Locita

Tutorial Menjadi Pengangguran Berfaedah Catatan untuk kaum rebahan nan santuy...tapi butuh modal juga lho...

Happy young woman reads book and drinks coffee in bed in morning

Apa yang kalian pikirkan jika mendengar kata “pengangguran”? Secara umum pasti tidak jauh-jauh dari asumsi negatif, bahkan oleh seorang tokoh Standup Comedy, Coki Pardede dan Tretan Muslim yang menjadi bagian dari Majelis Lucu Indonesia (MLI), orang-orang yang menganggur itu disamakan dengan kayu mati, atau mereka sebut deadwood.

Namun, pertanyaannya ‘apakah semua pengangguran harus setidak bermanfaat itu?’ Saya rasa tidak juga. Mari saya terangkan secara detail dan singkat, sesingkat hubungan kalian dengan para mantan.

Secara umum, kata pengangguran mengandung makna negatif, karena memiliki makna orang yang tidak memiliki pekerjaan (produktif) yang tetap, atau bahkan tidak bekerja sama sekali. Ada beberapa faktor yang bisa menjadi penyebab dari seseorang itu menganggur, diantaranya karena tingkat kegengsian seseorang untuk bekerja yang konon disebut ‘rendahan’ oleh sebagian para sarjana.

Selain itu, bisa jadi karena mereka tidak memiliki skill yang laik diterima di suatu pekerjaan, bisa pula karena memiliki nasib yang kurang beruntung dan lain sebagainya. Dan yang terakhir, orang yang menganggur itu karena males aja yang mau ngapa-ngapain dan lebih memilih rebahan di rumah daripada wara-wiri kesana-kemari gak jelas.

Kebetulan saya menjadi bagian dari orang yang menganggur itu sekarang. Dulunya sih saya aktif di sebagai orang yang suka berburu berita, hanya saja karena harus mengalami ‘tekanan’ untuk ‘bermain’ dengan narasumber, saya memilih resign dari pekerjaan tersebut. Alasannya, saya tidak mau mengada-ada tapi itu bertentangan dengan nurani.

Saya bukan orang yang punya prinsip anti kemapanan, tapi males aja misalkan harus punya cukup uang dengan cara-cara yang seperti itu. Setelah resign itu pernah mengecap yang namanya menjadi driver ojek online alias Ojol. Karena berbagai alasan, dan salah satunya adalah untuk mendapatkan hasil yang cukup harus bekerja lebih dari sembilan jam perhari, saya istirahat dan mungkin berhenti juga sih nantinya.

Setelah tidak bekerja selama beberapa minggu, saya berpikir bagaimana caranya untuk menjadi seorang yang menganggur tapi bisa memiliki manfaat, dan kalau perlu bisa mendapat bonus penghasilan. Berbekal dari pengalaman menjadi buruh tulis dari beberapa media selama bertahun-tahun, saya browsing kira-kira apa yang bisa dilakukan.

Lalu munculah ide untuk menjadi penulis lepas, yang bisa saja dikerjakan kapan dan dimana saja semau saya. Banyak media-media besar yang membuka Rubrik semacam artikel, opini, esai, cerpen dan lain sebagainya untuk orang yang memiliki skill menulis.

Langkah selanjutnya, saya mulai memilah dan memilih media mana yang sekiranya bisa menerima tulisan saya yang gak seberapa itu. Awalnya ketemu dengan nama-nama besar macam Jawa Pos, Media Indonesia, Tempo dan kawan-kawannya itu, tapi dengan sangat sadar saya tahu bahwa ‘selera’ media-media sebesar itu tulisan yang kelas berat.

Dibutuhkan bahasa yang sangat rumit yang biasanya dikerjakan Cendekiawan-cendekiawan serius yang tidak santuy. Berangkat dari situ, saya ketemulah dengan beberapa platform media yang bisa menerima tulisan para Cendekiawan santuy untuk tulisan yang santai tapi serius.

Ada banyak media yang mau menerima tulisan macam itu, semisal Locita.co, Mojok.co, Voxpop.id dan lain sebagainya, tapi bukan berarti media-media macam ini sembarangan menerima tulisan sampah, lo. Kenapa saya katakan belum tentu mau menerima tulisan santuy macam ini, jelas karena menulis sesuatu yang serius dengan bahasa santai bukan perkara mudah. Belum tentu bisa dilakukan oleh seorang Profesor sekalipun yang kerjaannya sulit tertawa. Apalagi Profesor yang tidak mau turun mendengar keluh-kesah dari generasi rebahan dan memilih dengan gaya kakunya, jelas gak cocok, blas.

Karena dirasa cocok dengan visi saya, mulailah saya mengeksplorasi pikiran dalam bentuk tulisan. Ada beberapa naskah yang dikirim ke beberapa media, dari situ saya mulai berpikir dan yakin bahwa menulis sesuatu yang serius dengan cara santai benar-benar tidak mudah. Butuh skill yang mumpuni, karena kalaupun tulisan santai begini merupakan bagian dari karya ilmiah maka dibutuhkan yang namanya pengetahuan ilmiah yang banyak, dan modal literasi yang kuat. Literasi jelas gak jauh-jauh dari yang namanya bacaan, mulai dari buku, berita atau informasi lainnya yang bisa jadi tidak berbentuk tulisan. Sebab sesantai apapun agar bisa diterima oleh para editor itu, tulisan harus faktual dan kalau perlu aktual.

Sampai pada titik ini, munculah persolan yang harus dipecahkan sesegera mungkin. Di atas sudah saya katakan, sesantai apapun diperlukan yang namanya literasi, dan untuk mendapat akses literasi dibutuhkan bacaan atau tontonan. Untuk mendapat bacaan atau tontonan, dibutuhkan yang namanya modal, baik berupa uang untuk membeli koran atau buku atau kuota internet untuk mencari buku-buku dalam bentuk PDF, informasi online dalam bentuk tulisan dan atau audio visual.

Yang tak kalah penting, kita harus membaca tulisan-tulisan yang ada di media-media yang hendak dikirimi naskah agar kita tahu, tulisan seperti apa yang sekiranya diterima. Semua itu bisa dimulai dengan modal seadanya. Kalau saya kebetulan ada setidaknya buku meski tak seberapa, dan juga paketan internet plus TV jika sekadar untuk mengakses literasi.

Perlu dicatat bahwa mendapat buku gratis dalam bentuk PDF itu saya sendiri tidak tahu legal atau ilegal, karena hanya bermodal beberapa MB saja kadang sudah dapat itu barang. Dari situ saya bahagia sekaligus penuh pertanyaan ketika teman-teman saya share buku-buku PDF di Whatsapp. Dan saya sering nge-share juga.

Meski terkesan mudah, tetap saja itu butuh perjuangan yang cukup ekstra tapi tetap pada prinsip santai. Kenapa demikian? Ada faktor kemalasan untuk melakukan itu, dan lebih memilih membaca komik Naruto, lalu makan, minum, tidur, syukur-syukur kalau masih mau beribadah.

Setelah perjuangan berminggu-minggu melawan kemalasan, atau lebih tepatnya mengurangi porsi malas saya, ada beberapa tulisan yang mulai diterima oleh beberapa media. Pada prinsipnya untuk melakukan kegiatan ini sekali lagi, karena sesuai dengan visi saya. Jadi saya ingin menjadi bagian dari orang yang sedikitnya bermanfaat melalui tulisan, mengisi sebagian ruang yang tak banyak orang untuk mengisi. Kata orang-orang, tulisan bisa dikenang sepanjang masa, dan saya ingin menjadi bagian orang yang dikenang, ciee…

Memang tujuan awal adalah sekedar menumpahkan isi pikiran dengan cara menulis tanpa harus ‘tertekan’ untuk ‘bermain’ seperti sebelumnya. Tapi, jika memang tulisan yang saya buat dianggap pantas menerima honor oleh media-media yang memuat itu, ya itu adalah bonus, atau sekurang-kurangnya menjadi tujuan kedua.

Dan poin ini penting untuk diketahui oleh teman-teman pengangguran yang ingin meniru cara saya. Sebab kalian harus percaya, jika menulis ‘hanya’ karena mencari bayaran, ketika tulisan kalian ditolak pasti akan malas untuk menulis lagi, syukur-syukur kalau tidak sampai putus asa dan bunuh diri. Mengerjakan apapun perlu dilakukan dengan segenap hati dan pikiran, toh kita-kita melakukan kegiatan menganggur itu dengan hati dan pikiran juga, to?.

Saya dari awal berpikir kalau misalkan tulisan-tulisan saya dimuat dan dibayar ya Alhamdulillah, tapi kalau tidak dibayar setidaknya masih bisa mungkin bermanfaat untuk orang lain. Kalau tidak diterima atau tidak laik dimuat? Saya bisa share tulisan-tulisan itu di blog pribadi dan juga di media sosial (sejauh ini yang saya tau Facebook yang menulis panjang).

Dengan begitu, tidak alasan untuk tidak menulis dan berusaha bermanfaat kepada orang lain. Memang mau gak mau harus diakui bahwa dengan menulis di media yang menyediakan honor bisa memotivasi kita untuk menulis, tapi sekali lagi jangan sampai itu dijadikan sebagai prioritas, Tuhan tidak pernah tidur untuk para kaum deadwood.

Lalu berapa sih bayaran jika dimuat di media-media semacam Locita.co, Mojok.co, Vovpop.id dll itu? Jika ukurannya itu adalah Profesor, mungkin ya sangat sedikit. Tapi jika ukurannya adalah pengangguran seperti saya, mungkin bisa dibilang cukup kalau tidak mau dikatakan banyak.

Saya mencoba mencari tahu dari medianya langsung, yang saya temukan kalau di halaman Mojok.co itu bunyinya begini “Kontributor yang karyanya dimuat di mojok (kecuali rubrik curhat) berhak mendapatkan honorarium yang Insya Allah jumlahnya cukup kalau sekadar untuk ngajak pacar makan di rumah makan yang lumayan elit”.

Sementara untuk Voxpop.id, Mas Kokok Dirgantoro selaku CEO mengatakan kepada saya melalui pesan bahwa menulis di Voxpop itu bisa mendapat uang yang cukuplah untuk beli kopi. Namun dari beberapa informasi yang tertulis di beberapa situs Online yang bisa jadi beradasarkan dari pengalaman para penulis yang menulis di media-media tersebut ada yang start dari angka Rp250.000 pertulisan, meskipun ada yang membayar dibawahnya. Ada pula yang dihitung dari jumlah pembacanya, contohnya Qureta.

Kalau kita rutin untuk berproses dan tulisan kita bisa sering dimuat di media-media tersebut, bisa jadi kemalasan kita bermanfaat dan mendapat penghasilan yang mungkin saja (tanpa maksud mengkerdilkan) lebih dari gaji Guru honorer daerah. Kalau terus berproses dan semakin produktif, saya rasa cukuplah untuk memenuhi kebutuhan hidup dan siapa tahu kelak bisa dicetak menjadi sebuah buku ‘hanya’ bermodal kemalasan itu. Kurang apalagi coba? Lah wong Raditya Dika saja berhasil membuat buku melalui cerita pribadinya di Blog Kambing Jantan.

Nah, saya berharap setelah membaca tulisan ini tidak ada lagi alasan untuk teman-teman pengangguran untuk menjadi orang bermanfaat dan syukur-syukur bisa berpenghasilan. Tentu banyak cara untuk menuangkan ‘kemalasan’ teman-teman tanpa harus menirus seutuhnya ide dari saya ini.

Banyak juga, kan, pemalas-pemalas yang sukses seperti para gamers yang akhirnya dituangkan ke bentuk video gaming di youtube? Dan banyak orang bilang pekerjaan paling enak itu yang dilakukan berdasarkan kesenangan, lalu buat apa kerja dari pagi sampai sore jika pikirannya stress karena bukan dari hati dan pikiran? Belum lagi ditambah akibat dari pekerjaan itu, tak sedikit orang kehilangan waktu untuk bersama keluarga dan juga hiburan. Kenapa kita tidak mencoba sesuatu yang bisa membuat kita lebih merdeka?.

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Tentang Penulis

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.