Esai

Waspada Video Call sebagai Bentuk Industri Kecemasan

KAPAN sebuah smartphone lepas dari genggaman kita? Mungkin hanya ketika sedang tertidur. Tak bisa dipungkiri kalau masa kini teknologi begitu akrab menemani hari-hari kita, melebihi siapa pun. Saat pagi, yang pertama kita lihat mungkin saja gawai kita. Saat sebelum makan, gawai mengacung ke arah makanan, bahkan sebelum tidur dering gawai mungkin tak dapat lepas dari kita.

Komunikasi antar manusia pun tak lagi dibentuk melalui perbincangan langsung tapi lewat sosial media. Kepercayaan antar manusia  pun terbangun melalui teknologi.

Hadirnya aplikasi sosial media seperti Whatsapp, Line, Facebook dan sejenisnya menunjukkan perkembangan teknologi ke arah yang positif. Namun perkembangan ini rupanya menggadaikan satu hal penting. Ruang-ruang interaksi sosial telah berpindah ke dalam dunia visual melalui aplikasi di gawai.

Sosial media telah ditunjang dengan berbagai fitur canggih seperti telpon video yang memungkinkan orang bertatap muka meskipun sedang berjarak. Tentunya sangat bermanfaat untuk mereka yang sedang menjalani hubungan jarak jauh (LDR).

Namun tanpa disadari teknologi secara samar telah mendikte masyarakat dalam membangun kepercayaan. Kepercayaan tidak lagi dibangun secara langsung. Tapi kepercayaan kini ditentukan oleh logika teknologi media.

Seseorang yang sedang LDR-an beranggapan sebuah SMS, chat ataupun telepon suara tidak cukup meyakinkan sehingga perlu telepon video. Dengan kata lain, teknologi telah mengubah budaya individu dalam berinteraksi, bahkan dalam membangun kepercayaan.

Sebuah kata tak lagi cukup dipercaya kebenarannya, harus berupa visual video. Manusia jadi mudah curiga, berprasangka buruk terhadap pasangan ketika hanya berbalas melalui pesan teks.

Teknologi media telah mendefenisikan ulang makna kepercayaan dan membuat orang menjadi mekanistik. Anak muda jaman now sudah kehilangan spontanitas dalam bertindak. Semuanya telah diatur oleh mekanisme teknologi. Media tentu berperan penting sebagai moda penyampai pesan teknologi.

Theodore Adorno dan Max Hokheimer menyebutkan bahwa segala presepsi kita tentang dunia adalah apa yang diinterpretasikan oleh media. Industri media telah mengambil peran untuk menginterpretasi bayangan kita tentang dunia.

Kita akhirnya tumbuh menjadi masyarakat yang paranoid. Individu-individu yang memediasikan kepercayaannya melalui teknologi. Orang tidak lagi akan percaya jika kita mengatakan sedang berada di suatu tempat tanpa mengirimkannya gambar atau video.

Cara-cara kita membangun komunikasi, kepercayaan bahkan keintiman telah ditutup oleh logika teknologi. Tanpa sadar para pengguna terasing dari kenyataan hidup bahkan kepercayaan itu sendiri menjadi sesuatu yang samar untuk didefinisikan.

Kita terjebak dalam angst alias ketakutan dan ketidakpercayaan. Seakan kebohongan akan senantiasa bersembunyi dibalik kata dan teks yang nampak di layar. Padahal layar tak selalu benar, bisa jadi itulah hiperrealitas yang dipaksakan menjadi realitas. Pada dasarnya itulah dunia maya, menciptakan permainan-permainan dalam simulakranya.

Telepon video bukan cuma berfungsi sebagai ruang tatap gambar jika sedang rindu, namun lebih dari itu menjadi alat kontrol. Bukannya meraih kebahagiaan setelah berkomunikasi melalui video malah membangun penjara kepercayaan yang diciptakan teknologi.

Herbert Marcuse mengatakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mestinya menciptakan kebahagiaan dan kebebasan buat manusia. Namun urung terwujud karena ilmu pengetahuan dan teknologi bukannya mengabdi pada manusia tapi malah memperbudaknya.

Maka jangan salah ketika teknologi video call ini menjadi medium untuk menyampaikan akhir hidup seseorang atau menjadi pertunjukkan panggung bunuh diri yang beberapa kali terjadi.

Smartphone yang semestinya mempermudah komunikasi rupanya secara tidak kita sadari telah menjadi alat kontrol. Fitur canggih seperti video call menjadi alat pembangun kepercayaan antar manusia.

Kita bisa melihat bagaimana kapitalisme sekali lagi berhasil memanfaatkan ‘kelemahan’ manusia yaitu kepercayaan. Mereka menciptakan sebuah masalah seakan-akan itu adalah masalah kita dengan slogan “no picture = hoax”.

Masyarakat kini secara tidak sadar terperangkap dalam kontrol teknologi. Dalam kehidupan sehari-hari kita menunjukkan diri sebagai individu yang bebas dan terbuka. Bisa memilih dan memilah sesuatu sesuai keinginan kita.

Namun setiap pilihan yang ada dipikiran kita telah ditentukan mengikuti sistem. Media dan tekonologi pun kemudian tidak lagi menciptakan keinginan akan sesuatu tapi keinginan atas keinginan itu sendiri.

Seyogyanya teknologi itu digunakan untuk mengabdi pada manusia, bukan menjajah manusia. Untuk melawan sistem ini, masyarakat harus memunculkan dimensi kedua dari dirinnya. Dimensi itu adalah sisi kritis atau negasi terhadap kenyataan yang terjadi. Sesuatu yang membutuhkan penafsiran ulang akan teknologi, apakah teknologi sebagai alat atau jangan-jangan dialah yang memperalat kita.

Proses penyadaran akan diri ini akan membawa masyarakat pada tahapan selanjutnya untuk melawan sistem. Melawan bukan berarti anti dan tidak menggunakan teknologi, tapi menggunakannya  secara bijak tanpa menghilangkan sisi kritis kita.

Khairil Anwar

khairil anwar

penulis pemula

Previous post

Bajo: Kisah di Balik Foto

Next post

Jonghyun, Duka Cita, dan Sisi Gelap K-Pop