Esai

Wahai Umat Islam, Jangan Lupa Sejarah Kelam Kalian! Sebuah Dukungan untuk Andi Fadlan Irwan

Beberapa waktu lalu, seorang anak muda mencuit; Ada sebuah agama yang pernah membantai ratusan juta manusia selama ribuan tahun di seluruh dunia; islam.

Anak muda ini kemudian menjelaskan lebih lanjut: lebih tepatnya, orang-orang beragama Islam. Mereka bahkan membantai manusia lain, bangsa mereka sendiri, hingga hari ini.

Cuitan ini langsung dikecam dan si anak muda mendapatkan ancaman lewat dunia maya. Profilnya di dunia maya ditelusuri dan diekspose secara terbuka sehingga membahayakan dirinya.

Tidak cukup sampai di situ, keluarganya pun juga turut dikecam dan diancam. Akhirnya, dia kemudian meminta maaf atas cuitan ini tanpa sedikitpun kesempatan baginya untuk menjelaskan apa yang dimaksudkan dalam cuitan itu.

Pertanyaan yang mengemuka setelah membaca cuitan ini tentu adalah “Apakah itu benar?”.

Ya, mungkin ada diksi yang dianggap berlebihan dalam cuitan tersebut. Tapi jika kita ingin jujur melihat sejarah, bukankah ada kebenaran yang terkandung di dalamnya?

BACA JUGA : Persekusi Andi Fadlan Irwan, Kau Tidak Sendiri

Sepanjang sejarah Islam, sejak berdiri hingga sekarang, tak terhitung perang yang terjadi, baik mengatasnamakan agama maupun dengan tujuan politik. Perluasan wilayah kekuasaan politik yang dimulai pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, kemudian diteruskan oleh Bani Umayyah, Abbasiyah, Fathimiyyah, maupun Utsmaniyah tentu menelan korban yang tak sedikit.

Perang Salib berjilid-jilid di masa Abbasiyah, keterlibatan pada Perang Dunia I, dan juga perang saudara antar kekhalifahan maupun pemberontakan-pemberontakan yang terjadi juga pasti menelan korban. Belum lagi di era modern, serangan terror oleh Al-Qaeda dan ISIS tak juga membuka mata kita betapa banyaknya darah tertumpah dan jiwa tertumpas atas nama Islam.

Di Indonesia sendiri, penyebaran Islam juga tidak sepenuhnya dengan jalan damai sebagaimana yang selama ini diyakini. Runtuhnya Majapahit oleh serangan Demak dan terusirnya orang-orang yang setia pada Majapahit dari Jawa danperistiwa pemberantasan bid’ah Syekh Siti Jenar di awal penyebaran Islam sekiranya menjadi gambaran hal ini.

Pun terjadinya Perang Padri, runtuhnya Demak oleh Mataram, perang antara Banten dan Mataram, perang antara Gowa dan Bone, serta banyak lagi perang antar kerajaan Islam sendiri tentu banyak menelan korban. Jangan dilupakan pula pemberontakan DI/TII yang dikobarkan atas nama Islam dan “pemurnian agama Islam”, menelan banyak kelompok adat di daerah dimana pemberontakan terjadi.

Kita dapat saja berkilah bahwa perang yang terjadi bukanlah “pembantaian” sebagaimana tersurat dalam cuitan yang menjadi pembuka esai ini. Kita bisa bilang bahwa yang terjadi adalah perang, bahwa tujuan mereka berperang bukanlah untuk Islam sehingga tidak bisa dikatakan bahwa Islam menjadi alasan tumpahnya darah.

Atau mungkin kita akan bilang bahwa perang yang mereka lakukan adalah jihad sehingga tak layak diistilahkan pembantaian. Namun fakta bahwa darah telah tertumpah dan jiwa terampas juga tak boleh dinafikan.

Lalu mengapa kita tak mampu menerima fakta ini?

Lalu, isu PKI kemudian datang lagi menyeruak. Lagi-lagi, kita hanya mampu melihat bahwa PKI pernah melakukan kejahatan kepada para ulama dan santri. Namun kita tak mau melihat bahwa operasi penumpasan PKI pasca G30S juga menelan banyak korban lain yang bukan orang PKI sekalipun.

Terhadap peristiwa-peristiwa pembunuhan lainnya yang mengorbankan orang Islam sekalipun, kita juga menutup mata rapat-rapat. Peristiwa Talangsari, Peristiwa Tanjung Priuk, Operasi Petrus, juga peristiwa ninja di Jawa Timur, maupun penghilangan orang di ujung kekuasaan Orde Baru hanya menjadi butiran yang tersimpan di bawah karpet di sudut ruangan.

BACA JUGA: Hantu PKI, Perenggut Keceriaan September

Sesungguhnya, bertindak adil merupakan kewajiban setiap muslim. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan” (QS an-Nisa’ [4]: 135).

Termasuk dalam memandang sejarah, kita seharusnya mampu bersikap adil. Dan kita hanya akan mampu bersikap adil jika kita mengijinkan semua pihak untuk bersuara dan mengemukakan apa yang mereka ketahui tentang peristiwa-peristiwa masa lalu.

Namun yang terjadi adalah kita tak cukup berani untuk membuka kembali luka-luka bangsa dan ummat agar menjadi pelajaran bagi generasi muda. Jika ada anak muda yang mempertanyakan peristiwa-peristiwa kelam ini, kita ramai-ramai merisak, mengecam,mengancam dan bahkan menuduhnya dengan berbagai label; antek PKI, liberal, provokator, dan label-label lainnya.

Kita tidak mampu berbesar hati membuka lembaran masa lalu yang mungkin menyimpan kesalahan tapi juga bukan tak mungkin mengandung pelajaran besar tentang keberanian dan kesabaran menghadapi perbedaan.

Kita lupa bahwa kita hari ini adalah akumulasi dari masa lalu; ummat Islam hari ini adalah hasil perjalanan sejarah masa lalu, bangsa Indonesia hari ini adalah perjuangan panjang para pendahulu yang akan juga dilanjutkan oleh generasi masa depan kita. Menafikan sejarah – menjadi tuna-sejarah – merupakan warisan dosa yang akan menjadikan generasi muda kita kehilangan jati diri, dan bahkan memerosokkan mereka untuk mengulangi kesalahan yang sama lagi.

Padahal sebagai muslim, bukankah kita sangat kenal dengan konsep taubat? Doktrin taubat ini menjadi sangat penting karena menjadi pintu untuk menjaga harapan akan kasih sayang Tuhan yang tak pernah putus untuk hamba-hamba-Nya, bahkan yang berlumur dosa sekalipun.

Seperti diketahui, taubat mensyaratkan penyesalan atas perbuatan dosa yang telah dilakukan. Lalu bagaimana kita menyesal jika kita tak mau mengakui kesalahan-kesalahan masa lalu? Bagaimana mungkin kita bertaubat tanpa membuka luka sejarah?

Atau jangan-jangan, kita masih berencana untuk lagi menumpahkan darah dan menumpas jiwa atas nama Islam? Semoga saja tidak.

Nurhabibie Rifai Massuro

Nurhabibie Rifai Massuro

Penulis adalah Program Manager di ICRP (Indonesian Conference on Religion and Peace). Seorang pemikir bebas yang mencintai kopi dan memuja ilmu pengetahuan, penyuka gunung dan pantai.

Previous post

Selamat Ulang Tahun, Selamat Galau UU Desa

Next post

Operasi Penyelamatan Setya Novanto