Locita

Skripsi: Wajib, Pilihan, atau Dihilangkan Saja? Seringkali masalahnya bukan pada skripsi, tetapi sistem administrasi dan dosen pembimbing

Rita Santoso. Terpilih sebagai rektor. Tepatnya di ITB. Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) ASIA Malang. Usianya masih muda. Tidak beda jauh dengan saya. 27 tahun. Dan dia cantik. Media daring memviralkannya dengan dua hal: masih 27 tahun tapi sudah jadi rektor dan cantik pula. Muda dan cantik. Dua komponen judul media online untuk menarik para pembaca. klikbait. Masyarakat memang suka dengan semua hal yang membuatnya terpesona, terutama kata ‘cantik’.

Tetapi bukan itu yang menarik bagi saya. Pun barangkali begitu dengan mahasiswa. Rektor Rita Santoso tidak ingin membuat mahasiswa susah. Skripsi menjadi pilihan. Tidak lagi wajib. Para mahasiswa dari kampus-kampus lain patut iri. Di saat mereka berkutat dengan skripsi, mahasiswa ITB Asia Malang malah memiliki rektor yang tidak mewajibkan skripsi.

Bagi sebagian mahasiswa, barangkali sebagian besar, atau bahkan mungkin semuanya, skripsi adalah momok. Skripsi selalu berada di semester penghujung. Skripsi seperti hantu yang menunggu di ujung lorong. Ia kadang tampil begitu mengerikan dan menakutkan.
Skripsi bahkan bisa menjadi pembunuh. Ini serius. Bukan satu dua kali ada kasus mahasiswa yang bunuh diri karena skripsi. Entah berhubungan langsung dengan skripsinya atau pembimbingnya. Sisanya ada yang lancar-lancar saja, namun kebanyakan setengah mati. Setengah mati mengerjakan proposalnya, susah payah mengerjakan penelitian dan mengumpulkan data, dan terluntah-luntah ke sana ke mari mengejar pembimbing.

Saya bersyukur mendapat pembimbing yang baik hati. Yang bersedia membimbing hingga di luar jam kantor. Yang tidak mempersulit sejak draf proposal hingga hasil akhir. Yang mudah saya hubungi kapan pun. Yang tidak ribet dan ruwet.

Sayangnya tidak semua seberuntung saya. Saya mengenal banyak teman-teman yang mengejar dosen pembimbing (dosbing) tanpa kejelasan. Ada yang tidak diangkat teleponnya, tidak dibalas smsnnya padahal redaksi dan etika komunikasi kepada dosen sudah sesuai etika. Ada menunggu tanpa kepastian di depan ruang dosen. Ada dosen yang hampir sama sekali tidak membimbing. Ada dosen pembimbing yang tidak mau meng-acc proposal mahasiswa bimbingannya karena punya masalah pribadi dengan dosen pembimbing satunya lagi. Dosen pembimbing pertama bilang begini, dosen pembimbing kedua bilang begitu.

Saya pikir seringkali masalah mahasiswa dengan skripsi bukanlah dengan skripsinya, tetapi dosen dan sistem administrasi yang ribetnya minta ampun. Hubungan dosen dan mahasiswa di Indonesia pada umumnya tidak egaliter. Masih banyak dosen yang menganggap posisi dan statusnya lebih tinggi dari mahasiswa.

Dengan mental yang masih seperti itu, dosen pembimbing tidak merasa bersalah ketika terlambat, membuat mahasiswanya menunggu berjam-jam atau bahkan berhari-hari. Sebab bagi mereka, mahasiswa harus nerimo apapun. Maka alih-alih proses bimbingan menjadi ajang diskusi antara dosen dan mahasiswa, mahasiswa justru hanya membebek saja.

Masalah sistem administrasi kita adalah soal yang lain. Pelayanan yang lambat, ribet, dan tidak ramah. Tak jarang staf yang melayani cuek bebek atau malah marah-marah. Seringkali masalah rumah tangga dicampurkan adukkan dengan kantor. Akhirnya, mahasiswa jadi pelampiasan.

Alasan lain adalah profesionalitas. Seharusnya pelayanan sudah buka jam 9 tetapi stafnya masih sibuk kongkow. Pun begitu biasanya ketika istirahat yang seharusnya hanya 30 menit atau paling banter sejam, mereka bisa molor. Sialnya kita tidak tahu harus melapor ke mana. Tetapi melapor pun biasanya sama saja. Wong dia ini anunya si anu.

Belum jika tanda tangan pada berkas yang bisa berhari-hari. Mengapa kampus tidak membuat sistem yang bisa memangkas pos-pos yang panjang dan ribet plus pelayanan yang seringkali tidak profesional. Mahasiswa seringkali dituntut untuk selesai tepat waktu tetapi kampus lupa untuk memperbaiki sistem kampus yang justru menghambat proses penyelesaian.

Jika masalah administrasi dan profesionalitas dosen pembimbing diperbaiki, maka skripsi seharusnya tak jadi soal. Waktu mahasiswa seringkali terserap dan habis pada dua hal yang sifatnya ritualistik dan administratif. Waktu, energi, dan materi tak terhitung. Hasilnya pun tidak efektif. Diantaranya banyak skripsi yang tidak benar-benar dikerjakan oleh pemiliknya sendiri.

Namun begitu, Rektor Rita tentu sah-sah saja tidak lagi mewajibkan skripsi. Sistem ini mirip dengan perkuliahan luar negeri. Apalagi memang Rita Santoso mengambil S1 di University of Berkeley California dan S2 di Harvard University. Sistem perkuliahan di Amerika Serikat memang tidak mewajibkan skripsi.

Lalu apakah sistem ini juga bisa serta merta diterapkan di Indonesia?

Bisa saja. Meski demikian perlu diingat meski mahasiswa tidak wajib mengambil skripsi, mahasiswa Amrik sudah memiliki tugas-tugas yang bobotnya sama dengan skripsi. Dalam banyak mata kuliah mahasiswa diharuskan membuat paper setiap semester. Kerangkanya sama dengan skripsi. Panjangnya bervariasi antara 10-15 lembar. Tetapi tentu bukan hanya copy dan paste belaka sebab kampus-kampus di Amerika memiliki standar ketat soal plagiarisme.

Artinya mahasiswa sudah terbiasa dengan kerangka berpikir ilmiah, langkah-langkah atau metodologi ilmiah sebelum tiba pada kesimpulan, mereka terbiasa untuk berpikir kritis dan analitik. Hal-hal yang sebenarnya terkandung menjadi pelajaran penting dalam proses skripsi, tentu jika benar-benar dikerjakan.

Sehingga sistem perkuliahan yang memiliki banyak tugas yang tidak sekadar copy dan paste, daftar bacaan menumpuk yang harus dibaca sebelum masuk kelas, dan proyek-proyek yang melatih untuk berpikir kritis dan ilmiah telah mempersiapkan mahasiswa ketika selesai. Mahasiswa yang kerangka berpikirnya (seharusnya) tidak sama dengan mereka yang tidak menempuh pendidikan, terutama di tengah banjir informasi di internet.

Jika mahasiswa yang harus melalui proses skripsi saja belum tentu bisa membedakan sumber-sumber informasi yang valid dan terpercaya apalagi jika hanya datang ke kampus dan mengerjakan makalah dengan model Paman Google.
Pada akhirnya, model perkuliahan tanpa skripsi boleh saja diadopsi tetapi sistem dan proses perkuliahan lainnya juga perlu diperhatikan

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.