Esai

Surat Cinta Untuk Respiratori Saddam Al-Jihad

Surat cinta ini hampir satu bulan terabaikan dan hanya menjadi draft tulisan. Alasannya macam-macam. Keberanian untuk menuliskannya menjadi surat terbuka, sama dengan membiarkan diri kena bully. Bagaimana tidak? Belum selesai ditulis saja sudah ada pesan masuk di whatsapp “centil banget sih…”.

Sebelumnya ijinkan saya memperkenalkan diri. Saya adalah salah satu kader biasa (ralat: amat sangat biasa) himpunan yang kini sedang anda pimpin. Teman-teman biasa memanggil saya Adis, Adiseh, Diseh atau Buih Sabun. Alasan saya menulis surat cinta sebagai surat terbuka ini sangat sederhana. Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada anda selaku Ketua Umum PB HMI yang sedang menjadi idola baru bagi teman-teman perempuan kader HMI-Wati di seluruh Indonesia.

Pertama, saya mengucapkan selamat telah berhasil sebagai pemenang pada kontestasi politik PB HMI beberapa waktu lalu. Sebagai kandidat termuda anda berhasil menjadi pucuk pimpinan organisasi mahasiswa tertua di Indonesia yang memiliki ribuan kader tersebar di seluruh Indonesia. Kedua, selamat atas pengukuhan kemenangan dengan pelantikan beberapa minggu lalu, merupakan pelantikan tercepat (dari masa kongres) yang pernah saya hadiri.

Saat menulis ini, kabarnya Kakanda sedang ada di Azerbaijan untuk menghadiri Islamic Conference Youth Forum for Dialogue and Cooperation (ICYF-DC). Semoga forum tesebut bisa menjadi langkah awal, terlibatnya HMI dalam isu-isu dunia agar tidak hanya terlibat dalam aksi berjilid-jilid di tanah air.

Saya tidak akan melakukan kritik terhadap kepengurusan PB HMI yang saat ini dinilai sangat “gemuk”, karena bagi saya itu adalah konsekuensi logis dari kemenangan yang diraih dengan koalisi besar. Begitu kira-kira pemahaman saya yang awam ini.

Saya ingin mengajak ingatan anda mundur sedikit, refleksi atas apa yang sebenarnya PB HMI telah lakukan pada kepemimpinan satu periode sebelumnya? Adakah hal-hal substantif atau gerakan yang menunjukan keberpihkan pada rakyat tertindas dan turut menjaga keutuhan bangsa Indonesia ini?

Jujur, saya sulit untuk menemukannya, selain dua momentum besar yang dipilih PB HMI. Yakni meributkan cuitan Saut Situmorang soal HMI yang melahirkan generasi koruptor dan turunnya HMI dalam aksi berjilid-jilid soal penistaan agama.

Saya tidak akan mengkritik secara dalam terhadap langkah politik yang diambil PB HMI kala itu, tapi cukup bagi saya untuk menyegarkan ingatan dan bertanya, Akan kemana arah perjuangan PB HMI dua tahun kedepan?”.

Kakanda Saddam,

Saya pikir, untuk memulai melakukan perbaikan dalam tubuh HMI terutama ditataran pengurus besar kita harus berani jujur untuk mengatakan bahwa himpunan kita yang tersayang ini sedang tidak baik-baik saja. Sudah cukup lama, organisasi mahasiswa ini kian berubah menjadi “elit mahasiswa”, yang hanya terus melihat persoalan rakyat dari menara gading. Beranikah kita mengakuinya?

Sederhana saja mengukurnya, berapa banyak aksi-aksi yang dilakukan PB HMI yang berani memihak rakyat tertindas? Di mana posisi PB HMI selama ini?

Kakanda Saddam, keberanian saya menulis surat ini berawal saat melihat dari jauh kemenangan yang berhasil anda dan tim raih, dengan asusmsi sederhana sebagai kandidat termuda,  anda tentu akan lebih terbuka terhadap kritik, masukan, ide dan gagasan.

Saya mencoba merangkum beberapa persoalan penting yang sedang kita hadapi sebagai rakyat Indonesia yang majemuk. Harapannya, tentu saja agar PB HMI tak hanya semakin mesra dengan penguasa tapi kembali turun ke grass root. Berikut beberapa pandangan saya.

Baca juga: Saddam Al Jihad dan Ambisi Vlogger HMI

1. Aksi Kamisan

Aksi kamisan merupakan aksi diam dengan payung hitam untuk menolak impunitas. Dilakukan sejak 18 Januari 2007 sampai saat ini. Aksi ini diinisiasi oleh korban atau keluarga korban pelanggaran HAM bersama dengan KontraS dan Jaringan Relawan Kemanusiaan. Mereka bertahan dengan perjuangannya demi pengungkapan fakta kebenaran yang selama ini terus diabaikan negara.

Kakanda ingat Cak Munir? Iya, Munir Said Thalib yang selama ini kita kenal sebagai aktivis HAM dan dibunuh di udara. Saya termasuk yang lambat mengetahui bahwa Munir adalah salah satu alumni himpunan. Saya kira sosok Cak Munir bisa menjadi salah satu yang patut kita ingat perjuangannya dan kembali turun kejalan saling bergandengan dengan mereka yang selama ini terus menuntut keberpihakan negara pada korban pelanggaran HAM.

2. Tarik RKUHP Ngawur

Hadirnya Rancangan Undang-Undang KUHP ini mulai mencemaskan karena ada beberapa pasal yang dianggap ngawur dan over kriminalisasi. Aliansi Nasional Reformasi KUHP menuntut pemerintah untuk menarik draft RUU KUHP ini.

Fyi, selain ada perluasan pasal zina yang tidak berpihak pada kelompok rentan, salah satunya perempuan. Ada juga pasal yang berpotensi mengancam kebebasan berekspresi dan memberangus demokrasi. Saya berharap semoga Kakanda Sadam dan jajarannya memasukan ini menjadi salah satu fokus perhatian dan salah satu kebijakannya untuk terlibat dalam kampanye #TarikRKHUPNgawur.

3.  Dukung RUU Penghapusan Kekerasan Seksual

Media kita setiap hari memunculkan kasus kekerasan seksual di seluruh Indonesia. Ada anak 14 tahun diperkosa 11 orang sampai meninggal, balita dicabuli ayah titinya, nenek di perkosa dan dibunuh oleh cucunya. Kasus kekerasan seksual semakin marak terjadi, tak peduli di ranah domestik maupun publik. Tapi kita tak punya undang-undang yang mumpuni sebagai landasan hukumnya. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual adalah jawabannya.

Saya tahu dalam tubuh HMI ada salah satu bidang yang mengurusi isu keperempuanan. Tapi saya sengaja memasukan ini sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan Kakanda, semoga PB HMI yang terkesan sangat maskulin dan patriarkal ini sudi ikut terlibat dalam isu-isu pro perlindungan perempuan.

4. Tahun Politik, Tahun Menggelitik

Saya bingung memulai ini dari mana agar tak terkesan sotoy dan menyebalkan. Tapi, kira-kira begini Kakanda. Keputusan Kakanda Saddam untuk menimpali puisi Sukmawati dengan kembali baca puisi (meskipun tanpa editing dan banyak sura bising yang mengganggu) saya kira keputusan tepat. Saya tadinya khawatir Kakanda akan mengerahkan pasukannya untuk kembali ikut aksi demo yang bagi saya tentu saja tak substantif.

Sulit rasanya melihat keterlibatan PB HMI dalam aksi berjilid-jilid dalam demo Ahok tanpa turut melihat kepentingan politik di dalamnya dan memanfaatkan momentum. Meskipun tentu saja ada jargon bela islam di sana.

Anda akan memipin organisasi tertua ini dalam momen politik yang tentu saja akan berat dan kadang memuakkan. Pilihannya tak pernah akan abu-abu. Politik memaksa kita untuk menunjukan keberpihakan, akan kanan atau kiri.

Lalu bagaimana dengan langkah politik PB HMI? Berpihaklah pada akal sehat dan pada  mereka yang tertindas. Mereka yang tanahnya dirampas. Mereka yang ladangnya di curi. Mereka yang gunungnya dikeruk. Mereka yang gajinya tak dibayar koorporasi. Mereka yang jadi korban dari pasal-pasal karet yang hanya semakin mengukuhkan superiotas satu agama mayoritas. Mereka yang jadi korban perkosaan dan kembali dipersalahkan. Hindari konflik khas ala partai politik yang rebutan momentum dan sorotan kamera, karena kadang itu sangat memuakkan.

Saya kira itu beberapa point ‘cinta’ saya pada Kakanda Saddam. Tulisan ini dibuat tanpa sedikitpun bermaksud untuk menggurui atau memojokkan. Saya hanya sedang menunjukan sedikit kecintaan saya pada himpunan yang nampaknya telah menipis dan mulai habis ini.

Semoga Kakanda Saddam berkenan membacanya sampai usai. Selayaknya setiap pemberi surat cinta, harapan untuk mendapatkan balasan pasti ada, tapi cukuplah di balas dengan ide dan gagasan progresif serta inspiratif bagi tubuh PB HMI kedepan atau mungkin satu cup eskrim durian plus cokelat kesukaan saya (bukan kode).

Terakhir, semoga saya tidak melulu menemukan para pengurus PB HMI di kafe-kafe mewah di Jakarta tapi juga tulisan-tulisannya di media dan suara-suara lantangnya di forum-forum diskusi dan tak pernah surut menggugat penguasa dan kedzaliman.

Salam Cinta,

Buih Sabun.

Adis Puji Astuti

Adis Puji Astuti

Berbuih bersama @Perutpuan - Meyakini bahwa durian adalah surga dunia kedua setelah orgasme.

Previous post

Kebenaran Yang Membingungkan

Next post

Negeri Para "Pembela Tuhan"