Locita

Tere Liye yang Anti Dosa Minta Dimengerti Oleh Netizen yang Maha Waras

TERE LIYE bikin heboh lagi, postingannya lagi-lagi menjadi buah bibir dan mengundang banyak komentar dari netizen. Ini bukan pertama kalinya dia menghebohkan jagat maya.

Postingannya tentang kemerdekaan Indonesia yang ia klaim  hanya diperjuangkan ulama Muslim. Kemudian keputusannya berhenti menulis buku karena merasa diperalat oleh tingginya biaya pajak adalah salah dua postingannya yang paling menyita perhatian publik.

Sebenarnya masih banyak postingan-postingan Tere Liye yang booming. Misalnya tentang rokok, hijab, pacaran dan budaya berfoto.

Postingannya yang kemudian menjadi buah bibir netizen sejak kemarin malam adalah tentang sikap Tere Liye yang menolak apabila quotes-nya dijadikan caption dalam postingan swafoto di Instagram. Sikap mencak-mencak Tere Liye di Facebook itu bukan tanpa alasan.

Sebenarnya ia telah menuliskan alasannya di Facebook kenapa ia sangat keberatan jika kata-katanya dijadikan caption postingan swafoto. Tapi dasar netizen punya hobi melawak yang keterlaluan, semua hal pasti ringan saja dijadikan bahan bercandaan di sosial media.

Alasan pertama, Tere Liye takut postingannya berubah makna. Menurutnya banyak orang yang asal mencomot tanpa mengetahui maksud sesungguhnya dari kutipan tersebut.

Itu situasi yang horor sekali. Sangat horor. Ketika tulisan2 yang saya tulis, quote2 yang saya posting di media sosial, melenting jauh sekali, lantas masuk ke kepala orang-orang yang bahkan tidak tahu apa makna, apa maksudnya Quote tadi, itu ada di novel “ Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah.”

Alasan kedua, Tere Liye enggan jika kutipan-kutipannya baik itu di buku maupun di media sosial membuat pembacanya bersikap terlalu berlebihan terhadap dirinya. Padahal Tere Liye sendiri tidak pernah merasa mencari popularitas.

Alasan ketiga, ketidanyambungan antara foto dan caption. Tere Liye sih mengaku dalam tulisannya di Facebook kalau ia oke saja jika quote-nya dijadikan caption foto selfie tapi menurutnya harus nyambung.

Perkara swafoto menurut Tere Liye adalah pilihan setiap orang. Jika demikian, seharusnya urusan caption yang tidak sesuai dengan foto juga adalah pilihan setiap orang.

Alasan lainnya Tere Liye takut jika suatu hari ditanya oleh malaikat, quote-quote-nya ternyata memberi dampak negatif ke orang lain.

Saya tahu ada yang marah, tersinggung, saat persoalan ini dibahas-karena merasa hobi selfie-nya yg sedang dipermasalahkan, padahal bukan. Tapi saya harus membahasnya. Agar besok lusa, saat hari akhir, saya ditanya malaikat: “Tere Liye, lu kagak tahu kalau tulisan2 lu itu malah memberi inspirasi negatif ke orang lain, hah? Lu tahu kagak kalau tulisan2 lu itu malah jadi pembenaran bagi orang lain, hah?” Saya bisa menjawabnya. Meski dengan suara gemetar, kaki lunglai sy bisa bilang, ‘Om Malaikat, saya sudah berusaha mengingatkannya. Sungguh.’ Saya jelas ikut ‘berdosa’ loh, dek. Semua yang kita katakan, yang kita tulis, itu diminta pertanggungjawabannya.

Saya mulai memahami bahwa sebenarnya Tere Liye ingin mensucikan diri dari unggah-unggahan warganet yang menurutnya hal itu adalah perbuatan dosa. Tere Liye enggan ditanya malaikat dan terpaksa harus turut campur terhadap dosa orang-orang yang sempat mengambil caption dari  quote-quote-nya

Saat Tere Liye mengerami diri dan merefleksikan dosa-dosa yang akan diberi ganjaran di akhirat kelak akibat caption yang tidak nyambung tersebut. Netizen justru semakin asik menggoreng postingan Tere Liye sebagai bahan tertawaan.

Ada yang berkata bahwa Tere Liye tidak sadar kalau semua postingan hanyalah milik Allah. Ada yang berkomentar Tere Liye juga kan ambil nama pena dari film India. Tapi kayaknya sutradara film India itu tidak pernah keberatan jika judul filmnya dicomot sebagai nama pena dari seorang penulis Indonesia yang bernama asli Darwis.

Ngomong-ngomomg soal film India, padahal kalau ingin adil, Tere Liye bukannya juga telah menyumbangkan dosa kepada sutrada film Tere Liye tersebut. Harusnya, Tere Liye tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, bagaimana jika kelak di neraka menurut versi si sutradara film ditanya oleh Om Malaikat.

Tahu tidak bahwasanya kata Tere Liye itu telah digunakan sebagai nama pena oleh penulis di Indonesia. Nama itu dijadikan jualannya untuk memasarkan buku-buku. Padahal buku-bukunya membuat selera sastra anak muda jadi payah, apakah kamu sadar kalau itu sangat berdampak negatif,” kata Om Malaikat kepada sutradara film Tere Liye.

Menurut Tere Liye, sutaradara film itu harus menjawab seperti apa untuk meloloskan diri dari pertanyaan malaikat? Sementara  dia tidak pernah mengingatkan Tere Liye untuk berhenti menggunakan nama pena tersebut.

Jika menurut teori Tere Liye di atas. Si sutradara kemungkinan besar tidak bisa melarikan diri dari pertanyaan Malaikat, apalagi menjadikan Tere Liye sebagai tumbal. Pasalnya, dia tidak pernah membuat keberatan terhadap Darwis yang menggunakan Tere Liye sebagai nama pena.

Tere Liye berhasil menjebloskan si sutradara tapi posisinya tetap aman karena sudah mengingatkan orang-orang untuk berhenti menggunakan quote-nya. Sungguh tidak adil!

Saya bersyukur selama ini belum pernah mengutip quote Tere Liye dalam postingan Instagram saya.

Lebih bersyukur lagi karena selama kuliah jurusan sastra, saya belum pernah ditugaskan oleh dosen untuk membuat makalah kritik sastra terhadap novel-novel Tere Liye. Sejujurnya jika diminta, saya tidak tahu harus memakai teori apa.

Oh ya, saya juga harus mengingatkan Tere Liye akan kutipan di lamannya, “Menulis Adalah Berbagi”. Situ sehat? Mungkin Mas Darwis lagi khilaf.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

4 comments

  • Saya bukan mahasiswa yang mendalami bidang sastra. Tapi sayapun merasa karya tulis Tere Liye itu “enggak banget” dan gak berisi hahahahaaa…
    Menurut saya dia hanya bermain diksi pada “kuwotes” bikinannya itu. Padahal diksinya juga (hadehh… gak tega nyebutnya… hahahahaaa…).
    Bahkan saya sempat berkata dalam hati “kalimat begini mah semua orang juga bisa bikin”, pas baca karya tulis dia yang gak sengaja dishare di facebook sama “alay pemburu like”. Dari situ saya heran dan bertanya-tanya dalam hati “kok karya begini disukain sama anak sekarang ya”.
    Saya yang seorang mahasiswa komunikasi langsung berpikir secara apa yang pernah saya pelajari.
    Menurut saya, it’s simple. Dia hanya memanfaatkan minimnya pengetahuan/pemahaman yang dimiliki anak-anak sekarang tentang diksi-diksi yang terkandung pada setiap karya tulis yang terkesan baku dan ambigu untuk dijadikan modal utama dalam karya tulis dia. Dan dari beberapa orang yang saya tanya mengenai karya tulis dia, mereka kebanyakan menjawab “kata-katanya keren, pas banget & bikin gw jadi baper”… udah gitu doang (ya ampuuun -___-) dan saya pun “mengelus dada, gelengkan kepala, saksikan perbedaan yang ada” berasa pengen teriak di kuping mereka; “NORAK lu!!!”. Saya aja pas baca karya tulisnya berasa lagi baca cerita liburan sekolah anak SD yang dikarang di selembar kertas jawaban ujian kenaikan kelas.

  • Saya bukan mahasiswa yang mendalami bidang sastra. Tapi sayapun merasa karya tulis Tere Liye itu “enggak banget” dan gak berisi hahahahaaa…
    Menurut saya dia hanya bermain diksi pada karya tulis dan berbagai “kuwotes” (atau kata bijak atau kata motivasi atau renungan pagi hari apalah namanya itu)… bikinannya yang pernah saya baca di sosmed. Padahal diksinya (ah sudahlah… gak tega nyebutnya… hahahahaaa…).
    Bahkan saya sempat berkata dalam hati “kalimat begini mah semua orang juga bisa bikin”, pas baca karya tulis dia dishare di facebook sama “alay pemburu like”. Dari situ saya heran dan bertanya-tanya dalam hati “kok karya yang kayak begini disukain sama anak-anak sekarang ya ?”.
    Saya yang seorang mahasiswa komunikasi langsung berpikir secara apa yang pernah saya pelajari. Menurut saya, it’s simple. Dia hanya memanfaatkan minimnya pengetahuan/pemahaman yang dimiliki anak-anak sekarang tentang diksi-diksi yang terkandung pada setiap karya tulis yang terkesan baku dan ambigu untuk dijadikan modal utama “menjual” karya tulis dia.
    Dan dari beberapa orang yang saya tanya mengenai karya tulis dia, mereka kebanyakan menjawab “kata-katanya tinggi banget & keren, pas banget & bikin gw jadi baper”… udah gitu doang (ya ampuuun -___-) dan saya pun “mengelus dada, gelengkan kepala, saksikan perbedaan yang ada” berasa pengen teriak di kuping mereka; “NORAK lu!!!”. Saya aja pas baca karya tulisnya berasa lagi baca cerita liburan sekolah anak SD yang dikarang di selembar kertas jawaban ujian kenaikan kelas.

    • saya jadi teringat suatu kejadian dimana teman-teman saya ribut ingin memiliki buku terbaru tere liye. ketika saya ditawari untuk membaca salah satu bukunya, saya menolak. saya pernah membaca satu bukunya dan hanya bertahan hingga beberapa lembar. Namun ketika si teman saya sodori bukunya leila. s chudori dan bahkan saya promosi bahwa buku tersebut sangat keren karena memiliki alur dan cerita yang kompleks, teman saya bilang dia hanya betah membaca hingga lembar ketiga. ketika saya membaca berita yang “lagi-lagi” tentang tere liye di media sosial dan bahkan banyak yang mendukungnya, saya hanya berpikir, sungguh generasi ini merupakan generasi maha benar dengan cita rasa literasi tinggi. salam

      • Makhluk macam apa yg menolak leila s. chudori??? Btw….kebiasaan baper bangsa ini mungkin nular dari bung tere liye haha.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.