Locita

Yenny Wahid di Pilgub Jatim: Berkah atau Musibah?

SAYA bisa pastikan, lebih banyak pihak yang merasa lega dengan keputusan Mbak Yenny Wahid (YW) menolak halus permintaan Prabowo. Mantan Danjen Kopassus yang menurut Sintong Pandjaitan (2009: 14-16) pernah ngotot membawa senjata ketika hendak bertemu Presiden BJ Habibie Mei 1998 ini, menawari putri kedua Presiden Abdurrahman Wahid ikut meramaikan bursa Pemilihan Gubenur Jatim. Jika mau, YW akan diusung koalisi Gerindra, PAN dan PKS.

Pihak pertama yang lega saya kira adalah para elit pesantren: Kiai dan Bu Nyai serta NU Jawa Timur. Bagaimanapun juga, perseteruan dua raksasa politik elektoral Jatim selama 10 tahun terakhir ini, Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawangsa, rasanya sudah cukup membuat mereka terfragmentasi sedemikian rupa dengan berbagai kerikuhan.

Jika YW ikut turun di gelanggang kurusetra ini, betapa makin kikuknya kelompok sarungan tersebut. Perang bintang para alumni The Gus Dur School of Politic ini tak pelak akan semakin membuat Jatim lebih membara.

Meski membawa nama besar Gus Dur, dalam kalkulasi dukungan politik di arus bawah Nahdliyin, saya ragu YW bisa melampaui apa yang sudah dirawat oleh Ipul dan Khofifah. Bukan bermaksud meremehkan YW, namun kedua politisi ini nampak paling rajin merawat basis.

Seringkali mereka  melakukan, meminjam istilah Gus Ipul, “strategi komunikasi” di akar rumput. Komunikasi kepanjangan dari tekomuningasih yakni datang ke basis, berceramah , dan tidak lupa memberi bantuan.

Di sisi lain, politik elektoral juga kerap memposisikan para kandidat dalam suasana saling memojokkan dan saling jegal, demi mendulang suaranya. Agak ngeri saya membayangkan jika YW harus berada di tengah situasi penuh intrik yang kerap tidak berakhlakul karimah, termasuk di dalamnya potensi penggunaan politik uang.

Hah, anake Gus Dur ternyata main duit juga di Pilkada?”. Saya membayangkan statement itu akan muncul di obrolan warung kopi tempat saya nongkrong setiap pagi.

Bagaimanapun juga, menurut saya, Ciganjur sebagai pusat komando penyebaran gagasan Gus Dur, adalah sentrum di mana ratusan ribu orang terkoneksi satu dengan yang lain. Belajar tentang moralitas, nilai dan prinsip perjuangan Gus Dur.

Mereka bisa belajar langsung dari Ciganjur melalui pantulan kaca Benggala. Implementasi sosok Gus Dur melalui perilaku kelima perempuan di sana.

Kaca Benggala ini masih bersih dan konsisten. Itu sebabnya, meski Gus Dur telah mangkat delapan tahun lalu, keluarga ini masih menjadi Imam bagi jutaan orang.

Bahkan Ibu Sinta Nuriyah, mamanya YW, tercatat sebagai salah satu dari 11 perempuan paling berpengaruh yang dilansir harian The New York Times. Kelimanya cukup pantas disemati “The Heart of Nation”.

Dengan reputasi yang hampir tanpa cacat seperti ini, lawan-lawan politiknya akan segan untuk menyerang, termasuk Saifullah dan Khofifah. Namun politik elektoral bukanlah soal segan, namun lebih menyangkut siapa yang oleh KPU (atau Mahkamah Konstitusi) diputuskan sebagai pemenang.

Dalam konteks ini harus dikatakan, sangat mungkin YW sudah menghitung peluangnya dengan memilih salah satu dari dua hukum besi pertempuran, pokoe maju atau hanya akan maju jika di atas kertas menang.

Bertempur dengan bekas dua murid bapaknya tidak hanya akan mencederai reputasinya sebagai tokok pemersatu antar golongan, namun lebih jauh, YW juga akan menghadapi situasi kemenangan yang masih kabur.

Sebagai catatan kecil, dalam Pilgub Jawa Timur 2013 lalu, Gus Ipul dan Soekarwo masih unggul mutlak (47,25 persen) padahal dikeroyok PKB yang mengusung Khofifah (37,62 persen) dan Bambang DH dari PDIP (12,69 persen). Apalagi kini dua parpol raksasa Jawa Timur ini bersatu mengusung Gus Ipul.

Kegembiraan atas keputusan YW juga menyelimuti para penggiat lintas iman dan identitas. Mereka yang selama ini telah bekerja sangat serius menghalau praktek intoleransi bersyukur atas hal ini.

“Gus, punya kabar terbaru untuk Mbak Yenny Wahid aku dikabari terus ya, kalau Mbak Yenny maju kami semakin dalam kebingungan,” kata salah satu teman Pendeta di denominasi terbesar Jawa Timur melalui layanan pesan singkat.

Saya menangkap sinyal kekhawatiran ini sebagai lampu kuning ancaman turbulensi gerakan masyarakat sipil jika YW bersedia. Banyak dari mereka, bagaimanapun juga, cukup risau melihat rekam jejak calon partai politik pengusung YW.

Dugaan saya, mereka tengah khawatir YW tengah digotong dan diarak untuk kemudian dijerumuskan ke dalam jurang gelap politik kekuasaan, sebagaimana pernah terjadi pada bapaknya Presiden Abdurrahman Wahid.

Walhasil, kekhawatiran-khawatiran ini sirna sudah dengan keputusan YW untuk tidak terjun dalam medan kurusetra Pilgub Jawa Timur. Bagi saya dan banyak orang, ini adalah berkah. Namun bagi yang berniat jahat, tentu keputusan YW dianggap musibah.

Aan Anshori

Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), tengah nyantri di S2 Hukum Keluarga Islam Univ. Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang, twitter @aananshori

Add comment

Tentang Penulis

Aan Anshori

Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), tengah nyantri di S2 Hukum Keluarga Islam Univ. Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang, twitter @aananshori

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.