Esai

Untaian Cinta: Dari Ibnu Hazm, Rumi, Tagore hingga WS Rendra

Sebelum tidur saya teringat suatu kalimat yang pernah dibaca. Katanya ketika jatuh cinta setiap orang akan menjadi penyair. Sayapun lupa di tulisan mana itu didapatkan. Kalau tidak salah adanya di roman Mottinggo Busye, Perempuan Paris. Setelah saya baca lagi, tidak ada di sana. Mottinggo Busye dengan kedalaman makna hanya berkata cinta tidak mengenal benci.

Bait-bait rasa terujar dalam syair, puisi, sajak dan karya sejenis lainnya. Untaian kata itu merupakan puncak dari sebuah bahasa. Karena itu Hamza Yusuf Hanson dalam sebuah kuliahnya mengatakan, ciri-ciri penguasaan bahasa seseorang terletak pada kemampuannya menguasai lirihan sastrawi. Memahami puisi dan syair tidak hanya mengenai susunan gramatikal saja. Ada lapisan makna dalam setiap kata yang mengekspresikan rasa.

Uniknya, di setiap zaman ada saja orang yang berkarya dalam bidang khusus itu. Bahkan seorang ulama bermazhab Zahiri dari Spanyol (Andalusia) abad ke-11 bernama Ibnu Hazm Al Andalusi mengkhususkan sebuah karya dalam bidang ini. Judulnya Thauqul Hamamah, banyak versi terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Salah satunya bertitel Sabda Cinta Dari Andalusia.

Karyanya itu beliau bagi ke dalam beberapa segmen. Di antaranya ada syair ketika orang sedang jatuh cinta. Dibagian lain ada bait ketika berpisah dari kekasih. Namun, terngiang-ngiang ketika beliau berkata, cinta tidak mengenal sebab, karena ketika sebab hilang, maka hilanglah cinta.

Bergeser ke belahan dunia lain kita mendapati Jalaluddin Rumi yang makamnya di Turki. Rumi sang Pecinta, begitu orang mengenalnya. Karyanya Masnawi, dinikmati orang baik di timur mapun di barat. Misalnya saja Whienfield yang sengaja membuat ringkasannya supaya lebih mudah dibaca. Rumi berkata, inilah api cinta yang membunyikan seruling, raginya menjadikan anggur memabukkan.

Anggur cinta yang disampaikan Rumi mengingatkan saya pada Umar Khayyam. Ulama masyhur ini berasal dari Persia. Umar Khayyam sezaman dengan Al Ghazali. Keduanya pernah sama-sama berguru dengan Imam Al Haramain Al Juwaini. Umar, yang juga ahli matematika, terkenal dengan mutiara rasanya yang terkumpul dalam Ruba’iyat.

Berikut ini di antara untaian kata Umar Khayyam,

Duhai cinta, sebelum ajal menjemput ke tempat tidur kita

Minumlah anggur, anggur merah, semerah mawar

Tubuh kita bukanlah emas

Ketika berharap manusia akan menggali, apabila kita mati

Dari Umar Khayyam kita beralih ke William Shakespeare. Seorang British yang dikenal dengan drama tragedi nan teruk seperti kisah Romeo dan Juliet. Meskipun begitu dia tidak lupa menyisipkan ungkapan romantis yang membuat mabuk lawan jenis. Perhatikan ketika Romeo merayu Juliet dalam sebuah adegan. Romeo berkata “Cahaya apakah nun jauh disana yang memecahkan jendela? Itulah Timur dan Juliet adalah Mataharinya. Bangunlah cahaya yang cerah dan bunuhlah bulan sang pengiri”.

Dari British kita berjalan ke India, sebuah negara yang pernah menjadi koloni negara Anglo Saxon itu. Tersebutlah Rabindranath Tagore sebagai penyair terkenal. Tahun 1913 karena karyanya yang cemerlang, dia anugerahi Nobel Sastra. Karyanya yang paling populer adalah Gitanjali. Didalamnya, dia berbicara mengenai berbagai hal seperti musik kehidupan, bunga, dan orang bodoh.

Adapun mengenai kemurnian, simaklah apa yang dikatakan Tagore:

Aku akan senantiasa mendorong semua keburukan dari hatiku

Dan kujaga cintaku dalam bunga

(Sebab aku) mengetahui bahwa engkau mempunyai kedudukan

Dalam relung terdalam jiwaku

Begitu memukaunya penyair kelas dunia, nyaris lupa uapan air rasa dalam cawan cinta negeri sendiri. Siapa yang tidak kenal Chairil Anwar? Usianya begitu pendek, namun karyanya tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Sebagian orang barangkali terngiang puisinya Aku atau Antara Karawang dan Bekasi. Sebagai manusia Chairil Anwar juga menuliskan cinta dalam bait-baitnya.

Di bawah ini sebuah perenggan dari Sajak Putih karyanya (sumber: sastrabanget.com):

Bersandar pada tari warna pelangi

Kau depanku bertudung sutra senja

Di hitam matamu kembang mawar dan melati

Harum rambutmu mengalun bergelut senda

Selanjutnya ada Amir Hamzah. Sastrawan cengkok melayu ini juga berusia pendek. Para penikmat sastra klasik Indonesia akan menemukan namanya di daftar nama-nama populer pada zamannya. Pun, hingga saat ini masih bertebaran karyanya ketika seseorang berselancar di dunia maya.

Sebuah kutipan dari karyanya Terbuka Bunga (sumber: jendelasastra.com).

Bunga sunting hatiku,

Dalam masa mengembara, menanda dikau

Kekasihku, inikah bunga sejati yang tiadakan layu?

Dalam alunan dramatis Amir Hamzah mari kita ingat Taufiq Ismail. Seorang penyair produktif yang masih hidup hingga hari ini. Puisinya mempunyai banyak kategori, mulai dari ideologi, perjuangan, keluarga dan tentu tidak lupa pula cinta. Puisinya yang berjudul Aku cukup melankolis, sebagaimana kutipannya di bawah ini (sumber: duniapuisi.com):

Aku akan tersenyum ketika kamu tersenyum

Merasakan semua rasa sakit yang kamu rasa

Jika kamu menangis

Aku akan menangis denganmu

Sebagai penikmat sastra, tentunya saya takkan lupa mencantumkan penyair legendaris WS Rendra.  Dia tidak henti-hentinya menyuarakan riak gelombang hatinya. Suara jiwanya berisikan kemiskinan, spionase, mahasiswa dan topik air kehidupan, cinta. Meskipun telah meninggal beberapa tahun yang lalu, namanya akan selalu dikenang dalam sejarah. Salah satu karyanya adalah Surat Cinta. Berikut penggalannya (sumber: sastrabanget.com).

Wahai Dik Narti,

Kupinang kau menjadi isteriku

Kaki-kaki hujan yang runcing

Menyentuhkan ujungnya di bumi

Kaki-kaki cinta yang tegas

Bagai logam gemerlapan

Tentunya masih banyak nama di deretan penyair dunia maupun Indonesia. Sebutlah Homer, Hafedz, Oscar Wilde, Sapardi Joko Damono, Adri Sandra dan seterusnya. Mereka semua adalah orang yang berjasa dalam melunakkan hati manusia di kala akal semakin tegang dalam menyibak fenomena. Bermain di wilayah hati, apalagi cinta mereka membuat kita asyik masyuk dan tenggelam dalam lautan rasa.

Walaupun amat jauh dari kualitas para penyandang nama besar di atas, sayapun hendak menutup dengan bait rasa pula:

Dalam bayang kelabu haru biru

Jiwaku memberontak berteriak serak

Suaranya menggelegar

Bertanya besar, di mana belahan diriku?

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Papua Tak Hanya Soal Freeport

Next post

Dua Sisi UU ITE