Locita

Hampir Jogjasentris Tahun Kedua Festival Film Merdeka (FFM)

Kenangan yang paling lekat musabab menghadiri penutupan Festival Film Merdeka (FFM) 2018 ialah absennya film-film karya sineas Solo dalam daftar putar. Sebagian besar film yang diputar di tahun kedua FFM justru datang dari Kota Yogyakarta. Dari sembilan jumlah film yang diputar di beberapa titik putar sasaran FFM, hanya tiga buah film yang diproduksi oleh sineas luar Yogyakarta. Ketiga film itu: Hit Love (2017) karya sineas Tangerang, Ibnu Rusd L; Amak (2017) karya sineas Padang, Ella Angel; dan JiDullah (2017) karya sineas Jember, Alif Septian Raksono. Ketiga film itulah yang menolong FFM tahun ini tak terjebak pada buai Yogyakarta sentris.

Sayup-sayup obrolan bersama beberapa teman ngrasani geliat Kota Yogyakarta muncul di pintu telinga. Tidak lama lagi Yogyakarta akan bertarung melawan Jakarta utamanya dalam dunia industri kreatif. Demikian kami berbuih-buih mengobral obrol di angkringan. Perkara film, kita sama-sama bisa melihat Yogyakarta terus tumbuh menjadi laboratorium film masyhur di Indonesia. Begitu kami meneruskan obrolan. Sampai secangkir kopi, es teh kampul dan aneka bakaran habis, kami lupa mengingat Solo dalam obrolan membahas film. Solo terlupakan.

Solo gagal basah oleh pujian berkait film. Berbeda dengan ratusan festival dengan sematan nasional atawa internasional yang terus menggoda minat wisatawan. Film barangkali dinilai tak cukup mumpuni diberi wadah berjuluk festival “legal” khas pemerintah kota. Oleh karenanya, sampai tahun kedua penyelenggaraannya, FFM belum masuk di kalender kegiatan tahunan ciptaan pemerintah kota.

Sejak mula, FFM yang pertama kali diadakan tahun 2017 nampak betul berambisi mulia menjadikan gelaran ini sebagai milik masyarakat di kantong-kantong kampung Kota Solo. Pelaksanaan FFM tahun lalu menghasilkan candu. Dalam selebaran, panitia menulis dengan tinta bahagia, “Berhasil merangkul enam kampung di lima kelurahan di Solo pada bulan Agustus yang penuh kemerdekaan untuk membaur bersama memutar dan menonton film…”

Tahun ini ada enam titik putar yang menjadi sasaran FFM. Titik-titik itu meliputi Rumah Baca Sangkrah, Pasar Kliwon, Rumah Baca Tumpi Boyolali, Kampung Ngasinan, Kampung Batik Laweyan, dan Pelataran Pasar Triwindu. Jika festival-festival yang sudah ada dominan diselenggarakan di pusat kota, FFM memungkirinya. Gelaran ini menghampiri sudut-sudut kampung seperti lapangan dan rumah baca. Model gelaran seperti inilah yang rasa-rasanya dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan juga geliat kampung yang bersangkutan. FFM merupa sumber mata air di tengah jengah menghadapi keseragaman beragam festival di Kota Solo yang bermotif politis-ekonomis.

Amak, The Unseen Words, Incang-inceng, dan Ruah bergantian ruang di layar putih di pelataran Pasar Triwindu Ngarsopuro Solo. Sutradara asal Padang, Ella Angel menceritakan nasib perempuan tua yang tak dapat mengelak dari kesendirian. Dalam tradisi Minangkabau, seorang perempuan seharusnya menjadi Bundo Kanduang yang tinggal di rumah untuk menjaga harta pusaka yang kelak diperuntukkan kepada turunannya. Tradisi Bundo Kanduang perlahan tetas oleh gegar zaman di mana anak-anak perempuan Minang kian berminat pergi merantau. Di rumah, amak menghalau sepi dengan album foto dan kenang-kenangan sebelum ia tinggal di rumah seorang diri.

Dalam The Unseen Words, kesepian para penyandang tunanetra lebur jadi semangat berkarya. Sanggar Distra Budaya Yogyakarta sepenuhnya beranggotakan para penyandang tunanetra. Di sanggar itulah, mereka terus berlatih melawan keterbatasan. Hal-hal yang umumnya dikerjakan orang-orang dalam kondisi fisik normal nyatanya bukan hambatan bagi mereka. Tekad dan kerja sama yang solid antar-anggota sanggar kendati tak selalu menghasilkan rupiah yang memadahi, nyatanya menyehatkan jiwa mereka.

Kerja sama yang solid juga menjadi nilai penting dalam Incang-inceng. Anak-anak berbeda kepribadian yang sama-sama minim teman akhirnya menjadi sebuah tim sepakbola antar-kampung dan berhasil sampai pada babak final. Kesolidan tim diuji ketika salah satu pemain gagal menendang bola ke gawang saat mendapat kesempatan pinalti. Sempat dicecar karena gagal mencetak gol, teman-teman satu timnya toh tak membiarkan si gagal ini dihadang tim lawan saat perjalanan pulang. Incang-inceng membawa narasi besar dengan kemasan sederhana. Bahwa sejak masa anak-anak pun usaha optimal tak selalu membuahkan hasil yang diharapkan. Sejak menjadi anak-anak rupanya manusia sudah banyak sekali belajar nilai-nilai hidup. Apa itu usaha, kerja sama, kekalahan, juga keberhasilan yang ujudnya senantiasa bayang-bayang.

Keberhasilan dalam film Ruah merupa cilaka. Haji Halim yang kaya harta bermaksud menikahi janda muda meski tanpa restu istrinya. Haji Halim berdalih pernikahan keduanya sebagai ibadah sosial. Padahal sejatinya lebih kepada pelampiasan nafsu jalangnya kepada perempuan. Setelah pernikahannya yang kedua, Haji Halim masih lirik sana-sini. Ruah ialah sikap sineas Makbul Mubarak menghadirkan fenomena yang demikian santer belakangan ini. Orang-orang yang telanjur dikenal masyarakat saleh ritual berambisi saleh sosial –menurut kaca mata pribadinya—melalui pernikahan-pernikahan lanjutan. Menikahi perempuan-perempuan yang katanya “butuh” pertolongan.

Haji Halim mewakili sosok-sosok dalam kehidupan kini yang saleh ritual tapi gagal saleh sosial menurut pandangan masyarakat. Ialah potret lelaki yang mengunggulkan maskulinitas dan abai pada femininitas. Ia menganggap perempuan sekadar sebagai pelayan dan pemuas hasrat kelelakiannya. Bukan sebagai pasangan hidup yang berhak dihargai suaranya. Sosok-sosok seperti Haji Halim ini jelas jauh dari sosok Nabiyullah Muhammad SAW.

Prof. Dr. H. Quraish Shihab, M.A dalam bukunya yang berjudul Perempuan (2018) menguraikan sebab-sebab rasul menikah lagi. Semua perempuan yang dinikahi Rasul sudah tidak muda lagi usianya, kecuali Aisyah ra. Di antara para perempuan yang tak lagi muda itu ialah perempuan-perempuan yang terancam keselamatan dan kesejahteraannya di masa perang. Yang perlu menjadi perhatian kita ialah Rasul baru berpoligami setelah sekian waktu Khadijah meninggal. Hidup Rasul bermonogami jauh lebih lama dibanding hidupnya saat berpoligami. Kepada Haji Halim dan lelaki-lelaki sejenis di dunia mutakhir, pertanyaan Abi Quraish dan para perempuan seperti saya kemudian ialah: Apakah benar kalian (para lelaki yang bertekad saleh sosial) benar-benar ingin meneladani Rasul dan pernikahannya? (Hlm. 187). Tsah! []

 

Rizka Nur Laily Muallifa

Pembaca tak khusyuk. Mengeja kata di Diskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, dan Bentara Muda Solo.

2 comments

Tentang Penulis

Rizka Nur Laily Muallifa

Pembaca tak khusyuk. Mengeja kata di Diskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, dan Bentara Muda Solo.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.