Locita

Tidak Ada yang Berbahaya dari Pernyataan Agnez Mo, Jadi Santai Sajalah. Memang kita tidak terbiasa berbeda, terutama dalam pandangan, apalagi memahaminya

Agnez Mo tampil di panggung internasional tetapi tidak kemudian untuk menyenangkan seluruh orang Indonesia atau mereka yang mengaku Indonesia.

Dan sebagai seorang artis, kini artis internasional pula, segala gerak geriknya akan diawasi. Kapan ada salah sedikit, langsung happpp.

Selama 10 tahun Agnez Mo menjalani titian jalannya ke panggung internasional. Ia bekerja keras dan konsisten. Apa yang dicapainya kini bukanlah hasil spontan dan instan. Ia adalah satu dari sedikit penyanyi Indonesia yang membuktikan kemampuannya di dunia internasional.

Saya menonton video Agnez Mo dan biasa saja. Ketika ia berbicara tidak memiliki darah Indonesia, ia sedang berbicara dalam konteks mayoritas-minoritas. Ia tidak tumbuh dan berbeda dengan yang lain. Pewancaranya menimpali pandangan yang unik dan Agnez Mo mengiyakannya. Petikan-petikan kalimat berikutnya menegaskan bahwa justru karena ia berbeda dengan lain memunculkan rasa kepekaan terhadap perbedaan.

Tetapi memang, menjadi berbeda di Indonesia bukanlah hal yang mudah. Baik dalam hal fisik, terlebih lagi dalam pandangan. Pandangan yang berbeda dari pandangan umum. Apalagi jika berbeda dari yang diharapkan keinginan umum. Keinginan umum yang biasanya selalu ingin disenangkan dan diikuti maunya.

Saat Agnez menyebut tidak memiliki darah Indonesia, saya memahaminya ia tidak sedang bermaksud menyombongkan diri dan menepuk dada dengan pongah. Ia tidak sedang mengatakan tidak bangga sebagai orang Indonesia. Lalu darimana datangnya pendapat itu? Bisa jadi dari klaim atau tuduhan kita sendiri.

Bahwa Agnez adalah keturunan Jerman, Jepang dan Cina adalah faktanya. Ia berkata jujur, setidaknya dengan menurut apa yang dipahaminya.

Hanya saja barangkali kita memang tidak terbiasa dengan pernyataan jujur, jadi kita kemudian menjadi judgemental.

Meski Agnez perlu tahu bahwa keturunan tidak bisa dipahami sesederhana itu. Tidak ada darah Jerman totok 100 persen misalnya. Darah Indonesia juga tidak 100 persen. Orang-orang Eropa dahulu yang selalu menganggap dirinya lebih mulia dan tinggi derajatnya dari orang Pribumi juga tidak benar-benar 100 persen Eropa.

Bahwa ia mengatakan berbeda. Bahwa ia adalah minoritas, seorang Kristen, adalah faktanya. Dan bukankah dalam beberapa tahun polarisasi identitas itu jelas sekali.

Agnez yang (merasa) bagian dari minoritas itu turut merasainya. Panggung wawancara itu menjadi tempat dan kesempatan baginya bercerita. Mungkin sedikit curhat.

Agnez menyebut ia tidak pernah berbicara banyak pada publik meski ia adalah seorang public figure. Agnez memang selama ini tidak terlalu banyak berpendapat terkait isu-isu sensitif meski ia barangkali bisa merasakan dampaknya pada dirinya. Sekurang-kurangnya dampak pada dirinya sebagai minoritas.

Mungkin karena ia lebih sibuk meningkatkan kualitas diri dan berkarya. Ia juga toh selama ini tidak terlalu menanggapi bahkan mungkin tidak menanggapi segala bentuk serangan kebencian padanya. Saya pikir memang tidak penting menanggapi sentimen-sentimen padanya. Bukan hanya membuang-buang waktu, tetapi juga karena tidak substansial dan produktif.

Lagipula, mereka yang berteriak-teriak ini juga belum tentu lebih kontributif kepada Indonesia daripada Agnez. Saya berani bertaruh. Tentu saya tidak sedang mengatakan jika Anda harus berprestasi seperti Agnez lalu punya hak mengkritik. Selain karena memang berprestasi sepertinya bukanlah mudah, juga karena nyinyiran itu tidak penting. Tidak penting sebab yang dinyinyiri selalu adalah hal-hal remeh temeh.

Seperti halnya ketika gaya dan Bahasa Inggris. Pernah suatu kali Agnez diwawancarai dalam Bahasa Inggris lalu dihujat netizen karena dianggap terlalu sering bilang ‘you know’. Orang-orang meledeknya bahasa Inggrisnya tidak hebat dan bahkan kampungan. Padahal yah profesor saya pun, orang Amerika, profesor Linguistik malah selalu bilang ‘you know’.

Tapi yah memang harus dipahami bahwa seringkali orang-orang menghakimi dan mengukur dari apa yang sekadar diketahuinya. Dan apa yang diketahuinya tidak selalu benar. Bahkan meski yang menghakimi ini dalam jumlah banyak. Sebab kebenaran pun tidak tergantung banyak sedikitnya.

Pada akhirnya, pernyataan Agnez mungkin keliru dalam pemilihan diksi namun Agnez harus dilihat secara menyeluruh. Tidak hanya melihat kepingan-kepingannya belaka. Kita tidak keberatan berusaha adil sejak dalam alam pikiran, entah kita mengaku terpelajar atau tidak.

Dan yang pasti, apapun darah Agnez dan darimanapun berasal, darahnya masih tetap merah. Semua dari kita berdarah merah. Sudahlah. Tidak perlu menghabiskan waktu dengan hal remeh temeh seperti ini.

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.