Locita

PSM Sudah Menang Sejak dalam Pikiran Apalagi Pertandingan

“Tuhan tidak bertanya mengapa kamu gagal, tapi Tuhan akan bertanya mengapa kamu tidak berbuat.” –Unknown

TIM dan suporter Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM) kembali menelan pil kekecewaan. PSM kalah di kandang sendiri saat melawan  Bali United dalam perhelatan Gojek Traveloka Liga 1.

Hal ini berarti menutup peluang PSM dalam menjuarai Liga 1 Indonesia. Kemarin malam adalah penentu siapa yang akan melaju ke lajur juara. Siapapun pasti akan bersedih dan kecewa. Apalagi bagi para fans garis keras PSM yang telah mengikuti perjalanan PSM Makassar dari tahun ke tahun.

Tahun ini dianggap sebagai momen kebangkitan PSM Makassar. Di mana management, tim, hingga suporter mendambakan kemenangan PSM. Setelah 17 tahun berpuasa gelar juara, sejak tahun 1999-2000.

Saya yang cenderung pacce akan dunia persepakbolaan dan tidak pernah mengikuti perkembangan PSM juga amat bersedih. Apalagi setelah melihat foto-foto, berita-berita, dan postingan-postingan kesedihan yang beredar dalam linimasa sosial media saya.

Bahwa supporter PSM ricuh adalah hal yang memang tidak bisa dibenarkan tapi menuduh mereka dengan berbagai sumpah serapah nampaknya juga tidak adil. Dorongan itu lahir, ketika melihat idola mereka dipermalukan di kandang sendiri. Saya pikir hal itu sangat manusiawi.

Ketika selangkah lagi kemenangan akan digengggam, ketika penantian selama 17 tahun akan segera tertunaikan. Namun tendangan di menit terakhir oleh Stefano Lilipaly (Bali United) menggugurkan semua mimpi dan harapan ribuan bahkan jutaan warga Makassar dan suporter PSM Makassar.

Tidak cukup dengan nyinyiran dan singgungan terhadap suporter. Justru ada yang menggoreng kekalahan PSM Makassar dengan isu politik. Meruaknya kabar jika CEO PSM Makassar, Munafri Arifuddin akan maju dalam pemilihan Wali Kota Makassar disinyalir menjadi pemicu kekalahan tim kebanggan cappo-cappo dari Timur. Arifuddin dianggap tidak fokus pada kemenangan PSM Makassar.

Seolah tidak cukup dengan itu semua, PSM lagi-lagi harus diperhadapkan dengan kemungkinan besar adanya sanksi dari Komisi Disiplin PSSI. Ancaman ini menyusul karena suporter PSM yang bertindak di luar kendali usai laga.

Namun marilah kita bersama-sama membuat satu pengakuan. Bahwa ada satu hal yang membuat kita patut berbangga atas capaian sekaligus kekalahan dari PSM kali ini.

Bahwa PSM berada dalam posisi ini adalah sebuah prestasi besar yang harus kita beri tepuk tangan. Capaian ini adalah loncatan besar PSM Makassar setelah 17 tahun. Maka rasanya tidak adil, jika hanya memosisikan prestasi PSM dari perolehan nilai kemarin malam saat melawan Bali United.

Kita patut mengapresiasi usaha-usaha para pemain, pelatih, management utamanya dukungan fans dan warga Makassar. Semalam sebelum pertandingan bahkan suporter kompak memasang logo PSM sebagai foto profil mereka di jejaring sosial.

Pelatih PSM, Robert Rene Alberts mendapat sebuah inbox di akun Instagramnya yang ia pamerkan dalam postingannya di instagram. Suporter itu mengaku belum pernah melihat dan merasakan dukungan besar yang ada sejak 17 tahun yang lalu.

Saya tidak terlalu peduli dengan hasil pada musim ini. Juara adalah hadiah, tapi yang terpenting, Anda telah menyatukan semua suporter.

Robert pun membalas pesan itu.

Kata-katanya sangat baik dan sopan dan saya sangat menghargai itu. Kamu pendukung sejati sepak bola dan PSM Makassar. Kamu adalah semangat besar EWAKO. Bravo.

Sesungguhnya PSM Makassar telah menang di mata para suporter sebelum laga dimulai. PSM Makassar telah menang sejak dalam pikiran apalagi dalam pertandingan.

Dalam kasus suporter Makassar, kita bisa menggunakan psikoanalisis dari Sigmund Freud. Bagi Freud, tingkah laku manusia digerakkan oleh dorongan-dorongan impulsif bawah sadar yang ditransformasi sedemikian rupa menjadi berbagai wujud tingkah laku. Termasuk perilaku artistik.

Dorongan itu bersumber dari id, bagian kepribadian yang dibawa sejak lahir. Dari id, bagian kepribadian lainnya, ego dan superego terbentuk melengkapi struktur kepribadian.

Kepribadian manusia kemudian dipahami sebagai interaksi dinamis antara id, ego, dan superego. Dengan ego sebagai komando yang menjaga keseimbangan strukturnya (id dan superego).

Menurut Freud di dalam diri manusia ada suatu id yang jika ditahan dan ditekan akan keluar secara tidak sadar. Proses keluarnya ini bisa saja tidak terkendali dan “buas”.

Hal tersebut Karena adanya represi yang dibendung  secara terus menerus karena didominasi oleh ego. Hasil dari represi itu mampu menghasilkan letupan yang membuncah dalam diri manusia.

tujuh belas tahun bukan waktu yang singkat bagi warga Makassar utamanya para fans PSM Makassar untuk melihat idolanya mengarak tropi. Letupan itu keluar di menit terakhir saat PSM Makassar harus menutup laga dengan kekalahan.

Bermacam ekspresi dikeluarkan para suporter. Ada yang menangis sambil memeluk pemain, ada yang melempar botol dan batu, hingga merengsek masuk ke Stadion Mattoangin.

Sebelum kita menyudutkan kebrutalan para suporter, melecehkan kerja tim, hingga menggorengnya ke ranah politik. Bahwa ada euforia lain yang dibawa para pemain dan warga kota Makassar, selain kemenangan itu sendiri.

Pada resomemengpa tauwwe inappa’e silolongeng sitiwi lao rimadecengnge, rialebbirengnge. (Hanya usaha yang dilakukan bersama-sama akan membawa kita kepada kebaikan, kemuliaan).

Menurut pandangan saya kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan para suporter apalagi di tengah situasi yang sangat rawan munculnya sikap reaktif dan profokasi. Utamanya bagi anak muda dengan jiwa yang berapi-api.

PSM Makassar telah berada di posisi ini adalah sebuah kemenangan. Biarlah media-media dan PSSI mengadili dan menghancurkan semangat dan mental para suporter dan pemain. Biarkanlah mereka nyinyir dan menjadikan situasi ini sebagai alat politik.

Saya dan kita semua sebagai orang yang cinta terhadap bangsa dan tanah air  patut berbangga dengan capaian yang diraih tim dan suporter. Tentu juga kepada seluruh warga Makassar dan siapapun yang mendoakan.

Jadi, siapa bilang PSM Makassar kalah?

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Tentang Penulis

Ais Nurbiyah Al-Jum’ah

Ukhti Garis Seberang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.