Locita

Vero-Ahok Berkacalah pada Pasangan Muslim di Thailand Selatan Ini

Veronica Tan dan Ahok, serta Romlah dan Anwar (Sumber: BBC Indonesia dan Liputan 6)

SEKITAR Mei, setelah Ahok masuk bui karena kasus penghinaan terhadap agama, seorang perawat berujar kepada saya.

“Dok, itu Veronica Tan-Ahok, keren banget. Tegar banget,” ujarnya sembari matanya memandang layar televisi yang menayangkan Vero membaca surat Ahok saat berada di dalamRutan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok. Di situ, tampak ketegaran seorang perempuan.

Perawat saya–yang muslim itu–kemudian terhanyut dalam kisah romantisme. Dia kemudian mengutarakan.

“Mau deh jadi pasangan seperti Ahok dan Veronica Tan.” Matanya kemudian melirik kepada saya. Namun saya hanya senyum-senyum. Penasaran, saya kemudian menelusuri kisah Vero-Ahok.

Kalau melihat kisah cinta Veronica Tan, saya terbuai dengan ayunan cerita Yusran Darmawan. Bagaimana romantisme dibangun dalam permasalahan dan badai dalam bahtera rumah tangga.

Memang perpisahan tidak selalu mudah untuk diarungi, apalagi bagi seorang istri yang harus mendampingi salah satu public enemy di Indonesia. Ahok, ya Ahok, yang dianggap sebagai penista agama.

Namun, ketegaran seorang Veronica Tan kemudian berbalik arah di atas sepucuk surat lainnya. Beberapa waktu ini beredar surat gugatan cerai Ahok kepada Vero–semoga bukan karena pelakor.

Pernikahan memang adalah hal yang kompleks–terlebih orang yang sok tau,¬†jleb!–dan rumit untuk diurai. Saking rumitnya dan privasinya, soal kisruh keluarga memang adalah perihal pribadi dan tidak perlu diumbar ke publik. Dan mungkin kita tidak mengetahui apa saja yang terjadi dalam rumah bernama keluarga itu.

Tapi publik tetaplah publik yang selalu melihat secara superfisial dan luarnya saja. Melihat posisi Ahok, sebagai salah seorang pahlawan bagi kelompok-kelompok lainnya, tentu ini bisa menjadi pukulan telak kepada sosok Ahok yang sudah dimitoskan sebagai pahlawan. Ini bisa berlanjut ke serangan-serangan lainnya kepada mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Tahulah, netizen itu kepo anaknya.

Melihat kasus Ahok-Vero saya teringat pasangan Romlah Saeyae dan Muhammad Anwar bin Ismael Hajiteh. Keduanya terkait kisah ketegaran cinta berlatar polemik sosial-masyarakat–dalam hal ini bisa juga disebut politik. Muhammad Anwar adalah seorang wartawan sekaligus aktivis.

Dia adalah seorang pemuda yang dihukum 12 tahun penjara oleh Pemerintah Kerajaan Thailand. Ia dituduh anggota kelompok pejuang revolusi kemerdekaan Patani, sebuah daerah di Thailand Selatan yang ditinggali oleh masyarakat yang mayoritas Muslim.

Tahun 2007, Anwar divonis 12 tahun namun menyatakan banding. Tahun 2013, baru Anwar masuk penjara. Pasangan yang menikah di tahun 2010 ini, kemudian terpisah oleh jeruji dan tembok dingin penjara.

Perpisahan Romlah Saeyae dengan pasangannya, nyatanya tidak menyurutkan cintanya. Selama kurun waktu 2013-2017, tulisan Romlah yang terunggah di Facebook pribadinya  menunjukkan dukungan kepada suaminya.

Unggahan Romlah dan kunjungannya ke penjara didokumentasikan oleh pengguna media sosial, Hara Shintaro, dalam ‘Kisah cinta menembus dinding penjara’.

“Tiap hari (unggahan di Facebook) dicetak dan dibawa ke penjara. Masa sebelum masuk penjara, dia tak pernah menyatakan kasih sayang, Tapi (saat saya di penjara) semua yang ada di hati dia diungkapkan. Senyum di muka dan senyum di hati,” kata Anwar kepada wartawan¬†BBC Indonesia yang mewawancarainya.

Dukungan juga mengalir dari para wartawan dan aktivis kemanusiaan dengan tagar melalui media sosial “Free Anwar” (bebaskan Anwar) dan mengumpulkan para pendukung untuk mendapatkan pengampunan dari raja.

Dan berbuah manis pada tahun lalu (sekitar Januari 2017), Anwar mendapat amnesti dan bebas dari bui. Dalam sebuah foto terlihat bagaimana kelegaan hati mereka berdua. Anwar terlihat mencium kening sang Istri yang berada dalam pelukannya.

Vero-Ahok mungkin masih jauh dari Romlah-Anwar. Romlah-Anwar melewati masa nelangsa itu selama empat tahun, sedangkan Ahok belum mencapai setahun dibui, sudah ditengarai isu tidak sedap.

Membandingkan Vero-Ahok dan Romlah-Anwar memang rasanya, apa di? Mungkin tidak apple-to-apple atau seimbang lah, wajarlah saya cuma pengamat dari luar saja. Namun yang perlu disadari oleh pasangan Vero-Ahok bahwa mereka sama dengan Romlah-Anwar. Icon bagi beberapa kelompok perjuangan yang kini berada dalam badai dan ditengarai kisruh identitas.

Kini surat itu benar adanya, selain dari fanboy pasangan ini, tentu banyak juga yang kecewa. Selama masih proses ini mungkin masih ada jalan. Nyatanya, Beberapa tokoh berusaha menghindari perceraian, karena hal itu bisa merugikan mereka.

Sebut saja sebagaimanapun borok dan toksiknya hubungan Hillary-Bill Clinton, mereka tetap tidak bercerai karena mereka tahu itu bisa merugikan mereka secara politik, atau mungkin lewat sebab muhasab lainnya.

Tapi ya sudahlah, Ahok dan Vero adalah Ahok dan Vero. Mereka bukan Romlah-Anwar ataupun Hillary-Bill Clinton. Hubungan rumah tangga adalah adalah ranah privat. Mungkin hanya mereka lah yang tahu dan bisa menyelesaikan dengan pelbagai metode dan caranya.

Apakah perceraian wujud permusuhan atau tidak saling cinta? Ah, tidak juga. Saya kira banyak pasangan yang harus bercerai, namun bukan berarti tidak saling cinta.

Sisanya seperti saya yang di luar ini hanya bisa berkomentar dan berkomat-kami panjang lebar, tanpa jelas memahami ujung perkara. Lagi-lagi ini soal bagaimana sebuah pasangan melihat bagaimana hubungan suami-istri itu. Sekalipun saya tahu, itu bakal sangat mengecewakan perawat saya.

Baik-baiklah Vero-Ahok, putusanlah yang terbaik adalah dari kalian, apapun itu. Oh iya, kalau bisa tolong juga selipkan juga sebuah doa untuk saya. Doakan agar saya agar cepat menikah.

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Add comment

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.