Esai

Surga Terakhir di Pulau Bali

KETIKA membaca buku Michel Picard tentang Bali, Pariwisata Budaya dan Budaya Pariwisata duabelas tahun yang lalu, saya merasa betapa istimewanya Pulau Dewata ini. Deskripsi pengarang Perancis ini tentang Bali dalam kajian pariwisata budaya dan budaya pariwisata begitu lengkap. Bali telah menyuguhkan keduanya dengan begitu baik.

Sebelum menjelaskan pariwisata Bali, Picard membahas mitos asal usul Hindu-Jawa, dan predikat yang disandang Bali di masa lalu. Mulai dari sebutan pulau penjarah kapal karam, pulau dada telanjang, pulau para seniman, Pulau Dewata, surga terakhir, hingga surga yang hilang. Begitu banyak julukan yang disematkan pada pulau yang eksotis ini.

Bali laksana gadis cantik dengan pesona yang memanjakan mata, menarik minat wisatawan di seluruh dunia untuk mengunjunginya sepanjang tahun. Bali menjadi serbuan para pemburu mimpi yang ingin mencari kebebasan berekspresi, sebab Bali dianggap sebagai surga terakhir (the last paradise), setelah Hawaii dan juga surga yang hilang (the lost paradise) di kalangan pelancong dunia.

Sejumlah wisatawan berjemur di Pantai Kuta (foto: Rustam Awat) 

Bali penuh dengan tempat wisata yang indah mulai dari Pantai Kuta, Pantai Pandawa, Sanur, Uluwatu, Ubud, Nusa Penida, Jimbaran, Bukit Kintamani, Pura Besakih hingga Tanah Lot. Meskipun saya tak sempat menjelajahi semua tempat wisata yang indah itu saat di Bali, namun di antara banyaknya keindahan alam Bali, saya menganggap Tanah Lot merupakan tempat yang memancarkan eksotisme Bali.

Tanah Lot menyajikan sesuatu yang sukar dinalar tentang kreatifitas manusia membuat pura di atas batu terpisah, yang ketika laut mulai pasang menghadirkan ombak yang besar.

Wisatawan menyeberang seusai diberkati air suci (foto: Rustam Awat) 

Pada pulau yang eksotis ini, banyak orang yang mempertanyakan, apakah Bali akan tetap menjadi Bali dengan derasnya wisatawan dari seluruh dunia yang datang tak kenal waktu. Apakah Bali tidak akan terkontaminasi dengan budaya Barat?

Untuk menyakinkan itu semua, di tahun 1991, dalam pidatonya, Gubernur Bali Ida Bagus Oka menyampaikan “Bali tidak akan berubah, Bali akan tetap Bali. Dulu, 100 tahun yang lalu, sekarang, maupun ratusan tahun yang akan datang. Bali tidak akan pernah menggadaikan dirinya untuk pariwisata. Orang Bali sudah bertekad bahwa pariwisatalah yang harus tunduk kepada Bali. Pariwisata untuk Bali, bukan Bali untuk pariwisata”.

Menarik apa yang disampaikan sang gubernur 27 tahun yang lalu itu. Bali memang tidak boleh tunduk pada pariwisata, sebab itu hanya akan menghilangkan identitas Bali. Bali begitu menarik, karena di setiap tempat wisata, ada unsur budaya dan kepercayaan di dalamnya.

Itu terlihat pada sesajen yang diletakkan pada setiap sudut, maupun petugas wisata yang mengenakan pakaian adat dan ikat kepala khas Bali. Sesungguhnya budaya Bali dapat kuat bertahan dalam waktu yang sangat lama, karena budaya Bali lekat dengan kepercayaannya.

Sebagian besar daerah wisata di Indonesia bahkan di dunia hanya menawarkan keindahan alam saja, atau hanya budaya saja, tapi Bali begitu berbeda. Di Bali, wisata menawarkan segalanya, terutama alam dan budayanya. Bila Bali melepaskan unsur budaya dalam pariwisatanya, ia tak berbeda dengan daerah lain yang hanya menawarkan keindahan alamnya saja.

Justru keunikan Bali adalah karena keindahan alamnya berpadu dengan budayanya sehingga ke tempat wisata manapun pengunjung pergi, di setiap keindahan alam itu unsur budaya selalu lekat melalui sesajen yang diletakkan sebagai penghormatan pada alam dan persembahan pada dewa.

Dua kekayaan yang dimiliki Bali menjadikan pulau ini tersohor seantero dunia karena panorama alamnya dan terlebih lagi kekayaan tradisi kesenian dan religinya yang hampir tak kenal waktu. Banyak wisatawan yang terlanjur jatuh cinta pada Bali, dan ingin mengulang kunjungannya ke Bali karena rindu yang terus mendayu akan keindahan pulau yang lebih mirip sebagai mimpi daripada kenyataan.

Pesona Tanah Lot (foto: Rustam Awat) 

Para pengamat mengatakan Bali memang adalah surga yang dijanjikan itu, dan tentu saja yang terakhir. Hampir tak ada tempat wisata yang menandingi Bali dalam hal apapun. Ketenaran Bali turut mengusik seorang penulis bernama G. Gorer hingga ia menyempatkan diri berkunjung ke Bali. Kunjungannya dituangkan dalam bukunya yang terbit pada tahun 1936.

Di buku itu Gorer menulis, “Sepuluh tahun terakhir pulau ini telah banyak dituliskan, difilmkan, difoto dan disanjung-sanjung dengan cara yang hampir memuakkan. Maka saya datang kesana dengan setengah hati…..tetapi ketika pulang saya enggan meninggalkan pulau ini, karena yakin telah melihat sesuatu yang mirip utopia (impian) daripada apapun yang akan saya sempat lihat lagi”. Kekesalan dan kemuakan Gorer pada Bali seketika berubah menjadi kekaguman setelah ia menginjakkan kaki di pulau eksotis ini.

Selain keindahan alamnya, daya tarik Bali juga datang dari suatu pulau yang makmur dan bahagia, dengan penduduknya yang tak terkalahkan dalam hal menciptakan kemeriahan upacara. Di Bali, di setiap sudut rumah, jalan, jembatan, pohon, pura, tempat wisata, cenang sari (sesajen) berisi beras, daun sirih, minyak wangi, dupa diletakkan di dalam janur kelapa yang telah dirangkai sedemikian rupa sebagai persembahan pada dewata. Peletakan cenang sari dilakukan hingga tiga kali sehari di waktu pagi, siang, dan menjelang malam.

Sesajen di Pura Batu Bolong, Tanah Lot (foto: Rustam Awat) 

Wajar kiranya bila seorang penulis dan pemotret seperti Gregor Krause mengungkapkan bahwa “untuk bangsa yang berbahagia ini, hidup di dunia seperti ini nampak sebagai sebuah pesta yang tak ada habis-habisnya, kegembiraan yang meluap-luap atas kebahagiaan hidup, serta syukur dan takwa pada para dewata”.

Begitu banyak hal tentang Bali yang menghipnotis mata seorang Krause, dan dapat dimengerti bahwa dalam situasi seperti surga ini Krause berujar “saya dendam kepada Tuhan karena tidak membuat saya lahir di Bali”.

Begitu banyak para pesohor yang mengagumi Bali, baik yang dituangkan lewat karya seni lukis seperti yang dilakukan oleh Walter Spies, Rudolf Bonnet, Don Antonio Blanco, Jose Miguel Covarrubias, dan beberapa nama lain, maupun kekaguman yang disajikan lewat buku sebagaimana yang ditulis oleh Gorer, Krause, dan juga Picard serta pengarang yang tak mungkin disebutkan satu persatu.

Tak ketinggalan grup musik Slank yang membuat lagu berjudul “Bali Bagus” dengan sebaris syair, Terima kasih Baliku, untuk budaya dan alammu…Kiranya penggalan lagu tersebut cukup mewakili perasaan para personilnya tentang betapa memukaunya pulau ini dan bersyukur pada apa yang mereka lihat dan rasakan saat berkunjung ke pulau dewata ini.

Pura Batu Bolong di Tanah Lot (foto: Rustam Awat) 

***

Orang-orang Bali konon merupakan orang-orang Jawa Hindu yang memilih berpindah ketika Islam berkuasa. Setelah Majapahit jatuh pada awal abad ke-16, legenda mengisahkan terjadinya gelombang imigrasi besar-besaran di Bali, dari para bangsawan, pendeta, sastrawan, dan seniman untuk menghindar dari desakan agama Islam yang tidak terbendung di pulau Jawa.

Yang agak mengherankan, sebagai daerah pulau, masyarakat Bali tak kental dengan dunia maritim sebagaimana halnya masyarakat pulau pada umumnya, hal ini semata karena kepercayaan masyarakatnya yang memandang laut bukan sebagai berkah namun sumber petaka. Dalam bukunya, Pichard menulis, meskipun hidup di sebuah pulau, orang Bali sama sekali tidak berorientasi ke laut, melainkan ke gunung.

Di samping karena tepi laut Samudera Hindia yang tidak ramah, alasan yang jauh lebih penting karena ruang sosial Bali yang diatur oleh sebuah kosmos yang tersusun secara hierarkis berdasarkan pertentangan yang saling melengkapi antara dunia atas (kaja) arah gunung tempat bersemayamnya para dewa, dan dunia bawah (kelod) arah laut, tempat para setan, ditandai dengan penyakit-penyakit dan maut.

***

Tak berlebihan kiranya bila Bali berada di tempat teratas untuk menyandang predikat eksotisme Indonesia dan juga dunia. Nama Bali telah mendunia, dan segala apapun tentangnya mengundang decak kagum akan keindahan, kreatifitas, keramahan, dan upacara.

Bali telah menjadi komoditas dunia, dan nama Bali menjadi ikon global dalam dunia pariwisata. Suvenir  dengan nama dan penciri Bali menjadi barang yang paling diburu wisatawan sebagai penanda bahwa mereka telah sampai di tempat tersebut. Pembuat dan penjual suvenir begitu marak di tempat-tempat wisata sebagai bagian dari wisata itu sendiri. Ketika wisata tumbuh, maka orang-orang sekitar ikut bertumbuh di dalamnya dan memperoleh manfaat dari dampak pariwisata.

Penjual Souvenir di Tanah Lot (foto: Rustam Awat) 

Kini, mungkin benar adanya, Bali akan tetap menjadi Bali, 1, 10, 100 tahun ke depan, dan wajar dalam cara pandang Barat –meskipun agak ekstreme- bila Krause dendam kepada Tuhan sebab ia tak dilahirkan dan menjadi orang Bali. Sesuatu yang ia impikan karena begitu terpesonanya ia pada pulau para dewa ini.

Bali, surga terakhir atau surga yang hilang? Di kalangan wisatawan, Bali adalah keduanya.

Rustam Awat

Rustam Awat

akademisi, pejalan, pemotret

Previous post

Aina Gamzatova: Muslimah Menjadi Presiden Rusia?

Next post

Twitwar Centil Dedi Mizwar Vs Hidayat Panaskan Pilgub Jabar