Locita

Tetaplah Waras, Sebelum dan Setelah Pemilu.

Minggu tenang. Indonesia sebentar lagi dihadapkan dengan pesta demokrasi. Baik masyarakat maupun mereka yang hendak dipilih dalam kontes politik, butuh memahami hal ini. Sebelum dan setelah pemilu, tetaplah waras. Dari tahun ke tahun, tak sedikit orang yang harus mengalami depresi akibat kekalahan atau harapan yang dibayangkan tak terwujud sama sekali.

Belum lagi setelah menghabiskan waktu dan materi, seorang yang menunggu untuk terpilih pastilah akan merasa berat dengan kegagalan dalam pemilu. Tapi sekiranya, siap menang harus juga siap untuk kalah.

Bukan memaksakan kehendak. Celakanya, jika seorang yang terlibat sebagai orang yang ingin dipilih tak sanggup menerima kenyataan. Memaksakan kehendak bukanlah hal bijak yang harus dilalui para kontestan politik. Begitu juga dengan masyarakat.

Hanya saja, tak dapat dipungkiri suasana politik kadang membuat kita terbawa arus dan lupa diri. Beberapa orang terdekat bahkan dapat dengan mudah kita serang hanya karena berbeda pilihan.

Berbagai perilaku aneh dapat kita saksikan bertebaran di media sosial. Saling serang antar kubu sepertinya sudah menjadi pemandangan biasa. Tapi penting diwaspadai jikalau saja, pikiran kita dikuasai oleh ego yang menuntut untuk dimenangkan.

Sebelum pemilu, baliho terpasang di mana-mana. Janji ditebar dan menjaring beberapa orang yang percaya. Beberapa orang tertentu menaruh harapan atas perubahan, wakil rakyat diminta untuk berpihak pada rakyat.

Namun, semua itu tak semudah yang kita bayangkan. Suasana yang keruh semakin mudah ditemukan sebelum pemilu. Hoax bertebaran, saling fitnah, dan seakan tak punya empati, mereka dapat berperang dengan kata-kata atau pendapat. Bukan lagi untuk berdiskusi, melainkan memaksakan orang lain untuk menerima pilihannya.

Setelah pemilu, kita tentu saja berharap agar kita dapat belajar melalui peristiwa beberapa bulan belakangan ini. Tetap waras dan menerima berbagai kemungkinan. Siapa pun yang terpilih, Indonesia diharapkan lebih baik dari hari ini.

Bila belajar dari pemilu sebelumnya, beberapa perilaku orang-orang kalah kadang terbilang mengerikan. Beberapa perilaku yang sering terjadi beragam, mulai dari mereka menagih sembako yang dulunya dibagikan gratis hingga nekat bunuh diri.

Tekanan setelah pemilu bila tak dihadapi dengan kesiapan mental, dapat berakibat lebih besar. Bila sebelumnya disepelekan, sudah saatnya kita sadar akan pentingnya mempersiapkan mental yang lebih tangguh.

Bila seseorang hanya berfokus pada kemenangan, kekalahan bisa menjadi bom waktu yang meledak dalam diri. Ledakan demi ledakan akan benar-benar menghancurkan diri seseorang. Selagi berada dalam minggu tenang, kita bisa menjadikan kesempatan ini untuk melakukan refleksi diri yang mendalam.

Dengan adanya usaha untuk melakukan refleksi, kita bisa mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan. Bukan berarti bahwa kita tak percaya pada kemenangan, melainkan keyakinan yang buta tanpa disertai dengan refleksi akan mempengaruhi kelenturan berpikir dan menerima kenyataan. Membayangkan diri kalah bukanlah sesuatu yang buruk. Dalam psikologi, hal itu bisa menjadi frame atau simulasi mental yang dapat membuat kesiapan mental menjadi lebih kuat.

Sungguh disayangkan jika keinginan atau hasrat menang yang begitu besar, membuat kita lupa membayangkan situasi sebaliknya. Hal itu yang membuat kesiapan mental semakin lemah. Tak ada yang dapat dipastikan terkait hasil pemilu kedepannya. Semua memiliki kemungkinan menang, begitu juga dengan kemungkinan kalah.

Hal tersulit yang dari tahun ke tahun menjadi sumber penghancur kewarasan adalah modal politik yang begitu mahal. Sudah menjadi hal lumrah jika di Indonesia, para politikus diam-diam meyakini jika untuk menang, butuh menggunakan dana atau uang dengan jumlah besar. Tak tanggung-tanggung, di masa tenang seperti ini, money politics digunakan sebagai senjata. Bahkan ada yang beranggapan jika masa tenang, memang menjadi kesempatan untuk meraih untung atas rasa takut untuk kehilangan suara.

Beberapa politikus bahkan menganjurkan masyarakat untuk menerima uang yang diberikan, tapi sepertinya itu bukanlah keputusan yang tepat. Pasalnya, itu hanya akan membuat dua hubungan antara pemberi dan penerima terus berkembang. Ini menjadi budaya politik yang buruk tapi terus dilakukan secara berulang-ulang.

Sekiranya kita mampu menolak dengan tegas, maka tak akan ada lagi budaya kotor seperti itu. Ongkos politik yang membengkak hanya akan menjadi masalah di kemudian hari. Ini pula yang kerap mendorong politikus kita untuk meraup banyak uang bahkan dengan jalan korupsi.

Minggu tenang. Sekiranya membawa kita pada pertanyaan-pertanyaan yang lebih jernih. Pertanyaan yang tepat atas diri dan situasi, kelak akan membawa kita pada jawaban yang tepat. Memilih atau tidak memilih bukan lagi sekadar sebuah perilaku, melainkan sebuah kumpulan kemungkinan-kemungkinan yang disertai keyakinan sadar atas berbagai pilihan yang ada. Sekali lagi, tetaplah waras: sebelum dan setelah pemilu.

Wawan Kurniawan

Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wnkurn

Add comment

Tentang Penulis

Wawan Kurniawan

Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wnkurn

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.