Locita

Wabah Corona: Ketika Mereka Mensyukuri Penderitaan Orang Lain

ilustrasi (foto : IDNTimes)

Seorang mahasiswi sedang berbincang dengan seorang temannya. Mereka sedang membincangkan virus Corona yang sedang melanda Wuhan di Cina. Saya melintas dan sekilas menangkap topik pembahasaannya. Akhir-akhir ini saya memang sedang mendapati pembahasan musibah dalam berbagai bentuk. Saya belum pernah mengomentarinya selain berharap bahwa semoga wabah ini segera teratasi.

Namun, saya tiba-tiba harus berhenti dan menanggapi respon mahasiswi itu. Kalau saya perhatikan, ia adalah mahasiswi yang belum lama aktif mengikuti pengajian dan mungkin bisa dimasukkan ke dalam kelompok ‘hijrah’. Saya bisa mengatakan begitu sebab saya memang mengenalnya. Dalam banyak hal saya tidak menyetujui pendapatnya yang sering menyalahkan atau mengkafirkan begitu saja. Saya tidak menanggapinya sepanjang tidak mengganggu saya. Hingga akhirnya hari itu ketika ia berkata

“Virus Corona di Wuhan itu adalah azab dari Allah.” Katanya dengan sedikit suara tertawa seperti sedang membaaskan dendam.
Kata-katanya ini mengganggu saya dan saya bertanya balik
“Bagaimana jika di antara korban ada juga yang muslim?”

Sepertinya ia tidak menduga akan saya tanggapi dan apalagi mendapati pertanyaan sekaligus pernyataan seperti ini. Barangkali sama seperti ustaz-ustaz pengajiannya yang bersifat tertutup, dogmatis, dan satu arah. Model pengajian seperti ini hanya membenarkan pandangannya dan tertutup pada pendapat yang berbeda atau di luar dari kelompoknya. Setelah sejenak terperangah, ia mencoba menjawab.

“Oh kalau muslim itu sebagai cobaan. Itu kan kalau kita sakit bagi muslim bahkan kalau pun cuma demam, itu malah bisa menggugurkan dosa.”

Saya tidak menanggapi. Malas. Tidak relevan dengan pertanyaan saya. Ngawur. Saya kira ada yang perlu ditinjau dengan cara berpikirnya. Sebenarnya saya tidak berharap seorang mahasiswi sepertinya, yang sebenarnya sudah sarjana jika tidak berhenti kuliah lalu lanjut kuliah di jurusan dan kampus serta kota yang berbeda, saya tidak berharap ia berpikir seperti itu.

Jadi bagaimana jika di antara para korban itu juga terdapat muslim? Dan memang itulah yang terjadi. Ada beberapa orang Indonesia sebagai mahasiswa yang tinggal di sana dan dibuat sedih oleh komentar beberapa orang Indonesia yang suka sekali menghakimi. Jauh lebih suka menghakimi daripada Allah sendiri.

Entah mengapa sebagian dari kita, bahkan beberapa di antaranya menganggap dirinya religius, justru ‘senang’ dengan musibah yang dialami orang lain. Bentuk ‘kesenangan’ itu diekspresikan dalam bentuk kata-kata seperti azab dari Allah dan seterusnya. Kejadian di Wuhan hanyalah satu contoh. Satu contoh lainnya seperti ketika terjadi kebakaran di California, Amerika Serikat (AS). Saya masih di AS kala itu dan mendapati beberapa komen menyakitkan. Mereka menganggap bahwa kebakaran hebat tersebut adalah sebagai bentuk hukuman terhadap Trump dan orang-orang Amerika.

Padahal bagaimana jika saya yang muslim dan muslim lainnya adalah juga korban. Saya belum menyebut binatang yang hangus terbakar terpanggang karena kebakaran itu. Mereka juga adalah makhluk Allah yang tidak tahu menahu dengan azab.

Padahal ketika musibah terjadi di Indonesia saya belum pernah mendengar orang-orang Cina dan Amrik meledek orang-orang Indonesia sebagai bentuk hukuman. Ketika gempa bumi, tsunami, dan longsor menelan korban jiwa yang tidak sedikit, yang saya dapati adalah ucapan turut berduka dan berbela sungkawa. Beberapa teman mengirim pesan khusus termasuk teman saya dari Cina. Para profesor saya menyampaikan turut prihatin dan menanyakan kabar keluarga saya sebelum kelas dimulai.

Bahkan ketika bencana tsunami Aceh terjadi, warga Amerika Serikat berbondong-bondong mengumpulkan sumbangan dalam jumlah tidak sedikit untuk para korban. Sumbangan itu memang tidak diekspose. Kan tujuannya memang bukan itu. Lah kita menyumbang saja tidak, menyumpahi iya.

Anehnya, ketika virus MERS dari Arab Saudi yang menyebabkan kematian hingga 850 korban jiwa justru tidak terdengar sebagai azab. Mengapa mereka tidak menyebut azab jika terjadi di Arab dan mengapa menyebut azab ketika terjadi di Cina atau negara-negara yang disebutnya kafir dan kebetulan punya konflik dengan orang-orang Islam? Jawabnya karena kebencian. Kebencian yang membabi buta.

Kebencian ini akan menjelma menjadi kesombongan. Mereka malah senang melihat penderitaan orang lain padahal tanpa sadar di antara mereka itu adalah saudara-saudara muslim sendiri. Padahal, musibah seperti itu bisa menimpa siapa saja, termasuk umat Islam. Dan sungguh Allah kuasa menimpakan hal serupa pada kita semua.

Pada akhirnya, benar bahwa virus Corona itu adalah satu jenis penyakit yang bersifat biologis tetapi memiliki sifat kesombongan dan kebencian yang berlebihan adalah bentuk penyakit jiwa yang justru jauh lebih berbahaya.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.