Locita

Sumpah Pemuda dan Agenda Strategis di Masa yang Akan Datang.

Apa karakteristik khusus dari generasi muda? Mereka tidak terbiasa menghabiskan waktu untuk terjebak dalam romantisme sejarah masa silam. Mereka lebih senang menyeburkan diri dalam percakapan dan diskursus-diskursus produktif tentang masa depan.

Tapi bukan berarti mereka buta sejarah. Mereka memahami sejarah sebagai cermin pengalaman untuk menyusun langkah menuju masa depan. Sebab mereka sadar, sejarah juga punya jebakannya sendiri. Ia seperti dua sisi mata uang, yang satu sisinya bisa menjadi berkah. Yang satunya bisa menjadi kutukan.

Karena itu, mereka tidak mau terjebak. Terjebak pada romantisme sejarah adalah sama halnya dengan mengkondisikan diri ke dalam situasi di mana kita tetap berjalan menuju masa depan tapi dengan wajah yang sepenuhnya dihadapkan ke belakang. Kita maju ke depan tapi dibayang-bayangi sejarah.

Dengan demikian, maka menjadi lebih produktif percakapan tentang 90 tahun Sumpah Pemuda, jika diwarnai dengan pembahasan terkait agenda-agenda strategis kepemudaan yang lebih aktual dan up to date.

Lantas apa agenda kepemudaan yang wajib menjadi concern kita saat ini? Tantangan Bonus Demografi.

Indonesia saat ini memasuki era emas Bonus Demografi, yang puncaknya diprediksi akan terjadi di tahun 2025-2030.

Apa itu Bonus Demografi?

Bonus Demografi adalah situasi dimana struktur kependudukan suatu negara didominasi oleh jumlah penduduk berusia produktif (15-64 tahun) yang lebih besar dibanding jumlah penduduk berusia tidak produktif (1-15 tahun dan orang tua berusia 64 tahun ke atas). Sehingga rasio ketergantungan penduduknya (dependency ratio) rendah.

Di tahun 2016, angka populasi penduduk Indonesia berkisar 258 juta jiwa. Dari total keseluruhan itu, jumlah penduduk berusia produktif berjumlah 174 juta jiwa, 67% dari total populasi. Dengan proporsi seperti ini, angka ratio ketergantungan penduduk Indonesia sebesar 48,4%. (Data BPS tahun 2016)

Angka rasio ketergantungan 48,4% ini dapat ditafsirkan sebagai berikut, bahwa 48-49 orang tidak produktif (terdiri atas anak-anak usia 1-15 tahun dan orang-orang tua usia 64 tahun ke atas) akan ditanggung atau ditopang kehidupannya oleh 100 orang berusia produktif.

Angka ratio ketergantungan penduduk ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan rasio tiap tahunnya sejak tahun 1971sebesar 86%. Angka ratio ketergantungan ini juga diprediksi akan terus menurun seturut proyeksi Badan Pusat Satistik yang menyebutkan bahwa jumlah penduduk berusia produktif akan meningkat hingga 70% dari total populasi penduduk Indonesia di tahun 2030.

Jika dibaca sekilas, sebagaimana frasa “Bonus” yang melekat pada istilah bonus demografi, maka deretan angka statistik ini menjanjikan limpahan manfaat yang besar bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. Hanya saja, jika tidak terkelola baik dengan kebijakan yang terencana dan komprehensif, potensi demografi ini justru akan menjadi beban sekaligus petaka bagi negara.

Hal lain yang menggembirakan dari data tersebut adalah jumlah penduduk berusia produktif didominasi oleh penduduk terkategori muda, pada rentang usia 15-35 tahun. Artinya, generasi muda adalah sektor vital dan strategis yang dapat menjadi source of growth, sumber pertumbuhan ekonomi negara.

Tapi situasi ini pun bukan tanpa tantangan. Melimpahnya penduduk usia produktif tapi tidak dibarengi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan yang cukup, hanya akan menyebabkan besarnya angka pengangguran. Alih-alih berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, potensi demografi ini justru menjadi beban bagi negara.

Di titik ini, problem tersebut menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah dan wajib mendapat perhatian serius dari para pembuat kebijakan.

Menurut hemat penulis, setidaknya ada dua prasyarat pokok yang wajib dipenuhi untuk mengantisipasi dampak negatif dari melimpahnya penduduk usia produktif sehingga potensi besar yang dimilikinya terkelola baik dan berkontribusi besar bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi.

Pertama, investasi progresif pada sektor pembangunan sumber daya manusia yang meliputi aspek kesehatan dan pendidikan. Penduduk usia produktif perlu memperoleh akses kualitas layanan kesehatan yang baik, serta kemudahan akses pendidikan dan pelatihan. Sehingga keterampilan yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan ini dapat meningkatkan kompetensinya dalam persaingan dunia kerja.

Kedua, fokus pada kebijakan yang dapat mendorong terbukanya lapangan kerja seluas-luasnya, serta penyerapan tenaga kerja dalam negeri dalam jumlah besar. Misalnya, mewujudkan iklim berinvestasi yang mudah dan kondusif, alokasi belanja modal pada sektor strategis, dan kemudahan membuka usaha.

Dengan banyaknya penduduk usia produktif yang terserap lapangan kerja dan membuka usaha, ekonomi pun akan tumbuh disertai peningkatan PDB. Dari sinilah pertumbuhan ekonomi dimulai.

Dengan demikian, dua ancaman yang menjadi masalah serius dalam menghadapi bonus demografi, pengangguran dan ketersediaan lapangan kerja, dapat dikelola secara terencana dan terselesaikan. Sehingga bonus demografi benar-benar mendatangkan manfaat bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi bangsa.

Ujungnya, harapan besar Indonesia sebagai negara maju dan sejahtera dapat kita wujudkan.

Cherish Harriette Mokoagow

Cherish Harriette Mokoagow

Penulis adalah mantan reporter, saat ini menjadi calon anggota DPD RI Dapil Sulwesi Utara.

Add comment

Tentang Penulis

Cherish Harriette Mokoagow

Cherish Harriette Mokoagow

Penulis adalah mantan reporter, saat ini menjadi calon anggota DPD RI Dapil Sulwesi Utara.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.