Esai

Trump Budeg, Pengaruhi Kegilaan Duterte dan Israel

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump, seolah tidak mengerti bahwa segala perkataannya akan dijadikan contoh masyarakat dunia. Selain rutin menyerang masyarakat dunia dengan istilah kasar. Kini dia mulai menyerang profesi jurnalis.

Ia menyebut media Amerika pembohong. Media di sana hanya menyebarkan berita bohong tentang dirinya. Atas kekesalan itu, ia pun memberi predikat kepada 11 media yang berhak meraih penghargaan “Berita Bohong”.

Seperti biasa presiden berambut perak ini mengumumkan keputusannya melalui Twitter. Pada hari Rabu, 17 Januari 2018, Trump merinci peraih “Berita Bohong” yang diberikan kepada wartawan dan media di negaranya. Penyiar CNN menang sebanyak empat kali. The New York Times sebanyak dua kali. Penyiar ABC, majalah Time dan Newsweek masing-masing menang sekali. Dia pun senang.

 

Atas penghargaan itu, pihak yang menerimanya tentu tidak bahagia. Melalui komite perlindungan wartawan, mereka membalas Presiden AS ini dengan mencuit:

 

Tidak hanya pertikaian dengan media, sebenarnya masalah yang disulut Trump seminggu lalu belum usai. Presiden ke-45 AS ini menghina negara-negara di Afrika, dan Haiti. Ia menyebut negara tersebut sebagai negara lobang kotoran.

Sebenarnya kekasaran dan ketidak terdidiknya mulut Trump bukan hal baru. Ia hanya seolah menanti reaksi baru terhadap apa yang dilakukannya tanpa pernah merasa bersalah.

Trump mengancam akan terus melanjutkan usahanya itu, jika media tidak kunjung menulis berita benar sesuai pendapatnya. Trump bertindak menyerupai Stalin.

Diktator yang ketakutan kekuasaannya direbut sehingga setiap keputusannya berlandaskan dari perasaan takut dan paranoid. Hal ini kemungkinan karena tekanan psikologis yang dialami Trump sejak kecil.

***

Trump memang sosok yang kontroversial. Dia tidak hanya dicela di negaranya tapi juga di luar negaranya. Entah Trump mengetahuinya atau tidak, saya rasanya ingin membisiki kalau banyak orang yang membencinya. Kata-kata Kiai Ma’ruf Amin saat aksi bela Palestina beberapa waktu lalu bahwa jangan-jangan Trump ini sebenarnya budeg alias tuli, sepertinya benar. Usaha Trump yang terakhir itu, seolah menjadi pembenaran ke-budegannya. Tidak mau mendengarkan kritik apapun.

Trump seperti tidak pernah diberitahu bahwa media adalah cerminan masyarakatnya. Terkadang, media massa menggambarkan realitas sosial dalam berbagai aspek kehidupan. Jika media membenci Trump, maka bisa saja mayoritas warga memang membencinya. Menurut Gidden, dalam Gauntlett, informasi dan ide-ide yang disajikan media massa memang tidak serta merta merefleksikan kehidupan sosial, namun, dia berperan dalam pembentukan dan menjadi sentral dalam cerminan masyarakat modern.

Penghargaan “Berita Bohong” yang sejatinya telah Trump suarakan sejak 8 Januari lalu, kini menjadi pemantik di beberapa negara lain. Di Filipina tanggal 16 Januari, Presiden Rodrigo Duterte menutup sebuah media online bernama Rappler.

Media online yang berdiri sejak 2012, selama ini gencar mengkritik Duterte. Kebijakan yang paling ditentang portal online itu ialah penembakan secara brutal masyarakat yang dianggap terlibat peredaran narkoba di Filipina. Meski tanpa melalui peradilan.

Dalam konferensi persnya Duterte menyebut penutupan situs yang juga memiliki biro di Indonesia ini sebuah langkah tepat. Media itu katanya telah melanggar konstitusi negara. Duterte menyebut situs Rappler sebagai pembohong yang gemar menerbitkan kisah penuh sindiran dan kepalsuan.

“Karena anda adalah outlet berita palsu, maka saya tidak terkejut bahwa artikel Anda juga palsu. Iklan anda tidak hanya melempar kertas toilet. Anda membuang kotoran pada kami,” katanya seperti dikutip dari media tersebut.

Bukan hanya Duterte yang jadi follower Trump, Bashar al-Assad, juga. Presiden Suriah yang negaranya sedang dikoyak perang saudara ini rupanya bertujuan sama. Ia baru-baru ini menyebut sebuah media telah menyebarkan kabar bohong. Media itu memberitakan pelanggaran hak asasi manusia pada sebuah penjara militer. Selama ini Assad memang membatasi jurnalis dari luar negeri untuk meliput konflik di negaranya.

Pembungkaman Media 

Komisi Perlindungan Wartawan (CJP), pernah melansir bahwa 2017 adalah salah satu tahun paling berbahaya bagi jurnalis seluruh dunia. Tahun lalu, organisasi yang berbasis di New York ini menyebut sebanyak 262 wartawan dipenjara karena menjalankan pekerjaan mereka.

Tidak hanya itu, banyak wartawan menghadapi intimidasi, ancaman kekerasan, pelecehan, penganiayaan bahkan kematian. Hal ini dialami oleh seorang perempuan bernama Miroslava Breach.

Breach adalah wartawan Harian Norte di Meksiko. Ia tewas di depan ketiga anaknya usai ditembak delapan kali oleh sekelompok pria bersenjata.

Celakanya, ancaman hingga pembunuhan banyak dilakukan oleh pemerintah lokal, tempat media itu berasal.

Selanjutnya, laporan CJP secara umum menyebut 2017 adalah tahun yang suram bagi kebebasan berpendapat di seluruh dunia.

Selain karena ada Trump yang berulang kali menyerang media di Amerika Serikat. Di banyak negara, pemerintah berusaha mengendalikan akses terhadap informasi dan membatasi kebebasan berpendapat. Mereka melakukan ini tidak hanya dengan menangkapi wartawan, tapi juga mendorong ketidakpercayaan terhadap liputan mereka.

Banyak “kuli tinta” di seluruh dunia dituduh merongrong keamanan nasional sebagai alasan untuk menangkapi mereka.

Pemerintah lama menjuluki pers sebagai “musuh rakyat”. Sementara pemerintahan baru memanfaatkan kurangnya pengawasan untuk membungkam pers kredibel. Persis yang kita alami di Indonesia masa Orde Baru.

Kebencian Trump kepada media tidak hanya terhadap media di negaranya. Ia mendukung setiap keputusan Israel terhadap Palestina, termasuk penutupan delapan perusahaan media Palestina yang berbasis di Tepi Barat tahun lalu. Serta, penutupan paksa sebuah saluran radio dan ratusan akun atau halaman (fanpage) pro Palestina oleh pemerintah Israel bekerjasama dengan Facebook.

Harusnya, jika Trump tidak tuli ia dapat mendengar dan mencocokkan dengan hati nuraninya apa yang sebenarnya terjadi dengan negara Palestina. Juga tahu bahwa media dan wartawan memiliki kode etik yang mengawasi mereka sehingga wartawan tidak bekerja bebas tanpa nilai.

Media memainkan peran utama dalam mempromosikan dan melindungi demokrasi, serta hak-hak manusia. Nilai-nilai yang konon telah ratusan tahun, menjadi simbol negara Amerika Serikat yang beradab itu.

Jadi kita tak perlu heran, dengan sikap Trump yang membenci media. Memang sesungguhnya dia telah tuli untuk mendengar berbagai kritikan. Sikap dia mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel adalah ketulian paling absurd.

Dan mungkin saja ini bukanlah ketuliannya yang terakhir. Kita harus waspada ke-budegan Trump yang lain.

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Tuan Guru Bajang
Previous post

Tuan Guru yang Jadi Pesaing Terbaik Jokowi dan Prabowo

Bromo tengger semeru
Next post

Menjaga Kesucian Rahim di Cemoro Lawang