EsaiFeatured

Sebuah Usaha Membayangkan Surga dan Neraka

BAGAIMANA kalian membayangkan tentang surga dan neraka ? Atau apa yang anda bayangkan tentang surga dan neraka selama ini ? Sejak kecil kita dijejali dengan buku-buku siksa neraka dan nikmat surga. Tidak heran jika gambaran kedua hal itu terekam jelas dalam ingatan bahkan alam bawah sadar kita sampai saat ini.

Jika ditanya apa yang saya bayangkan tentang surga dan neraka. Saya akan menjawab jika surga dan neraka itu adalah perpustakaan. Gambaran seperti itu tentu tidak akan kita dapatkan di bangku sekolah apalagi ceramah-ceramah ustaz di atas mimbar.

Anggap saja ini adalah sebuah usaha untuk berlepas diri dari bayangan-bayangan yang menyakitkan tentang neraka.  Siksa-siksa yang mengeroyok imajinasi saya sebagai anak-anak waktu itu. Ketika buku-buku dan guru di sekolah menceritakan hal yang begitu menakutkan namun tak kunjung membuat saya insaf.

Di dalam perpustakaan kelak,  buku-buku adalah mikrokosmos dari manusia. Semakin tebal suatu buku maka semakin panjang umur manusia yang mengarang buku tersebut. Sebaliknya semakin tipis, maka semakin pendek umur sang pengarang.

Ada malaikat yang ditugaskan khusus untuk memeriksa dan memperbaiki buku-buku tersebut. Misalnya jika ada buku yang telah dimakan rayap, sampul buku yang lepas dan halaman buku yang sobek.

Masing-masing pengarang akan mempertanggungjawabkan buku yang ditulisnya dalam suatu sidang khusus. Sidang yang akan menentukan sebuah keputusan, mendapatkan siksa neraka atau kenikmatan surga.

Dalam sidang tersebut manusia berhak mempertahankan argumentasinya di hadapan Tuhan. menjabarkan hasil tulisannya dengan seksama. Adapun saksi dalam sidang tersebut adalah para malaikat.

Ketika Tuhan telah memberikan keputusan maka malaikat penjaga pintu ruangan sidang akan bersiaga melemparkan manusia entah itu ke surga atau neraka.

Manusia memiliki satu kali kesempatan merevisi buku yang ditulisnya, ada yang diterima namun tidak sedikitpun yang ditolak. Semua tergantung pertimbangan Tuhan, dan kecerdasan manusia dalam merevisi tulisan-tulisannya.

Kira-kira seperti itulah bayangan saya, sebuah proses menuju surga dan neraka. Dan tentu sangat mungkin setiap orang memiliki bayangan yang berbeda-beda ihwal dua tempat yang amat sakral ini.

Misalnya ada orang-orang yang membayangkan jika di surga, manusia akan mendapatkan bidadari-bidadari yang bermata biru. Makanan dan minuman yang baru saja kita pikirkan, tiba-tiba saja langsung ada dihadapan kita.

A.a. Navis dalam cerpennya yang menggemparkan Indonesia “ Robohnya Surau Kami” juga memberikan gambaran yang asyik tentang kehidupan hari akhir. Dikisahkan ada segerombolan manusia yang masuk neraka namun meminta peninjauan kembali kepada Tuhan agar dimasukkan ke surga.

Seperti yang bisa kita lihat dalam salah satu dialog antara Haji Saleh dan Tuhan dalam cerpen “Robohnya Surau Kami”.

“Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran-Mu, mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami. Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kau jatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.”

Haji Saleh memprotes dan mempertanyakan mengapa Tuhan memasukkan ia dan teman-temannya ke neraka. Padahal di dunia mereka rajin menyembah Tuhan dan taat beribadat. Tapi naas, Tuhan menolak permintaan Haji Saleh karena alasan-alasan seperti yang bisa kita baca pada dialog selanjutnya antara Haji Saleh dan Tuhan.

‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’

‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’

‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’

‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’

‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’

‘Ada, Tuhanku.’

‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kau biarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak.’

“Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”

Sebelum cerpen “Robohnya Surau Kami” hadir memberikan oase baru terhadap gambaran mainstream surga. Cerpen “Langit Makin Mendung” karangan Kipandjikusmin juga pernah dicerca banyak pihak bahkan berakhir dengan pembredelan oleh pemerintah.

Diawal cerita tokoh yang bernama Muhammad meminta kepada Tuhan agar bisa mendapatkan cuti. Muhammad ingin turba ke dunia, karena ia melihat semakin banyak manusia yang dimasukkan ke neraka.

Lama-lama mereka bosan juga dengan status pensiunan nabi di surgaloka. Petisi dibuat, mohon (dan bukan menuntut) agar pensiunan-pensiunan diberi cuti bergilir turba ke bumi, yang konon makin ramai saja.

“Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaranMu; beratus tahun tanpa henti. ”Membaca petisi para nabi, Tuhan terpaksa menggeleng-gelengkan kepala, tak habis pikir pada ketidakpuasan di benak manusia…. Dipanggillah penanda-tangan pertama: Muhammad dari Medinah, Arabia. Orang bumi biasa memanggilnya Muhammad saw…”

Kedua penulis ini tidak lebih kurang ajar dan mengagetkannya ketika mengkontraskan kesenjangan berpikir manusia tentang kehidupan akhir yang sepertinya digambarkan serupa dengan dunia. Kritik dimunculkan melalui cerita yang mengesankan dan lucu.

Setelah ini terserah anda, apakah lebih benafsu membayangkan di surga akan mendapatkan bidadari cantik bermata biru atau malah membayangkannya serupa dengan cerita A.a Navis dan Kipandjikusmin. Atau mungkin memilih untuk tidak membayangkan apapun perihal surga dan neraka.

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Previous post

Ustaz itu Seorang To Balo

Next post

Jangan Bunuh Dwi Hartanto

1 Comment

  1. Sarwo Ferdi Wibowo
    09/10/2017 at 17:31

    Cantik dan cerdaa hhhmmmmm