung Taman Budaya Yogyakarta dan hujan tidak jadi bertandang.

Kedua, lima hari setelah pembukaan JAFF di dalam Taman Budaya Yogyakarta. Tentu saja ingin rasanya mengajak seseorang untuk menyaksikan ulang film Nyai ini untuk ketiga kalinya. Hei, apa kamu sudah baca surat saya tempo hari?

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

Tentang Penulis

Rachmat Hidayat Mustamin

Penyair dan film maker

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.