Locita

Tantangan Pengelolaan Sumber Daya Air di Kota Bula

Sepanjang kurang lebih 5 bulan terakhir Kota Bula yang merupakan ibu kota dari Kabupaten Seram Bagian Timur sedang dilanda musim kemarau berkepanjangan. Akibat dari bencana tersebut hampir seluruh wilayah Kota ini dilanda kekurangan pasokan air bersih.

Mengutip bait pada lagu begawan solo yang salah satu baitnya berbunyi

“musim kemarau tak seberapa air mu, di musim hujan air meluap sampai jauh”

Seperti itulah realitasnya ketika musim kemarau. Kota ini juga seringkali dilanda kekeringan disaat yang bersamaan ketika musim hujan tiba, banjir juga kerap melanda kota ini. Jika persoalan ini ditarik lebih jauh, maka hal ini memiliki kaitan yang erat dengan Pengelolaan Sumber Daya Air, yang akar masalahnya adalah berhubungan dengan Persoalan pengelolaan sungai yang ada.

Lebih jauh lagi, ada beberapa alasan atau faktor tertentu sehingga keadaan semacam itu dapat terjadi. Bicara permasalahan sungai maka kita bicara tentang banyak hal diantaranya seperti perubahan tata guna lahan pada catchment area, konversi hutan dan lahan,Perubahan Iklim & Cuaca Ekstrim, Menurunnya daya serap & kapasitas tampung sungai, Okupasi bantaran sungai, keterbatasan lahan dan tingginya tingkat urbanisasi, Pencemaran yang berakibat menurunnya kualitas air dan terganggunya ekosistem (lingkungan hidup), serta Meningkatnya ratio debit maksimum dan minimum.

Inilah yang sebenarnya menjadi tantangan kita dalam melakukan pengelolaan sungai. Disamping itu tantangan rill kedepan yang harus juga mendapatkan perhatian bersama antara lain adalah Peningkatan jumlah penduduk, perubahan iklim, alih fungsi lahan dan eksploitasi Sumber Daya Alam berlebihan. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri dalam mengatasi persoalan ini. Praktis, jika pengelolaan Sumber Daya Air dilakukan dengan buruk maka dapat mengakibatkan terjadinya Daerah Aliran Sungai Kritis, Banjir, Kekeringan, Sampah dan Pencemaran dan masalah lingkungan lainnya.

Dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk menggunakan pendekatan empat (4) Pilar utama Konsepsi pengelolaan SDA dalam melihat persoalan banjir dan kekeringan yang kerap melanda Kota Bula.

Pertama mengenai Konservasi Sumber Daya Air.
Perlu adanya kegiatan penghijauan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) semisal Rehabilitasi dan Reboisasi Pada bagian Hulu DAS, selain itu dukungan dan ketegasan Pemerintah Daerah dalam membatasi pihak swasta yang masih saja melakukan eksploitasi Sumber Daya Alam secara berlebihan khususnya pada persoalan pengambilan material pada wilayah sungai.

Kedua Pendayagunaan Sumber Daya Air. Dalam hal ini, kita memerlukan adanya pembangunan infrastruktur pengelolaan Air yang baik. Saat ini kita telah memiliki Infrastruktur Namatimur yang sebaiknya direhabilitasi untuk menjadi Infrastruktur sistem pengelolaan air minum. Oleh karena itu sebagai tindak lanjutnya maka Pemerintah Daerah harus menyediakan PDAM di SBT dalam hal pengelolaan berlanjut, selanjutnya pada daerah dengan karakteristik daerah cekungan perlu dibangun semacam Embung Konservasi agar air pada musim hujan dapat ditampung pada embung tsb, pemanfaatan lainnya yang dapat dijadikan pengelolaan wisata terpadu.
Dalam hal ini kita dapat belajar dari apa yang telah dilakukan di Nusa tenggara timur. Meskipun daerah yang tandus, daerah NTT dapat keluar dari masalah kekeringan air bersih hal ini karena pembangunan infrastruktur tampungan air berupa embung yang masiv dibangun di NTT.

Ketiga adalah Pengendalian Daya Rusak Air. Ketika musim hujan dan banjir menghampiri, kerap kali debit air pada sungai mengalami laju yang maksimum menuju muara sungai. Banjir juga membawa segala macam sedimen akibat kerusakan yang terjadi pada Hulu DAS. Untuk itu sistem pengelolaan yang tepat kedepannya adalah membangun Infrastruktur pengendalian daya rusak air seperti Pembangunan Chek Dam, Sabo Dam yang berfungsi sebagai pengendali sedimen yang dapat mengatur jumlah sedimen ke hilir sungai tidak berlebihan dan Normalisasi Sungai yang mengalami karakteristik titik rawan banjir.
Selain daripada itu, yang terpenting adalah rehabilitasi sistem drainase Kota Bula secara terpadu dan menyeluruh.

Keempat bagi penulis adalah Pemberdayaan Masyarakat. Masalah banjir dan Kekeringan Air bersih tidak cukup hanya dibebankan kepada stakeholder pemerintah saat ini, apalagi instansi terkait. Pengelolaan Sumber Daya Air tentunya merupakan tanggung jawab stakeholder terkait diantaranya Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat. Salah satu contoh yang dapat diterapkan kedepan dan menjadi virus perubahan adalah dengan membentuk Komunitas Peduli Sungai dan Lingkungan, ini penting karena secara tidak langsung dapat membangun kesadaran kritis pada masyarakat setempat tentang pentingnya lingkungan.

Kedepan diharapakan kesadaran kritis yang terbangun menjadi sebuah kewajiban masyarakat antara lain Masyarakat peduli akan kepentingan umum, melindungi dan memelihara kelangsungan fungsi sungai, melindungi & mengamankan prasarana sungai, dan membantu usaha pengendalian dan pencegahan pencemaran air.

Dan untuk itu, Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila masyarakat itu sendiri ikut berpartispasi didalamnya, pemberdayaan masyarakat dinilai berhasil apabila kelompok komunitas atau masyarakat tersebut menjadi agen pembangunan.

Sebagai penutup, selain keempat komponen pokok diatas, kita tentu sadar bahwa Persoalan Pasokan Air Bersih ini adalah berhubungan dengan kebutuhan air manusia yang sangat penting untuk senantiasa terjaga. Sebagaimana standar pelayanan kita yakni memenuhi kebutuhan dasar air bersih 60 Liter / hari kepada semua orang dan tentu saja inilah yang menjadi pertimbangan tersendiri agar kedepannya Rencana Tata Ruang Wilayah Kab. Seram Bagian Timur khususnya pada Kota Bula perlu untuk dikaji kembali dengan cara mengkombinasikan potensi Sumber Daya Air, sehingga RTRW yang dihasilkan adalah RTRW berbasis Potensi Sumber Daya Air.

Mohammad Husein Alfian

Mohammad Husein Alfian

Tentang Penulis

Mohammad Husein Alfian

Mohammad Husein Alfian

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.