Locita

Terima Kasih Tanpa Pilih Kasih di Thanksgiving

Perayaan Thanksgiving (foto: Arifuddin Balla)

KITA bisa belajar hal-hal baik dari orang lain terlepas dari apapun bangsa dan agamanya sebagaimana mereka juga dapat belajar dari kita. Merasa diri paling benar dan menganggap orang lain lebih buruk, terutama karena berbeda bangsa dan agama, adalah sebuah kesombongan yang tak terlihat dan berbahaya. Hanya saja memang dibutuhkan kerendah hatian untuk memungut hikmah yang tersebar di muka bumi ini.

Di sebuah riwayat disebutkan agar untuk belajar ke negeri Cina. Di riwayat lain disebutkan untuk bijak mengambil hikmah yang berceceran di mana saja.

Di Amerika Serikat, salah satu ucapan yang selalu terdengar terutama di tempat-tempat publik dan fasilitas umum adalah thank you. Di bus misalnya, selalu terdengar ucapan terima kasih pada supir. Padahal mengemudikan bus memang tugasnya. Juga jamak ditemui orang tua mengajarkan mengucapkan terima kasih pada anaknya sejak kecil. Orang tua sendiri tetap mengucapkan terima kasih pada anaknya dan sebaliknya.

Terima kasih adalah sebuah ungkapan kesadaran. Kesadaran bahwa hidup kita bergantung dengan orang lain. Tak dapat berdiri sendiri. Terima kasih juga sebuah pengakuan. Pengakuan kepada orang lain betapa pun kecil bantuannya. Bahwa kita sebagai manusia penuh dengan kekurangan.

Terima kasih adalah sebuah hal yang istimewa di Amerika Serikat lewat perayaan Thanksgiving. Saat hari Thanksgiving tiba di minggu ketiga setiap bulan November, kampus-kampus akan diliburkan sampai 4 hari lamanya.

Dan yang lebih penting Thanksgiving juga berarti pesta makan. Undangan makan malam bertebaran dari pihak apartemen, organisasi, profesor, atau teman sendiri. Saya jadi kelabakan sendiri menghadiri satu per satu. Tapi tentu tetap bersyukur, lumayan untuk berhemat. Maklum anak rantau. Bagaimanapun undangan makan adalah nikmat yang selalu menggoda, terutama ketika uang bulanan belum datang.

Umumnya menu yang disediakan adalah makanan tradisional Amerika Serikat. Biasanya berupa kalkun, kentang, atau kue pie labu. Perayaan Thanksgiving memang bertepatan dengan musim panen terutama labu. Menilik sejarah mulanya, Thanksgiving adalah pesta makan sebagai wujud syukur panen yang pertama kali dilakukan di tahun 1621. Dalam sejarahnya terdapat berbagai mitos dan kontroversi tentangnya.

Seringkali tradisi Thanksgiving dikaitkan dengan keagamaan. Sebab pada perayaannya adalah wujud syukur kepada Tuhan yang telah memberi nikmat tak berkesudahan pada manusia dan alam.

Pada dasarnya, Thanksgiving adalah ungkapan rasa syukur dan terima kasih. Kita bersyukur dan karena itu kita berterima kasih. Berterima kasih pada Yang Maha Kuasa atas apa yang telah diberikan setahun ini. Momen Thanksgiving menjadi momen berkumpul dengan sahabat, keluarga dan relasi. Momen ini biasanya pula disertai dengan saling menjamu atau saling memberi.

“Apakah di Indonesia juga ada perayaan Thanksgiving?” tanya Evan, seorang mahasiswa Amerika Serikat, saat saya sedang lahapnya menikmati kalkun panggang.

Di Indonesia, ada aneka perayaan sebagai wujud rasa syukur dan terima kasih. Entah dikaitkan dengan tradisi budaya atau keagamaan atau akulturasi budaya dan agama. Setiap menyambut hari raya Idul Fitri atau Idul Adha, kita akan disuguhi pesta makanan.

Bagi Suku Bugis-Makassar, juga ada ritual Mappadendang. Sebuah tradisi wujud rasa syukur keberhasilan panen. Tradisi ini juga berarti pesta makan. Hasil-hasil panen biasanya diolah dan dijadikan makanan khas Suku Bugis. Tersebutlah gambang lotong (tape ketan hitam), lemmang (nasi jahe), nasu likku (ayam yang dimasak dan dipenuhi dengan lengkuas yang telah dihaluskan).

Negara kita tak pernah kehabisan tradisi untuk menunjukkan rasa syukur. Dalam perayaan kita tak tanggung-tanggung mengeluarkan energi dan materi. Sebab kita tahu bersyukur kepada Sang Maha Kuasa tak akan terganti dengan apapun. Materi yang kita punya toh kita berasal dari-Nya

Hanya saja rasa terima kasih tersebut masih sering tak terwujud pada tingkah dan kata dalam keseharian. Walau kita memang sering mendengar ucapan terima kasih, baik lewat mesin atau kasir-kasir yang sering kali tak ubahnya suara mesin juga.

Ucapan terima kasih kita juga masih selalu pilih kasih. Ucapan terima kasih masih ditakar dari jabatan, status social, kekayaan, atau penampilan. Kita bersikap tebang pilih pada siapa kita berterima kasih. Kita bisa jadi sangat mudah berterima kasih pada mereka yang kita anggap memiliki kriteria tersebut tetapi kita masih malas berterima kasih pada pelayan di kafe yang membawakan makanan atau tukang jilid becak yang mengantar kita.

Kita bisa jadi sangat hormat berterima kasih pada pak lurah tetapi enggan berterima kasih pada pembantu di rumah. Ucapan terima kasih sepatutnya tak memandang batas. Terima kasih sepatutnya untuk semua orang tanpa melihat baju yang dipakainya, kendaraan yang dikendarainya, atau rupawan wajahnya. Sebab dibalik seragam, kendaraan, atau apapun yang melekat pada mereka, mereka tetaplah manusia.

Terima kasih, selain memunculkan rasa syukur dalam hati juga memberikan rasa penghargaan pada yang mendengarnya. Ucapan terima kasih memang hal sederhana tetapi dampaknya tidak sederhana.

Jadi sudahkah Anda berterima kasih tanpa pilih kasih?

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.