Locita

Tuhan Maha Kuasa, Termasuk Mencipta Manusia Biseksual, Homoseksual, dan Aseksual

DALAM diri setiap manusia Tuhan menanamkan akal agar kita bisa berpikir dan menggunakan logika. Tuhan mampu melakukan apa saja, apa saja, apapun yang dikehendaki-Nya.

Saya sering berpikir apa susahnya bagi Tuhan untuk menciptakan manusia yang tidak memiliki ketertarikan seksual kepada manusia yang memiliki jenis kelamin yang sama maupun berbeda? Apa susahnya bagi Tuhan menciptakan manusia yang memiliki ketertarikan seksual kepada keduanya? Apa susahnya Tuhan menciptakan manusia yang memiliki ketertarikan kepada yang sejenis?

Jawabannya, tentu mudah saja. Tuhan Maha Kuasa, termasuk mencipta kaum biseksual, aseksual, homoseksual, maupun heteroseksual.

Semoga saya salah,

tapi logika saya mendorong untuk membuktikan,

apa iya Tuhan menciptakan itu semua ?

Pendidikan seksual dan gender memang sepertinya kurang menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Di sekolah kita diajarkan menggambar, menulis, dan menghitung. Tetapi luput mengenali tubuh termasuk mengenali ragam seksualitas dan gender.

Memahami Seks dan Gender

Ada beberapa kata kunci yang perlu kita pahami dalam mengupas seksualitas manusia. Di antaranya, seks, interseks, gender, seksualitas, transgender, dan orientasi seksual.

Kita seringkali tidak dapat membedakan antara seks dan gender. Seks adalah sebuah konsep tentang pembedaan jenis kelamin manusia berdasarkan faktor-faktor biologis. Karena dominannya pengaruh paradigma patriarki dan hetero-normativitas dalam masyarakat. Kita hanya mengenal dua klasifikasi manusia yaitu laki-laki (male) dan perempuan (female). Sejatinya ada jenis kelamin yang berbeda yang disebut interseks, yakni secara biologis tubuhnya laki-laki, tapi merasa jiwanya perempuan atau sebaliknya.

Istilah gender seringkali dirancukan dengan istilah seks atau jenis kelamin. Dalam buku Mengupas Seksualitas (2015) karya Musdah Mulia disebutkan bahwa gender kerap diidentikan dengan jenis kelamin perempuan. Padahal gender melingkupi laki-laki dan perempuan.

Gender sebenarnya berasal dari bahasa Inggris yang belum memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia. Bahkan, seringkali gender diartikan sama dengan seks. Padahal keduanya jelas berbeda.

Gender adalah suatu konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan antara laki-laki dan perempuan sesuai perkembangannya dalam masyarakat. Pembedaan itu dibuat berdasarkan peran, tanggung jawab, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional.

Dari pembedaan itulah kita mengenal kata maskulin dan feminim. Parahnya yang berkembang di masyarakat kita, banyak yang mengamini pandangan jika karakter maskulin lebih baik daripada feminis. Tentu keduanya tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Masing-masing memiliki unsur positif tergantung kondisinya.

Gender bukanlah kodrat melainkan konstruksi budaya. Masyarakatlah yang menentukan kegenderan setiap manusia. Bentukan masyarakat tersebut dilakukan melalui nilai tradisi, adat, budaya, sistem hukum, dan interpretasi agama.

Sayangnya, kita masih meyakini konstruksi-konstruksi yang bias kesetaraan. Seperti perempuan dianggap lebih inferior dan laki-laki superior. Perempuan dianggap tidak wajar jika mengungkapkan perasaan kepada laki-laki. Bahwa dalam pelayanan seksual, isteri lebih banyak memberi dan laki-laki cukup menikmatinya saja.

Anggapan-anggapan yang demikian sangat mengerikkan jika terus diendapkan dalam tubuh masyarakat. Kita tentu bisa mengubahnya, salah satunya dengan pendidikan seks dalam keluarga, institusi formal, dan ataupun melalui kebijakan pemerintah.

Keragaman Gender Pada Suku Bugis dan Perspektif Agama

Keragaman gender sebetulnya tidak hanya bisa dibuktikan oleh hasil ilmu pengetahuan para pemikir dan peneliti. Ragam gender juga dipercaya oleh suku di nusantara begitupun dalam perspektif agama utamanya Islam juga memperkenalkannya.

Namun kita masih cenderung kaku jika harus mempercayai bahwa gender

tidak hanya male dan female.

Saya merasa sangsi ketika ada yang mengatakan bahwa dari dulu hingga sekarang , orang-orang Nusantara hanya mengenal dua jenis seks. Salah satu suku di Nusantara yakni Suku Bugis justru memperkenalkan keragaman gender. Pada Suku Bugis kita mengenal lima jenis gender yakni, calabai, calalai, bissu, orane, dan makunrai.

Keberagaman lima gender di dalam masyarakat Bugis memiliki posisi yang penting sebelum Islam datang pada tahun 1600. Sangat penting memahami bagaimana keberadaan mereka secara historis, bagaimana peran-peran mereka mengalami pergeseran karena gesekan dan tekanan dari berbagai aspek.

Pertama, calabai adalah laki-laki yang berpenampilan seperti perempuan. Kedua, calalai adalah perempuan yang berpenampilan laki-laki (maskulin/tomboy). Ketiga, oroane yang artinya pria atau lelaki. Keempat, makunrai yakni perempuan atau wanita. Terakhir adalah bissu, seorang pemuka agama Bugis kuno yang memiliki peran dalam praktik adat seperti ketika ada perayaan botting (pernikahan).

Bissu juga dulu menjadi penjaga arajang (benda keramat). Dalam persoalan seksual, Bissu sebagai perpaduan antara laki-laki dan perempuan. Bissu tidak dapat menikah karena Bissu memiliki tugas yang sakral. Masyarakat Bugis menganggap bahwa Bissu dapat menjadi perantara untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Saat ini diskriminasi terhadap calabai, calalai, begitupun dengan bissu sangat kuat keberadaannya. Menarik mengambil salah satu kisah dalam dalam novel berdasarkan kisah nyata, Calabai, Perempuan dalam Tubuh Lelaki (2016) karya Pepi Al-Bayqunie. Novel tersebut mengisahkan tokoh Saidi. Seorang pemuda yang lahir berkelamin laki-laki tapi tabiatnya sangat perempuan (calabai).

Saidi memilih pergi dari keluarganya karena keluarga menolak keberadaannya sebagai calabai. Dalam perjalananya ke Segeri (negeri para Bissu). Saidi bertemu dengan pemuka agama yang mengajarkan nilai spiritual sampai mengantarkannya menjadi seorang Bissu atau pemuka agama dalma suku Bugis.

“Tetapi,” imbuh Kiai Kusen ketika melihat wajah Puang Saidi yang mulai berubah muram, “Muhammad bin Ali bin Muhammad Asy-Syaukani di dalam kitabnya, Nailul Authar, menjelaskan bahwa pada zaman Nabi Muhammad, sudah ada waria. Di antaranya Hita, Matik, dan Hinaba. Waria pada zaman Nabi terbagi dua, banci tulen dan banci bikin-bikinan. Pada umumnya perilaku banci asli tidak berbahaya, baik bagi wanita maupun laki-laki. Isteri-isteri Nabi menganngap banci asli sebagai ghoiru ulil irbah atau kaum yang tidak punya butuh dan syahwat”.

Orang-orang yang diciptakan dengan hasrat seksual yang berbeda daripada kaum mayoritas harusnya dirangkul dan tidak didiskriminasi dalam hal apapun. Kedudukan mereka sama dengan manusia yang lain. Bahkan seorang calabai (waria) dalam suku Bugis bisa menjadi pemuka agama atau Bissu.

***

JIKA benar Tuhan menciptakan kaum biseksual, aseksusal, dan homoseksual. Lalu dengan apa dan bagaimana cara mereka melampiaskan hasrat seksualnya ?

Perdebatan ini akan semakin rumit apalagi dibahas di Indonesia. Sepanjang sejarah manusia maupun pada zaman Rasulullah, kita belum menemukan adanya pernikahan sejenis. Pernikahan  merupakan peristiwa kebudayaan, Tuhan mempertemukan Adam dan Hawa agar perjalanan kemanusiaan kita tetap ada. Agar manusia memiliki peradaban tinggi justru dengan keberagamannya itu.

Saya berada berdampingan dengan Ibu-Ibu dan aktivis yang menolak pernikahan sesama jenis di Indonesia.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang biseksual, aseksual, ataupun homoseksual ?

Ada percakapan menarik dalam novel Calabai yang sepertinya cocok menutup tulisan ini:

“Berarti Tuhan tidak adil kepada waria?”

“Mengapa begitu , Nak?”

“Tuhan memberikan hasrat homoseksual, tapi melarang pernikahan sesama jenis.”

“Bagaimana kalau dibalik? Karena seseorang punya kecenderungan homoseks, maka ia bisa lebih dekat kepada Tuhan? Seseorang yang kecenderungan homoseks punya peluang untuk bisa lebih mendekat kepada Tuhan,” ujar Kiai Kusen.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.