Locita

Menyibak Tabir Kasus Pegang Tetek National Hospital

Ilustrasi (sumber foto: bbc.com)

BEBERAPA hari ini, video pengakuan pelecehan seksual yang dialami seorang pasien cantik di rumah sakit Surabaya menghebohkan warganet. Video tersebut diunggah di akun Instagram. Diduga pemilik akun tersebut adalah korban pelecehan di rumah sakit tempat dia dirawat untuk menjalani operasi.

Dalam video, si perempuan menangis. Dia mengaku telah dilecehkan dan payudaranya diraba-raba oleh perawat laki-laki sebanyak 2-3 kali. Sontak video permintaan maaf antara perawat dan perempuan tersebut memicu keributan. Perawat tersebut kemudian keluar dari rumah sakit National Hospital, Surabaya yang sudah menghidupinya selama 5 tahun.

Ternyata keributan itu menjadi whistle blow untuk orang-orang yang mengalami kasus serupa. Uly Siregar, seorang warga Indonesia yang tinggal di Amerika kemudian membeberkan pengalamannya saat dirawat di rumah sakit Bandung di tahun 1990. Pemberitaan itu selayaknya bisa memicu stigma akan perawat.

TERKAIT KASUS PELECEHAN SEKSUAL NATIONAL HOSPITAL: Perwakilan IDI Mahesa Paranadipa: Tidak Ada Punishment yang Membuat Jera

Oh iya, kalau kita menelusuri kasus National Hospital, tentu kita mendapati kabar bahwa seorang dokter pernah turut melibatkan dokter yang memeriksa calon perawat perempuan

Di luar dari kasus National Hospital tersebut, bisa dibilang pelecehan seksual di rumah sakit bukanlah hal baru di dunia medis. Pada laporan the Guardian, di Inggris sendiri, pelecehan seksual di rumah sakit sejak tahun 2011, 1600 pelecehan seksual dilaporkan ke polisi rentang waktu 2011-2014. Laporan pelecehan tersebut terjadi di klinik dan fasilitas kesehatan lainnya.

Kejahatan ini turut pula menjerat para profesi kesehatan seperti dokter. Itu ditemukan olehThe Atlanta Journal Constitution, yang melakukan investigasi selama bertahun-tahun terhadap ribuan kasus pelecehan seksual yang terjadi antara dokter dan pasien dan menyelidiki jauh lebih dalam efek emosional dan fisik dari insiden pada korban.

Salah satu yang paling heboh adalah Larry Nassar, seorang dokter tim gimnastik AS yang divonis hukum 175 tahun karena melakukan pelecehan seksual terhadap ratusan pesenam wanita. Sebanyak 156 orang yang mengalami cedera olahraga dan turut mengalami kekerasan seksual.

Bahkan sesama pekerja medis rentan mengalami pelecehan seksual. Berdasarkan temuan BuzzFeed, sebanyak  3.085 pekerja medis pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja sepanjang 1995 hingga 2016.

Dari situ dapat dilihat bahwa kekerasan seksual memang rentan terjadi di lingkungan medis. Utamanya pasien sangat rentan sebagai korbannya, yang disebutkan oleh C.B. Kusmaryanto dalam Bioetika, memiliki sifat vulnarebility atau kerentanan. Kerentanan itu terjadi karena sakitnya ataupun kondisinya yang dalam hal ini tunduk akan relasi kuasa dengan petugas medis.

Yakinlah, ketika petugas medis melakukan pelecehan seksual bukan karena mereka horny atau ngaceng kepada pasien. Petugas medis sudah menjalani banyak tahapan pendidikan yang panjang. Mereka telah melihat perempuan bugil di atlas anatomi atau pasien saat masa magang atau profesi.

Mereka telah pernah melakukan pemeriksaan pasien dan melakukan palpasi (perabaan) pada pasien, mencukur “bulu”, memasang kateter, atau membantu persalinan. Saya yakin sekali kalau seorang yang sudah meluluskan sekolah keperawatan ataupun kedokteran sudah memahami bahwa profesinya adalah profesi luhur dan senantiasa menjadi barrier mereka dalam perbuatan tidak beretika.

Saya yakin juga para perawat adalah orang yang sangat mengerti sumpah yang diembannya. Tak sedikit dari mereka yang berdedikasi dan memiliki integritas terhadap pasien dan tempat kerja. Pengabdian mereka adalah tulang punggung fasiltias kesehatan dan orang-orang sakit.

Lainnya, rasanya kita perlu melihat bahwa perawat yang mengundurkan diri tersebut bukanlah orang baru kerja. Dia adalah asisten anastesi yang telah bekerja selama lima tahun, dan tentu kalau misalnya sedari dulu dia pasti dikeluarkan kalau memang kegiatan mesum itu sudah menjadi kebiasaannya.

Lantas apa yang salah?

Mungkin banyak faktor yang menyebabkan tingginya tingkat pelecehan seksual di fasilitas kesehatan dan rumah sakit. Stress dan tekanan bisa jadi salah satu penyebabnya. Bussines Insider merilis 29 pekerjaan yang menyebabkan stress, lebih setengahnya merupakan pekerjaan medis—beberapa diantaranya adalah dokter.

Begitu pula hasil penelitian Persatuan Perawat Nasional Indonesia, yang menyatakan bahwa 50,9 persen perawat Indonesia pernah mengalami stress kerja. Ya, bayangkan ketika kita harus hidup 24 jam di rumah sakit, dengan jadwal shift rehat seperti papan catur. Terlebih di rumah sakit ini perawat merupakan front line.

Sebagai seorang yang sehari-hari berinteraksi dengan perawat dan petugas medis lainnya, saya turut memahami bagaimana mereka terasing dari kehidupan mereka di luar tempat kerja. Ketidakberimbangan dalam work-life balance, yang dapat menyebabkan stress hingga gangguan perilaku.

Beberapa diantaranya kemudian mencari cara untuk menyelesaikan stress dan tekanan mereka di tempat kerja dengan berbagai macam cara mereka.

Saya ingat salah satu dari perawat bahkan pernah menuturkan selentingan kepada saya. “Kita (perawat) paling pertama tangani pasien, terus yang paling terakhir dapat gaji,” kelakarnya.

Di luar itu, beberapa tindakan medis memang mudah tergelincir dalam isu pelecehan seksual. Bayangkan saja ketika dokter atau perawat harus menangani trauma atau apapun yang mengenai bagian vital pasien. Atau mungkin ketika seorang dokter atau perawat harus melakukan palpasi pada dada, ketika sang pasien tidak mengetahui sebab dan tujuan sang dokter atau pelaku medis tentu mereka bisa saja mengajukan keberatan atau apapun pada sang dokter.

Saya pernah beberapa kali mendapatkan keluarga pasien yang langsung saja menuding pelecehan seksual kepada dokter di UGD atau bangsal saat tindakan medis yang tidak diketahuinya itu dilakukan.

Namun, sekali lagi, ini bukan berarti overgeneralisir dan pembenaran bahwa tindakan pelecehan seksual itu wajar Namun apakah perawat tersebut yang perlu dihakimi? Saya kira tidak juga. Saya sepakat dengan kata Bu Kofifah, saatnya National Hospital—dan rumah sakit-rumah sakit lainnya berbenah, utamanya kepada para perawatnya.

Mungkin rumah sakit perlu memperhatikan  coping stress pada pekerjanya. Juga perlu memperhatikan kesehatan mental para pekerjanya. Apalagi memang kesehatan mental senantiasa luput dari perhatian, karena cenderung tidak bermanifestasi secara fisik dan jelas dibandingkan penyakit lainnya.

National Hospital tidak boleh cuci tangan hanya dengan ajuan keluar pelaku. Kasus yang terjadi lebih dari satu, tanda bahwa ada masalah menjamur di dalam sistemnya.

Ya, sampai saat ini kita mungkin hanya bisa menduga. Dan dugaan terkuat ini ada masalah dalam dirinya. Saya kira, ketika kawan perawat ini diperhatikan kesehatan mentalnya, minimal dapat mencegah terjadinya kejadian tersebut.

Kini saya yakin dengan public shaming massal dia di media itu, perawat ini harus memendam malu yang luar biasa, bisa jadi juga gelar perawat dan masa depannya itu hilang selayak putih segelas susu karena setitik nila.

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Add comment

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.