Locita

Sri Mulyani tidak Pantas, Hanya Fadli Zon yang Jago Segalanya

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

SRI Mulyani Indrawati (SMI) tampak sumringah. Di atas panggung yang dihadiri para menteri dunia itu. Ia menapak beberapa anak tangga, sejurus kemudian ia menggenggam plakat yang diserahkan oleh pemimpin Dubai, Sheikh Mohammad bin Rashid Al Maktoum.

Plakat tersebut sebagai bentuk penghargaan atas terpilihnya SMI menjadi Menteri Terbaik se-dunia pada acara World Government Summit 2018 di Dubai, UAE. Pekan lalu.

Pengumuman ini setiap tahun, dan sudah mulai diberikan sejak 2016. Proses seleksi dan penentuan pemenang dilakukan oleh lembaga independen Ernst & Young. Saya ikut kagum dengan SMI.

Pengakuan tersebut sebuah kesuksesan, puncak tertinggi bagi seorang pejabat menteri. Ini tingkat dunia loh, dan diberikan oleh lembaga independen. Menteri keuangan kita patutlah diapresiasi.

Namun, tunggu dulu apakah penghargaan yang diraih menunjukkan prestasi bidang ekonomi SMI sudah kita rasakan, khususnya masyarakat kelas bawah?

Setidaknya, kritikan tidak selarasnya penghargaan dengan yang dirasakan masyarakat sudah dilontarkan para kader partai Gerindra.

Gerindra sebagai partai utama oposisi melalui kadernya yang fenomenal, Fadli Zon, langsung bereaksi, tapi gak sampe ereksi kok.

Dia tidak percaya dengan penghargaan itu, baginya sebatas pencitraan. Seperti asumsi mereka selama ini, semua yang dilakukan pemerintah hanyalah pencitraan kelas cebong yang mendukung, yah cebongers juga.

Kata Fadli penghargaan itu tidak pantas, karena masyarakat semakin merana. Sri Mulyani tidak layak meraihnya di tengah pelemahan ekonomi indonesia, pembangunan tidak merata, serta utang yang menumpuk.

Kalau melihat keadaan ekonomi yang melambat sejak dua tahun SMI
menjabat, memang sektor ekonomi paling mudah jadi sasaran empuk oposisi. Pertumbuhan ekonomi pada 2017 kita masih kalah dari negara asia lainnya, atau pendapatan domestik bruto yg rendah.

Tidak usah ke negara maju seperti China atau Korea Selatan, cukup kita membandingkan dengan negara tetangga.

Vietnam dan Filipina misalnya, dua negara yang sejak dulu masih di bawah kita. Masing masing memperoleh pertumbuhan 6,9 dan 7,5 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi kita pada 2017 hanya 5,07 persen, dan tahun ini diprediksi hanya 5,4 persen.

Sekedar informasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2014 sebesar 5,01 persen, tahun 2015 sebesar 4,88 persen, dan tahun 2016 sebesar 5,03 persen. Jadi tahun lalu yang tertinggi sejak 2014.

Sementara itu adapula hutang menumpuk serta pembangunan infrastruktur yang tidak menyentuh masyarakat lapisan bawah. Ini kata Fadli loh ya.

Jika merujuk pada indilkator penghargaan menteri terbaik dunia, memang ada yang perlu diperjelas seperti kata pakar ekonomi Rizal Ramli Ada dua bagian penilaian yang diberikan EY keliru.

Pertama, klaim dalam lima tahun Indonesia mampu mengurangi utang hingga 50 persen. Padahal dalam realitanya, utang Indonesia justru bertambah 22 miliar dolar AS dari 154 miliar dolar AS pada 2016, menjadi 176 miliar dolar AS di awal 2018.

Kedua, EY menyatakan SMI mampu mengurangi angka kemiskinan sebesar 40 persen dalam kurun waktu lima tahun, mengurangi kesenjangan sosial dan memperbanyak lapangan pekerjaan. Bila dibandingkan dengan 2013 saja, angka kemiskinan Indonesia berada di 11,31 persen, sementara di tahun 2017, angkanya sekitar 10,64 persen.

Posisi Wapres Menanti Sri Mulyani

Bukan cuma Fadli, sepertinya kader Gerindra lain sudah sepakat. Bastian Simanjuntak politisi asal Jakarta ini menyebut, penghargaan Sri mulyani akal-akalan global buat menaikkan popularitas menteri perempuan ini.

Katanya penghargaan itu semata untuk kepentingan politik. Bastian memberi contoh Jokowi yang setahun sebelum pilpres 2014 juga meraih predikat walikota terbaik dunia versi Major Foundation.

Mereka katanya sudah bersekongkol dengan salah satu kelompol dunia agar penghargaan itu jatuh pada dirinya. Mungkin kelompok yang dimaksud senang berpakaian hitam dan punya simbol khas ala illuminati.

Sekali lagi, mereka berbicara tentang konspirasi saya kadang merinding mendengarnya, seperti kepercayaan bumi bulat hasil konspirasi Nasa yang menyembunyikan jikalau bumi berbentuk datar. Salah satu alasannya karena semua publikasi melalui proses komputerisasi. Duh.

Jadi, kesimpulan dari omongan bapak yang satu ini, ada sebuah kekuatan yang hendak jadikan Sri Mulyani sebagai Capres atau minimal Cawapres pada 2019.

Saya salah satu yang menganggap SMI belum layak mendapatkan penghargaan menteri keuangan itu. Tapi, saya juga tidak sependapat dengan Fadli Zon dan kolega jika mengatakan bahwa penghargaan diraih hasil ‘main mata’ lembaga World Bank dengan SMI.

Pelaksanaan pilpres masih setahun, dan masih banyak hal yang bisa terjadi, termasuk jika sampai SMI dianggap gagal dan diberhentikan presiden.

Hal paling tidak saya suka dari SMI ialah berhutang terus menerus, hutang tidak pernah membuat bangsa ini kemana-mana, hanya akan menjadi budak dari lembaga keuangan internasional seperti IMF dan Bank Dunia.

Ingatlah bagaimana IMF menjerumuskan kita pada krisis yang kian dalam pada 1998, hal yang kemudian diakui mereka sebagai kekeliruan, seperti yang mereka terapkan pada Argentina dan Tanzania.

Adagium semakin tinggi pohon semakin kencang pula angin yang menerpa. Kayaknya yang SMI rasa sedang menerpa dia yak. Sebelum penghargaan ini, ada juga kritikan yang dia terima, apalagi hari ini, Rabu (14/3/2018) dia kembali menerima penghargaan dari DPR sebagai sosok perempuan berprestasi guna peringatan hari perempuan Internasional.

Fadli sebagai sosok antagonis di DPR juga tidak terima dong. Dia kembali memprotes rencana pemberian penghargaan, karena mengatasnamakan lembaga DPR. Jika benar diberikan, penghargaan itu katanya hanya inisiatif pribadi Bambang Soesatyo. Lagi-lagi SMI tidak pantas. Siapa yang pantas?

(https://nasional.kompas.com/read/2018/03/09/07115061/fadli-zon-protes-penghargaan-dpr-untuk-sri-mulyani-ini-kata-ketua-dpr)

Sementara itu Bambang menolak dikatakan sebagai pengusul, karena penghargaan datang dari BKSAP. Tapi, kayaknya sampai hari ini penghargaan itu masih diberikan, sesuai rencana semula.

Bakal seperti apa pertarungan Fadli dan kolega melawan kekuatan lain yang nampaknya mulai berpihak pada SMI.

Apatah lagi hal yang sebenarnya ditakutan Fadli dkk mulai terbukti, nama Sri kini disebut-sebut sebagai Cawapres paling potensial mendampingi Jokowi oleh beberapa lembaga survei.

Menurut survei indobarometer, Sri menempati posisi kedua Cawapres potensial mendampingi Jokowi, dengan keterpilihan 43,4 persen, pasangan ini hanya kalah dari Jokowi-Gatot yang meraih 47,9 persen. Sementara versi LSI Denny JA paling mengunggulkan Sri Mulyani jika Jokowi memilih wakilnya dari kalangan profesional.

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Add comment

Tentang Penulis

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.