Locita

Tetap Berdoa Meski di Rumah Aja Sembari Mengenal Nabi Zakaria as.

Ilustrasi (Foto: alfatih media)

Ada saat dimana kita kembali pada fitrahnya manusia, mengingat sang Khalik di tengah kesulitan. Dan saat ingin melakukan kesalahan, harus berpikir beberapa kali. Bukan karena kita bertobat pada masanya saja, tapi kita masih sadar kalau sebaik-baiknya tempat untuk bersandar hanya pada Dia yang Maha menciptakan.

Terbukti saat wabah corona melanda Indonesia, setiap kita muncul di permukaan dengan memohon perlindungan pada Allah. Dari yang ahli ibadah hingga yang biasa-biasa saja. Orang yang tak pernah bicara agama sekalipun, bermunculan. Mereka tak setuju saat ada imbauan dari MUI tentang larangan salat jumat di Masjid. Dan merasa kehilangan tempat meminta pada sang Maha pengasih.

Ditutupnya Tempat Ibadah

Bukan tanpa alasan Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa agar tidak melaksanakan ibadah salat jumat di masjid untuk sementara waktu. Fatwa tersebut dikeluarkan demi membantu mencegah penyebaran virus corona. Sebagaimana telah diketahui, jaga jarak adalah salah satu upaya untuk mencegah penyebaran virus tersebut, selain rutin cuci tangan.

Mengingat bahwa tempat ibadah seperti masjid, adalah tempat umum. Dimana masyarakat akan melaksanakan ibadah salat secara berjamaah. MUI pun tak serta merta mengeluarkan fatwa, ada pembahasan dalil yang menjadi rujukan mereka dalam menghadapi situasi saat ini.

Rupanya, fatwa tersebut tak langsung diindahkan oleh sebagian masyarakat. Mereka menunjukkan dalil perlawanan, seperti haram hukumnya jika laki-laki tidak melakukan salat jumat tiga kali berturut-turut, makai ia akan dihukumi kafir. Pendapat lain mengatakan, di tengah wabah seperti ini, harusnya ibadah ditingkatkan bukan malah melarang kita beribadah di masjid. Takut sama Tuhan saja, bukan pada virus ini.

Sebuah satire juga bermunculan di sosial media, berikut kicauan salah satu pengguna akun twitter “tak usah khawatir dalam menghadapi virus ini, surga dan neraka ditutup, karena seluruh tempat ibadah juga ditutup”.

Ada yang belum sampai pada masyarakat tentang jaga jarak. Ditutupnya tempat ibadah bukan berarti menutup peluang untuk beribadah dan menyembah pada Tuhannya. Bukan shalat jumatnya yang dilarang, namun interaksi sosial antara manusia –yang dikhawatirkan dapat mempercepat penyebaran virus tersebut.

Tentang jaga jarak, dalam hal ini bukan pada Tuhan, melainkan pada sesama manusia. Ibadah tetap harus dilakukan meski di rumah aja. Justru ini adalah kesempatan baik untuk kita beribadah dengan khusyuk. Merapalka doan-doa agar virus segera berlalu, yang berjuang diberi keselamatan, dan yang sakit segera disembuhkan. Kita tak perlu terlalu kaku menganggap bahwa di rumah aja, semua aktivitas akan terganggu. Hanya bisa makan, tidur, dan nonton. Kalau anda sseperti itu, lalu apa bedanya dengan Petric dalam film Spongebob Squarepants.

Mengenal Nabi Zakaria as.

Pada hari sabtu sore, adik saya lewat depan kamar saya sembari memutar lagu Maher Zein, berjudul Insya Allah. Sekilas mendengar lirik lagunya “don’t despair and never loose hope” artinya, jangan putus asa dan hilang harapan. Lirik ini mengingatkan saya pada kisah Nabi Zakaria as. yang diceritakan dalam surah Maryam.

Saat itu, Nabi Zakaria hampir kehilangan harapan, Beliau dibalut sedih ketika kaum kafir tidak mengakui kenabiannya. Nabi Zakaria difitnah sebagai Nabi palsu, kalau memang kau adalah seorang Nabi, kenapa kau tak dikaruniai anak. Padahal kau adalah orang yang beriman. Begitulah cacian yang dilemparkan pada Nabi Zakaria.
Namun, Nabi Zakaria terus memohon kepada Allah tanpa terbesit rasa kecewa sedikitpun. Sebagaimana yang telau dikisahkan dalam surah Maryam ayat 1-8.

Beliau melirihkan suaranya “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepadamu ya Tuhanku.”

Hingga kesedihannya itu didengar oleh Allah swt. Lalu Allah berfirman “Wahai Zakaria! Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki, namanya Yahya, yang kami belum pernah memberikan nama seperti itu sebelumnya.”

Nabi Zakaria sempat mempertanyakan hal itu, dikarenakan nabi Zakaria sudah tua dan istrinya telah uzur. Apakah mungkin Beliau masih bisa memiliki anak.

Allah pun berfirman menunjukkan betapa Dialah sang Maha Pencipta di atas segala-galanya. “Hal itu mudah bagi-Ku; sungguh, engkau telah Aku ciptakan sebelum itu, padahal pada (waktu itu) engkau belum terwujud sama sekali.”

Dalam kisah ini, semoga kita selalu menaruh harapan besar pada Allah. Jika setiap usaha sudah dilakukan, seperti jaga jarak dan tetap di rumah. Saatnya kita berperasangka baik pada Allah. Allah-lah yang maha mengabulkan dan Maha Kuasa atas segalanya. Tak ada keraguan di dalamnya. Mari kuatkan keyakinan kita. Betapapun kuatnya wabah ini menakut-nakuti manusia, tak ada yang lebih kuat dari kekuatan doa yang dikabulkan oleh-Nya.

Tidakkah kita yakin pada kekuatan doa? Berdoalah meski kita di rumah aja.

Siti Maryam Mahmud

Siti Maryam Mahmud

Pegiat Literasi di Forum Lingkar Pena Makassar. Alumni Bahasa dan Sastra Inggris di UIN Alauddin Makassar.

Tentang Penulis

Siti Maryam Mahmud

Siti Maryam Mahmud

Pegiat Literasi di Forum Lingkar Pena Makassar. Alumni Bahasa dan Sastra Inggris di UIN Alauddin Makassar.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.