Locita

Waspada! Setiap Perempuan Rawan Diperkosa

ilustrasi tindak kekerasan

Kita tak bisa lagi menutup mata bahwa kasus kekerasan seksual kian marak terjadi setiap harinya. Ada YY 14 tahun di Bengkulu yang diperkosa oleh 14 orang. Ada seorang anak belia berusia 8 tahun diperkosa ayah kandungnya di Ambon.

Ada EF korban pemerkosaan yang juga dibunuh pelaku dengan sangat keji, yakni memasukan cangkul pada vagina korban. Mereka adalah perempuan korban beberapa kasus kekerasan seksual yang  kita baca di media massa. Apa yang terjadi para korban.

Bisa jadi terjadi juga pada orang lain disekitar kita, baik itu adik, kakak, saudara, ataupun diri kita sendiri. Selama kasus kekerasan seksual terus menerus dianggap sesuatu yang wajar dan bukan kejahatan ataupun tindakan kriminal.

Sulit memahami bahwa kekerasaan seksual adalah salah satu kejahatan pada kemanusiaan dan tindak kriminal, selama kita masih terus saja mempersalahkan dan memperolok perempuan korban kekerasan seksual. Beberapa respon yang kerap hadir saat seseorang menjadi korban kekerasan seksual yang selain sangat misoginis.

Tentu saja tidak berpihak pada korban. Misalnya, “Lagian pake baju terbuka, itu sih minta dilecehkan!”, “Makanya perempuan muslim itu harus nutup aurat, biar gak diperkosa.” Bisa juga, “Pasti perempuannya yang agresif!”

Jika kita mencoba untuk lebih membuka mata lebar akan fakta dan data, kita bisa temukan bahwa pelaku kekerasan seksual–baik itu perkosaan maupun pelecehan seksual–tidak selalu menyasar perempuan dengan pakaian terbuka yang memperlihatkan bentuk tubuhnya.

Ada seorang anak balita yang diperkosa ayahnya, banyak perempuan berkerudung yang dilecehkan di jalan, bahkan ada seorang nenek yang diperkosa oleh cucunya sendiri. Lantas kenapa dan bagaimana sebenarnya kasus kekerasan seksual itu banyak terjadi perempuan?

Secara sederhana, Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mendefisnikan kekerasan seksual sebagai segala aktifitas seksual di luar kehendak kita bisa berupa sentuhan, pelukan, rabaan, ciuman, tontonan, atau obrolan yang membuat kita tidak nyaman, terpaksa atau dipaksa.

Adanya relasi kuasa yang tidak setara antara pelaku dan korban mengakibatkan tindakan kekerasan seksual tersebut terjadi. Warisan budaya patriarki yang mengakar dan seoalah mendarah daging pula mengakibatkan perempuan lebih banyak menjadi koban pada kasus kekerasan seksual, karena dianggap inferior dan layak mendapat kekerasan.

Maka dari pemahaman tersebut, bisa kita pahami bahwa kekerasan seksual bisa terjadi pada perempuan mana saja, tak peduli dia menggunakan hijab syar’i atau rok mini, tua ataupun muda, siang ataupun malam. Kapanpun bisa terjadi dengan pelaku yang bisa siapa saja, baik orang dekat ataupun orang asing.

Dokumen Lembar Fakta Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan Tahun 2017 menemukan bahwa jenis kekerasan dalam ranah personal kedua terbanyak adalah kekerasan seksual yakni sebanyak 34% (3.495 kasus).

Selain masyarakat yang kerap menyalahkan korban kembali (victim blaming), ini juga diperparah dengan belum adanya payung hukum yang bisa memfasilitasi para korban untuk mendapatkan keadilan. Berangkat dari semakin maraknya kasus kekerasan seksual, Komnas Perempuan bersama Forum Pengada Layanan menyusun Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual.

RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. RUU itu mengatur mengatur tindak pidana kekerasan seksual yang tidak seluruhnya diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Sehingga RUU Penghapusan Kekerasan Seksual adalah ketentuan khusus (lex specialist) dari KUHP.

Dalam RUU Penghapusan Kekerasan Seksual ini, ada 9 bentuk kekerasan seksual yang telah dirumuskan. Antara lain, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, pemaksaan kontrasepsi, pemaksaan aborsi, perkosaan, pemaksaan perkawinan, pemaksaan pelacuran, perbudakan seksual, dan pernyiksaan seksual.

Rumusan 9 bentuk kekerasan seksual ini, sebagai jawaban atas minimnya hukum kita dalam memotret bentuk-bentuk kasus kekerasan seksual yang kian marak terjadi. Dalam KUHP kasus kekerasan seksual hanya berbentuk perkosaan dan pencabulan, ditambah lagi dengan ketentuan yang juga sulit diterapkan.

Misalnya dalam kasus perkosaan dalam pasal 285 KUHP, disebutkan harus ada unsur ancaman sehingga sulit untuk membuktikan jika kasusnya terjadi dalam sebuah relasi yang tidak setara. Selain itu, definisi perkosaan yang di dalamnya harus terjadi penetrasi (masuknya penis ke dalam vagina) juga tidak bisa mengakomodir beragam bentuk kekerasan seksual yang muncul hari ini. Dengan sekelumit persoalan pelik yang hadir dalam kasus kekerasan seksual tadi, maka penting mulai hari ini untuk menggalang dukungan dan ikut andil #GerakBersama lawan kekerasan seksual.

***

Setiap tahunnya selama 16 hari dipelbagai belahan dunia para aktifis perempuan dan aktivis hak asasi manusia melakukan kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 Days of Activism Against Gender Violence). Kampanye ini pertama kali digagas oleh Women’s Global Leadership Institute tahun 1991 dan disponsori oleh Center for Women’s Global Leadership, untuk mendorong upaya-upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan diseluruh dunia.

Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) sebagai Lembaga Nasional Hak Asasi Manusia menggagas kampanye ini di Indonesia. Kampanye ini dilakukan selama 16 hari dari tanggal 25 November yang merupakan Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan hingga tanggal 10 Desember sebagai Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional.

Pada kampanye 16 Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (16 HAKTP) tahun 2017 ini, Indonesia bersama rekan-rekan aktivis perempuan dan hak asasi manusia meramaikan kampanye ini dengan satu tagar dan pesan yang sama yaitu, “#GerakBersama: Sahkan UU Penghapusan Kekerasan Seksual yang Berpihak Pada Korban

Ketika budaya kita yang masih belum peduli pada korban kasus kekerasan seksual, ketika sebagian orang masih terus melakukan victim blaming pada setiap korban, ketika hukum bahkan abai pada rumitnya kasus kekerasan seksual, akankah kita terus diam dan tak ambil bagian dari kampanye ini?

Jika kita belum mampu untuk bergerak, maka mari mulai dengan tidak melulu menyalahkan perempuan korban kekerasan seksual. Jika kita belum mampu banyak berbuat, maka mulailah dengan melihat fakta dan data, bahwa setiap harinya, setiap detik dan setiap jam, korban terus bertambah. Apakah kita masih akan diam?

 

Adis Puji Astuti

Berbuih bersama @Perutpuan - Meyakini bahwa durian adalah surga dunia kedua setelah orgasme.

Tentang Penulis

Adis Puji Astuti

Berbuih bersama @Perutpuan - Meyakini bahwa durian adalah surga dunia kedua setelah orgasme.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.