EsaiFeatured

Wacana Islam di Indonesia yang Kurang Piknik

SETIAP kali saya membaca tulisan-tulisan lama Ahmad Wahib, Dawam Rahardjo, Nurcholish Madjid, atau tulisan-tulisan para pemikir HmI generasi awal lainnya, saya entah mengapa, kadang merasa sedih.

Bukan hanya karena gagasan-gagasan para tokoh HmI generasi dekade 60 dan 70-an itu mengingatkan kita pada semakin sulitnya menemukan kader-kader HmI yang mampu mencapai sekaligus menggantikan posisi mereka dalam kelindan khazanah pemikiran islam di Indonesia. Namun juga karena gagasan-gagasan yang mereka bawa, hingga hari ini, ternyata masih begitu relevan.

Setiap kali kita menyimak perdebatan, silang gagasan, dan tulisan para generasi awal HmI ini, kita dengan mudah bisa tahu bahwa perdebatan soal keislaman kita sejak tiga atau empat dekade terakhir masih di situ-situ saja. Dari berbagai tulisan mereka, kita bisa dengan mudah mengikuti perdebatan-perdebatan dalam pemikiran Islam di dekade 60-an.

Ahmad Wahib menulis soal Islam yang terbuka dan inklusif, Djohan Effendi banyak menulis, dan karenanya banyak dihujat orang, soal pluralisme, Dawam Rahardjo menulis tema kontekstualisasi Islam dengan tradisi dan problem keindonesiaan, sementara Nurcholish Madjid, bahkan lebih jauh lagi, secara terbuka mengangkat agenda sekularisasi Islam dengan slogannya yang terkenal dan banyak dihujat: “Islam yes, partai Islam no!”

Maka, jika setelah sekian puluh tahun berlalu, dan hari ini orang-orang masih menghujat Buya Syafii Maarif karena pendapat-pendapat beliau soal islam yang terbuka terhadap tafsir yang lebih progressif, masih mencaci-maki Quraish Shihab karena pembelaan-pembelaan beliau terhadap Syiah, di Facebook orang-orang masih sibuk berdebat soal boleh tidaknya seorang non-muslim menjadi gubernur.

Lalu dua organisasi islam besar seperti Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama bahkan sampai harus mengangkat tema “Islam Nusantara” dan “Islam Berkemajuan”, tema yang sesungguhnya sudah menjadi tema perdebatan pemikiran islam berpuluh-puluh tahun yang lalu, maka tentu kita patut bertanya-tanya, atau lebih tepatnya, bersedih. Ternyata, 40 tahun berlalu, dan diskursus pemikiran islam di negeri ini tak beranjak ke mana-mana.

Kita bisa menyebut banyak hal, yang bisa kita kambinghitamkan sebagai penyebab mandeknya diskursus keislaman di Indonesia selama berpuluh-puluh tahun terakhir. Mulai dari konflik Timur Tengah, represi Orde Baru terhadap ekspresi keberagamaan, yang menyebabkan diskusi keberagamaan menjadi hal yang langka lagi tabu, hingga persoalan lain yang jauh lebih struktural: kemiskinan dan kesenjangan ekonomi yang menjadikan banyak orang begitu mudah dibakar dan dimobilisasi.

Represi Orde Baru sekian lama terhadap ideologi islam memang efektif meredam konflik sektarian di masyarakat, meski di sana-sini kadang muncul letupan-letupan kecil. Tapi keajekan dan ketentraman yang dipaksakan seperti itu juga telah melahirkan toleransi yang semu; toleransi yang lahir bukan dari kemampuan masyarakat memahami dan menerima pluralitas, lahir karena ketakutan terhadap gangguan ketertiban.

Di sisi yang lainnya, kemiskinan, kesenjangan ekonomi, dan akses masyarakat yang rendah terhadap pendidikan menjadikan masyarakat begitu mudah diprovokasi dan dibawa ke pemahaman islam yang dangkal.

Tapi terus-menerus menyalahkan konflik kawasan, kemiskinan, juga rezim yang telah tumbang dua dasawarsa itu atas apa yang terjadi hari ini rasa-rasanya tak akan membawa kita ke mana-mana. Di titik ini, mesti anak-anak muda HmI sendiri yang berani tampil dan menawarkan agenda pencerahan pemikirannya sendiri. Anak-anak muda HmI harus keluar dari tempurung organisasi besar dengan segala rutinitasnya yang itu-itu saja

Mengapa peran generasi HmI menjadi penting? Bukan karena sekedar alasan sejarah yang nostalgik, bahwa generasi HmI dalam sejarahnya, menjadi wadah candradimuka pembaharuan pemikiran islam di zamannya, juga bukan karena secara luas HmI ada di kampus-kampus, dan mampu menjangkau mahasiswa-mahasiswa dan pemuda di hampir semua kota di Indonesia.

Tapi karena lebih dari itu, dalam batas-batas tertentu, di HmI lah, kemajemukan merupakan sebuah pengalaman yang nyata.

Meski dalam sejarahnya, HmI dekat dengan partai Masyumi, namun kita juga tak bisa menyangkal bahwa di HmI lah; berbagai tokoh dengan berbagai macam jenis pemikiran bisa lahir dan tumbuh; dari Abu Bakar Baasyir pendiri Jamaah Islamiyah yang militan itu, Nurcholish Madjid yang (dianggap) sekuler, hingga terakhir, Coen Husain Pontoh, pentolan PRD yang (dianggap) kiri itu.

Di HmI lah, Islam tak diajarkan dalam sebuah format tafsir yang resmi tapi sebagai forum diskusi yang setara, di HmI-lah segala macam corak pemikiran dan mazhab islam bertumbuh, diperdebatkan secara terbuka, dibahas di berbagai forum diskusi dan tanpa pernah sedikitpun dijadikan tabu. Di Hmi-lah Sunni dengan berbagai mazhabnya, Syiah dengan berbagai variannya, hingga tasawuf dengan berbagai alirannya bisa  berjumpa tanpa pernah saling membenci. HmI adalah minatur islam indonesia yang majemuk!

Memang, di umurnya, yang hampir dekade ketujuh, banyak orang yang bilang era HmI telah usai. Bersaing dengan organisasi keagamaan lain yang menawarkan Islam yang lebih radikal dan konservatif, HmI sudah kalah. Juga, menghadapi penyakit-penyakit penuaan dalam tubuhnya sendiri, HmI seperti kewalahan.

Bukannya tampil keluar menawarkan paradigma keummatan dan kebangsaan yang lebih segar; HmI justru di banyak kesempatan tampil seperti orang tua yang gemuk dan penyakitan: demonstrasi yang ricuh di sana-sini, keributan tiap kali menyelenggarakan kongres, juga kader-kader yang semakin kehilangan kualitas.

Tapi, bisa jadi, justru di sanlah HmI jadi punya keunggulan sendiri: HmI yang telah tua, melewati berbagai perdebatan dan polemik di segala zaman, melewati masa pasang dan surut, dan yang paling penting. HmI punya pengalaman mengorganisir perbedaan menjadi sesuatu yang lebih produktif.

Keanekaragaman di HmI harus mampu dikapitalisasi oleh anak-anak muda HmI sendiri, dari sekedar pengalaman akan keberbedaan menjadi sebuah gerakan yang emansipatoris; atau meminjam bahasa anak-anak HmI sendiri, dari sekedar potensi menjadi aktual.

Karena hal itulah, saya percaya HmI belum selesai. Juga dengan segala tanggung jawab sejarahnya. meski di sana-sini juga ditumbuhi borok, tapi sebagai miniatur islam Indonesia yang majemuk,  di HmI lah kita bisa berharap akan lahirnya praktik gerakan Islam yang kita sebut sebagai rahmatan lil alamin, yaitu islam yang terbuka, humanis dan emansipatoris.

Kita tentu saja tak mau menghabiskan waktu berdebat soal yang itu-itu terus bukan? Orang-orang sudah berpikir bagaimana mengobati penyakit kanker sejak dari dalam DNA, sementara kita masih sibuk berdebat soal boleh tidaknya mengucapkan selamat natal.

Beberapa tahun lagi, orang sudah bisa hidup bertetangga di Mars, sementara kita di sini masih sibuk meributkan tetangga kita yang beda mazhab. Jika masih begitu-begitu juga perdebatan kita, sungguh betapa kasihannya masa depan anak cucu kita nanti.

Iswanto Uncisferov

Iswanto Uncisferov

Koordinator divisi isu dan analisis kebijakan Lembaga Kajian dan Konsultasi Pembangunan Kesehatan (LK2PK).

Previous post

Menjadi Manusia dengan Sastra

Next post

Siasat Jokowi Menangkan Semua Pilkada