Locita

Tolong, Hujan Jangan Disalahkan Dalam Setiap Bencana

Ilustrasi: Tribunnews

PERIODE November hingga Desember, negeri ini selalu berduka yang diakibatkan oleh bencana dimana-mana. Banjir, longsor, hingga puting beliung merobohkan banyak sekali pohon dijalanan kota-kota besar di Pulau Jawa yang sudah sangat ringkih. Siklon Cempaka menjadi terdakwa atas banyaknya bencana yang dialami pada periode ini.

Media-media sosial penuh dengan tagar “pray for bla bla bla” dan berdoa semoga bencana ini bisa segera berlalu. Saya pun demikian, dengan akun-akun media sosial yang saya miliki, saya juga mengucapkan hal yang sama, berdoa untuk para korban agar bisa melewati bencana yang menimpanya.

Akan tetapi, sebagai “pecinta” hujan, saya sangat tidak terima ketika pemberitaan yang dimuat oleh media-media online dalam setiap paragraf pertamanya menyebutkan, Banjir melanda wilayah Kota Jakarta diakibatkan oleh hujan yang sejak tadi pagi hingga malam ini. 

Baru kemudian dalam paragraf selanjutnya baru kemudian mereka–media online–ini baru menyebutkan jumlah korban, total kerugian, dan juga santunan yang diberikan oleh pemerintah. Setiap membaca tentang bencana, selain mendoakan, saya selalu marah besar.

Bersyukur saya tidak memiliki riwayat hipertensi, kalau tidak, dengan banyaknya bencana yang terjadi di negeri ini, sudah dari dulu saya diopname. Dan satu hal lagi, kalian semua tidak akan menikmati keindahan sajak dari Sapardi dan lain-lain yang menjadikan hujan sebagai inspirasinya. Catat itu!

Ya, bencana banjir, tanah longsor pasti sudah menghantui beberapa saudara kita di pelosok nusantara ini. Dan buruknya, setelah saya tanyakan beberapa teman dekat, mereka ternyata berpikir hal yang sama. Penyebabnya: H-U-J-A-N.

Begitupun dengan kerabat-kerabat saya di kampung, semua akan khawatir jika hujan akan turun dengan intensitas yang cukup tinggi. Sekali lagi, saya selalu marah ketika hal yang saya cintai (hujan) disalahkan!

Ayolah, hujan ini sudah fitrahnya, air yang jatuh ke bumi dari uap air terangkat dari permukaan bumi dan kemudian menuju atmosfer yang disebut proses evaporasi yang dapat menyebabkan uap air terkumpul di awan; mengalami proses kondensasi, dan terjadi lah hujan yang sering kita salahkan ketika ada bencana.

Begitu kata guru-guru IPA kita dulu. Tidak bisa kita sangkal siklus air ini terjadi hanya karena tidak ingin terkena bencana. Hujan merupakan berkah untuk kita semua makhluk hidup yang ada di muka bumi ini, tidak ada hujan, kita mungkin tidak akan bisa bertahan hidup. Saya yakin itu.

Kehidupan kita di bumi ini adalah sebuah keteraturan dan keterikatan . Hujan adalah bentuk dari aktivitas alam untuk mempertahankan habitat kita semua, manusia dan segala makhluk ciptaan tuhan lainnya. Jangan kemudian kita membenci kupu-kupu esoknya ketika membaca Chaos Theory dimana oleh Edward Norton Lorenz menyebutkan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil bisa mengakibatkan tornado di Texas.

Naif jika seluruh penduduk bumi ini akan berburu kupu-kupu karena khawatir terjadi tornado atau angin puting beliung. Saya hanya ingin sampaikan, konspirasi menyalahkan hujan dalam setiap bencana yang terjadi adalah kerjaan media-media bekerjasama dengan pemerintah.

Kita kemudian selalu diarahkan untuk berpikir penanganan pasca bencana. Sadar atau tidak, kita diarahkan untuk menjadi generasi yang tanggap akan mengobati sesuatu, akan tetapi, kita tidak pernah tau tentang bagaimana mencegah sesuatu (bencana) itu terjadi.

Dengan proyek-proyek pembangunannya, pemerintah membutakan mata kita semua untuk melihat bencana dari segi penanganan pasca terjadi. Oleh karenanya, kita tidak butuh pakar tanggap bencana. Kita butuh pakar pencegahan bencana yang bisa dimulai dari diri kita sendiri, dimulai dari hal kecil, dimulai pada saat ini.

Pernahkah Anda berpikir bahwa bencana yang terjadi disebabkan oleh eksploitasi tata ruang secara berlebihan oleh kita sendiri. Hutan, contohnya. Beberapa orang memiliki pandangan bahwa hutan merupakan sebuah tegakan, lebih dari itu hutan merupakan sebuah ekosistem yang memiliki peran terhadap semua makhluk hidup di dalamnya.

Salah satu fungsi hutan adalah untuk mengatur keseimbangan sirkulasi agar busa menampung air yang diakibatkan oleh hujan, yang sekarang berubah fungsinya menjadi pemukiman dan pembangunan-pembangunan lain. Sehingga tidak heran bencana banjir dan tanah longsor terjadi di banyak daerah di negeri ini.

Sekali lagi saya sampaikan, hujan adalah kodrat alam yang pasti dan terus terjadi hingga kiamat nanti. Sehingga yang kita pikirkan adalah bagaimana agar air yang turun dari langit ini tidak menimbulkan bencana.  Alam dan lingkungan di sekitar kita ini memiliki kemampuan purifikasi untuk memurnikan kondisinya sendiri.

Kemampuan alam memiliki batasan yang dalam ilmu kekinian disebut daya dukung dan daya tampung lingkungan. Tanah tempat kita berpijak, tidak seperti spons yang bisa langsung menyerap air.

Dalam intensitas yang melimpah, air tetap akan mengalir dan butuh waktu untuk terserap kedalam tanah atau kemudian mengalir hingga ke laut. Nah, aliran air inilah yang kemudian harus kita pikirkan. Masalah selanjutnya adalah, kita masih berpikir sangat konvensional dalam menangani air hujan ini. Normalisasi sungai, parit, bertujuan untuk mempercepat laju aliran air menuju laut menjadi hal yang konvensional dilakukan oleh pemerintah kita.

Urusan “mengalirkan air” tidak bisa kita berpikir pekarangan rumah sendiri. Urusannya hulu dan hilir. Air akan selalu mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah, ilmu ini lagi-lagi kita dapatkan dari guru IPA, terimakasih Guru. Daerah resapan air di bagian hulu yang paling baik adalah dengan bantuan hutan.

Artinya, luas kawasan hutan yang ada akan dapat menampung jumlah debit air hujan yang turun. Jika pun masih ada yang tidak mampu tertampung oleh hutan, cara yang dilakukan dengan menyediakan daerah resapan air berupa hutan-hutan dan taman kota, baik berupa ruang terbuka hijau publik atau perseorangan ataupun bidang resapan lainnya.

Belum lagi pembuatan sumur resapan yang saat ini mendapatkan hibah ratusan juta rupiah akan mampu menyerap jumlah air hujan dalam jumlah banyak. Sehingga ketika air ini akan sampai ke laut, alam sudah menyiapkan tempat parkir berupa rawa-rawa dan hutan bakau.

Keteraturan seperti ini yang saat ini sudah tidak ada lagi, sehingga tidak heran banyaknya bencana terjadi karena kelalaian kita sebagai manusia untuk menjaga keteraturan ini. Bukankan Tuhan dalam firmannya menyebutkan, Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.

Sehingga menyalahkan aktivitas alam sebagai penyebab dari bencana adalah hal yang paling memalukan bagi kita semua. Dr. Fachruddin Mangunjaya dalam bukunya mempertahankan keseimbangan mengungkapkan bahwa gaya hidup kita sebagai manusia telah mempercepat laju kerusakan bumi ini. Tantangan global, seperti perubahan iklim terus dinegosiasikan, ironinya di negara-negara berkembang seperti Indonesia.

Modalitas kemajuanya masih bertumpu pada sumberdaya yang eksploitatif sehingga memicu pupusnya keanekaragaman hayati, termasuk drastisnya kepunahan spesies pentinng untuk mempertahankan keseimbangan. Padahal sumberdaya hayati perlu dipertahankan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk menopang keseimbangan dan modal utama bagi pembangunan berkelanjutan seperti yang digaungkan oleh khalayak ramai.

Terakhir, sebagai pecinta hujan, saya mengajak kita semua merubah cara berpikir, bahwa penyebab utama bencana adalah kerakusan kita dalam mengeksploitasi alam ini. Menyalahkan cara berpikir jauh lebih baik daripada menyalahkan aktivitas alam.  Marilah kita berdamai dengan alam, agar kita semua bisa mengurangi beban kerja para relawan pencari sumbangan untuk korban bencana.

Rismunandar Iskandar

Rismunandar Iskandar

Fans Arsenal, Pejalan Kaki, Penikmat Kopi dan Pegiat Lingkungan

Tentang Penulis

Rismunandar Iskandar

Rismunandar Iskandar

Fans Arsenal, Pejalan Kaki, Penikmat Kopi dan Pegiat Lingkungan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.