Locita

Staf (atau Utusan) Khusus Milenial Presiden Jokowi Staf khusus yang tidak sepenuhnya mewakili kaum milenial

Presiden Jokowi mengumumkan 7 (tujuh) yang disebutnya staf khusus milenial. Mereka seolah mewakili kaum milenial yang jumlahnya tidak main-main, 34,45% dari populasi Indonesia.

Kepada mereka, Presiden Jokowi mempunyai harapan sebagai jembatan menjangkau anak muda. Tetapi belum juga harapan itu tercapai, gelombang kritik telah menghadang.

Di sosial media, seperti Instagram, kritikan itu bermunculan. Fokusnya adalah kartu privilise yang mereka miliki. Mereka adalah CEO sini dan situ. Alumni luar negeri. Kampus Ive League. Ditambah lagi, muda dan kaya. Syarat-syarat yang cukup untuk menjadi motivator. Namun, dengan privilise ini pula yang menjadi titik-titik serangan kepada mereka.

Bagi beberapa dari mereka seperti Belva, Putri, atau Billy, datang ke istana dan bertemu dengan presiden bukan pengalaman baru. Mereka telah keluar-masuk istana jauh sebelumnya. Barangkali dari situ pula Presiden Jokowi mulai mengenalnya. Nama-nama mereka mentereng di jagat sosial media.

Tetapi apakah dengan begitu mereka serta merta mewakili kaum milenial yang jumlahnya tidak sedikit itu? Apakah mereka juga mewakili lintas sektor permasalahan negeri ini?

Orang-orang yang sejak dulu lahir dari keluarga menengah ke atas, tidak merasai birokrasi yang njlimet minta ampun, karpet merah selalu dibentang, ada berapa kaum milenial yang mereka dapat wakili di negeri ini dari Sabang sampai Mereka?

Mereka bukanlah warga kebanyakan. Bukan mayoritas penduduk negeri ini yang merasakan ketimpangan sosial begitu lebar. Mereka memiliki hak veto, hak-hak istimewa yang tidak memungkinkannya bersusah payah. Sebuah hal yang kebanyakan dari kita tidak miliki.

Ada banyak tokoh anak muda inspratif di negeri ini. Mereka yang terjun langsung ke pedalaman-pedalaman. Turun ke akar rumput. Mereka bergerak menyisir permasalahan-permasahan sosial. Dari literasi ke kesehatan. Keluar-masuk hutan dan pelosok.

Memanusiakan manusia. Mempraktekkan nilai-nilai ilmu sosial dan humaniora. Satu jenis ilmu yang terlalu sering diabaikan dengan negara ini. Namun, juga satu kekurangan ilmu yang membikin negara-negara ini makin sering ribut dan saling sikut. Sebab yang kita sering anggap penting hanya ilmu-ilmu sains belaka. Ilmu-ilmu yang cepat mendatangkan uang dan mendorong pembangunan gedung-gedung dan mengabaikan pembangunan manusianya.

Saya tidak sedang merendahkan mereka beserta seluruh prestasi dan kecerdasannya. Mereka adalah inspirasi bagi banyak orang, termasuk juga saya, seperti Billy Mambrasar. Seorang anak Papua yang merangkak-rangkak dari bawah hingga pada posisi ini.

Hanya saja, saya cukup menyayangkan bahwa presiden tidak cukup melirik kepada mereka yang bukan CEO, yang memang tidak punya usaha untuk menghasilkan uang, sebuah hal penting untuk investasi, namun telah menggerakkan kesadaran-kesadaran untuk berpikir anak-anak muda, dengan gerakan-gerakan sosial. Dengan kalimat yang lain, tujuh staf khusus itu tidak berimbang. Barangkali terlalu banyak dari kalangan kelas atas.

Dan mau tak mau, meski pun mulut mereka berbusa-busa mewakili seluruh lapisan kelas, mereka tetap akan sedikit banyaknya berbicara berdasar kelasnya. Dari bisikan-bisikan tersebut sampai ke telinga Presiden, lalu menjadi kebijakan.

Kebijakan-kebijakan yang menguntungkan kepentingan mereka, para stafsus itu. Lalu kelak juga menguntungkan anak cucunya. Lingkaran ini terus berputar sehingga yang tampak adalah wajah-wajah milenial tetapi tidak mewakili bentuk-bentuknya yang berbeda satu sama lain.

Padahal meski sama-sama milenial, kepentingan antara milenial yang satu dengan yang lainnya bisa berbeda. Tidak semua dari mereka akan menjadi CEO. Tidak semua dari mereka tertarik dengan kewirausahaan (entreneurship).

Satu catatan penting lainnya adalah adakah juga tugas khusus kepada mereka sebagai staf khusus? Pembagian tugas ini sekiranya penting sebab permasalahan milenial kita tidak hanya bertumpu pada satu titik belaka. Tidak selalu hanya melulu soal pendidikan atau industri, investasi, atau start up tetapi juga soal HAM, hukum, keagamaan, budaya, literasi dan bidang sosial lainnya.

Tugas-tugas ini tentu menjadi tanggungjawab Presiden Jokowi sebagai pemegang penuh otoritas. Adakah pilihan-pilihan tersebut adalah pilihan yang adil dan tidak sekadar mewakili selapis lapisan struktur kelas sosial saja untuk menjadi utusan staf khusus.

Meski begitu, staf khusus telah terpilih. Semoga bisikan-bisikan mereka dapat menjangkau seluruh kepentingan masyarakat luas. Mereka punya cukup banyak waktu untuk membuktikannya.

Mereka juga berhak mendapatkan kepercayaan kita, setidak-tidaknya sebagai sesama anak bangsa. Dan kita, langsung atau tidak, harus turut serta membantu sembari menyertainya dengan kritikan konstruktif.

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.