Esai

Tiga Tahun Jokowi – JK dan Ketidakbahagiaan Warga Negara

BEBERAPA lembaga survei merilis hasil studi mereka jelang tiga tahun kepemimpinan Jokowi-JK. Saiful Mujani Research Consulting (SMRC) misalnya, sebagaimana diberitakan oleh kompas.com, menyatakan bahwa kepuasan publik atas pemerintahan Jokowi berada pada prosentase 68 persen.

Masyarakat responden survei menyatakan bahwa kondisi ekonomi lebih baik, begitu juga untuk urusan penegakan hukum, keamanan dan ketertiban.

Hasil survei yang relatif sama, juga dirilis oleh Indikator Politik Indonesia. Tercatat 68,3 persen responden puas dengan kinerja Jokowi-JK.

Poin kepuasan masyarakat terdapat pada pembangunan jalanan umum, layanan sarana transportasi, jalan tol luar Jawa dan layanan kesehatan yang terjangkau.

Meski demikian ada sejumlah aspek di mana kepuasan masyarakat kurang. Misalnya pada keterjangkauan harga kebutuhan pokok dan penyediaan lapangan kerja. Selain itu juga terdapat minimnya kepuasan pada aspek mengurangi pengangguran dan orang miskin.

Dua hasil survei yang dirilis bulan Oktober di atas jika dibandingkan dengan laporan mengenai kebahagiaan warga negara-negara di dunia ada hal yang menarik.

World Happiness Report yang dirilis pada Maret tahun ini menempat Indonesia di peringkat ke-81. Kalau mengacu pada laporan yang sama pada tahun 2016, Indonesia berada di peringkat ke -79.

Tampaknya meskipun kepuasan publik cukup tinggi terhadap pemerintahan Jokowi-JK, ada penurunan peringkat dari sisi kebahagiaan.

Laporan kebahagiaan warga dunia di atas menyusun enam kategori untuk menentukan tingkat kebahagian suatu negara. Keenam hal itu adalah pendapatan per kapita, dukungan sosial, harapan hidup sehat, kebebasan untuk membuat pilihan hidup, kedermawanan dan persepsi korupsi.

Dari keenam hal itu, kalau melihat grafiknya, Indonesia paling rendah pada aspek persepsi korupsi dan kebebasan untuk membuat pilihan hidup.

Ihwal kategori persepsi korupsi mengindikasikan bahwa, pada skala yang lebih luas masyarakat Indonesia sebetulnya belum terlalu percaya akan hasil perjuangan anti korupsi yang dilakukan oleh pemerintah.

Adapun mengenai kategori kebebasan untuk membuat pilihan hidup, tidak bisa dibandingkan dengan kedua hasil survei diatas. Sebab bukan termasuk variabel yang diteliti di dalamnya. Masalah ini juga merupakan masalah yang sering diabaikan oleh penelitian-penelitian. Padahal ini mencakup hak dasar manusia selaku warga negara.

Saya menduga masalah rendahnya kebebasan memilih erat kaitannya dengan beberapa peristiwa politik dan situasi keagamaan belakangan ini. Turbulensi demi turbulensi terus dihadapi oleh masyarakat.

Sebelum hasil laporan kebahagiaan dirilis terjadi beberapa kali aksi massa untuk menuntut Ahok di penjarakan. Aksi yang menjadi isu skala nasional itu berada dalam situasi pemilihan kepala daerah provinsi DKI Jakarta.

Hasil dari peristiwa itu, baik kelompok pro Ahok maupun kontra saling serang dan menghujat di media sosial. Orang-orang yang tidak sepakat dengan kelompoknya akan dikucilkan dari pergaulan.

Dalam hal ini tekanan kelompok di kedua belah pihak sangat mengenggam kehidupan individu seseorang. Padahal sebagai individu warga negara yang sah, setiap orang berhak bersikap secara independen.

Dua kelompok itu bisa ditelusuri sebenarnya pada hasil Pilpres 2014 dimana pasangan Jokowi – JK sebagai pemenangnya. Semenjak itu apapun isu nasional, seakan-akan masyarakat Indonesia langsung terpecah dua dalam menyikapinya. Padahal momen politik nasional tersebut hanya berlangsung sekali lima tahun.

Kebebasan memilih juga erat kaitannya dengan preferensi keagamaan seseorang. Dan  hal ini telah diatur oleh UUD 1945. Faktanya setiap pilihan keberagamaan ternyata memiliki resiko tersendiri.

Orang-orang yang memilih keberagamaan di luar kehendak umum, atau setidaknya kehendak lingkungan dia akan dikucilkan dan dipermasalahkan.

Cara melihat persoalan ini sederhana saja. Di media sosial selain banyaknya komentar dan pemberitaan miring mengenai beberapa kelompok keagamaan tertentu kita dapat melihat banyaknya meme yang beredar.

Khusus untuk kelompok umat Islam, meme dan poster yang menyerang kelompok Salafi dan Syiah adalah diantara yang sering dijumpai.

Padahal sebagai preferensi keagamaan dalam Islam dan Islam diakui sebagai agama yang sah di Indonesia, mestinya mereka dapat diperlakukan dengan baik.

Namun, tidak disangka, bahkan tokoh-tokoh yang mencoba untuk menengahi persoalan ini juga mendapatkan ganjaran sosial. Seperti yang terjadi pada Said Agil Siradj (Ketua PBNU) dan Quraish Shihab (Mufassir Al Quran).

Melihat situasi diatas, wajar sekiranya World Happiness Report mencatat adanya penurunan kebahagiaan masyarakat Indonesia. Sebab mereka secara individu belum bisa bebas memilih preferensi yang mereka sukai. Selalu ada ketidaknyamanan apabila seseorang memilih untuk berbeda dengan kehendak sosial dilingkungan mereka.

Betul bahwa setiap kelompok politik dan keagamaan akan senantiasa berdebat baik dengan kelompok lain maupun di dalam kelompok mereka sendiri.

Namun ruang publik, khususnya media sosial tampaknya tidak menghadirkan dialog yang konstruktif. Hujatan dan makian banyak ditemukan alih-alih berdebat dengan argumen yang bisa diperiksa dengan baik.

Prestasi pemerintahan Jokowi – JK di bidang infrastruktur dan layanan publik perlu diapresiasi tinggi. Namun untuk segmen kebahagiaan, khususnya untuk bebas memilih kehidupan yang disukai oleh masyarakat tampaknya masih menjadi pekerjaan rumah besar untuk tahun-tahun berikutnya.

Jokowi – JK dan jajaran pemerintah harus bisa memastikan dan menjamin, bahwa warga negara secara individu berhak memilih sesuai keinginan mereka, sepanjang tidak melanggar aturan kenegaraan. Untuk itu hal yang paling mendesak untuk dilakukan adalah menciptakan ruang publik yang dipenuhi oleh dialog-dialog konstruktif dan argumentatif.

Pentingnya hal tersebut dilakukan, supaya masyarakat lebih bahagia dan puas terhadap pemerintah. Sebab Jokowi – JK tidak akan puas kalau warga negara tidak bahagia dibawah kepemimpinannya.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

M Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

DISABILITAS: PRESTASIMU TAK SEMENTERENG FASILITASMU

Next post

Cerita Anak Menyembuhkan Diri dari Ayah yang Berpoligami