Locita

Siapa Aktor Penyanderaan Papua?

TAHUN 1961 orang Papua mengibarkan bendera Bintang Kejora, menyanyikan lagu kebangsaan mereka, dan mengumumkan merdeka. Tak lama setelahnya, Indonesia yang mendapat sokongan senjata Uni Soviet melakukan operasi militer.

Dalam perjalanannya demi memuluskan kepentingan Amerika atas Freeport, Papua ditaklukan, kemudian menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Papua saat ini bisa dikatakan sebagai anak haram dari pernikahan politik antara Amerika dan Indonesia.

Makanya, perkembangan isu Papua jangan dipandang sebatas permasalahan janji pemerintah untuk menuntaskan pelanggaran HAM, tetapi telah merangsek pada isu yang paling sensitif yaitu isu kemerdekaan sebagai isu politik yang menyita perhatian dunia internasional.

***

Belakangan ini, isu tentang Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua mengganggu ketenangan masyarakat Indonesia. Isu ini begitu kuat mempengaruhi khalayak umum menjadi dua kubu. Kelompok pertama adalah mereka yang secara mentah-mentah menelan informasi propaganda yang dimainkan oleh media. Kelompok kedua adalah mereka yang tidak termakan oleh propaganda media, dan memilih lebih kritis.

Menurut hemat saya, kelompok pertama adalah mereka yang tidak pernah tahu bagaimana keadaan Papua, kecuali melalui media. Kelompok kedua adalah mereka yang sudah pernah dan turut serta menjadi bagian dari seluruh persoalan Papua, misalnya aktivis dan pekerja kemanusiaan.

Beberapa hari lalu, saya sempatkan diri untuk mampir di ATM. Uang dalam dompet saya benar-benar kosong. ATM-nya berada di kampus IPB, tempat saya kuliah. Beberapa menit setelah dari mesin ATM, saya menuju parkiran. Tiba-tiba seorang satpam menghampiri saya. Saya cukup akrab dengannya.

Pak Satpam ini selalu mengawali pembicaraan dengan memanggil saya “Pace”. Awalnya satpam ini hanya menanyakan kabar saya. Mungkin karena sudah cukup lama kami tidak bersua. Lambat-laun pertanyaan Pak Satpam ini mulai mengarahkan pembicaraan tentang  isu di tanah Papua belakangan ini.

Dengan raut wajah yang sedikit perhatian, bapak ini bercerita tentang isu penyanderaan di Papua. Di akhir perbincangan, ia lalu menanyakan pendapat saya tentang isu ini. “Menurut Pace, bagaimana isu penyanderaaan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata,” tanyanya. Seketika itu, saya terdiam lalu membisu.

Saya terpikir untuk membuat tulisan ini demi menjawab pertanyaan Pak Satpam. Pertanyaan ini sering saya dapatkan dari banyak orang, termasuk para sahabat saya yang bukan berasal dari Papua. Semoga tulisan ini bisa menjawab semua yang ditanyakan.

***

SAYA tinggal di Bogor dalam kurun waktu yang cukup lama, terhitung sejak tahun 2009 hingga saat ini. Sebagai warga asli Papua, saya memiliki beberapa kerabat dekat yang hingga saat ini masih berkomunikasi aktif dengan saya. Kerabat saya di Papua tidak hanya dari Paniai dan Nabire (daerah asal saya) tetapi juga dari beberapa daerah lainnya. Di antaranya adalah Kampung Banti dan Kimbeli yang merupakan daerah terjadinya penyanderaan.

Beberapa jawaban atas pertanyaan para sahabat akan saya jawab juga berdasarkan kesaksian dari kerabat saya di Papua. Saya coba menyusun daftar pertanyaan dari banyak sahabat, kemudian coba menjawabnya.

Apakah benar ada 1.300 sandera yang ditahan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata?

Saya teringat seorang sahabat yang saat ini berada di Desa Banti. Dia berprofesi sebagai pekerja kemanusiaan di Dinas Kesehatan di Papua. Hampir setiap hari sahabat saya tersebut melakukan perjalanan pulang-pergi dari Timika menuju Tembagapura, dekat Desa Banti. Kata sahabat saya, masyarakat pendatang dan warga asli di Banti hidup rukun dalam kurun waktu yang cukup lama. (Baca: Saat Sawit Hancurkan Papua)

Bisa dikatakan, generasi saat ini adalah generasi keempat dan ketiga. Artinya, persahabatan pendatang dan pribumi di sana sudah terbangun semenjak beberapa dekade lalu, dekade ketika media-media Indonesia masih “agak” netral dalam menyampaikan pemberitaan.

Lantas motif apa 1.300 orang ini disandera? Natalis Pigai (mantan Pekerja Komnas HAM RI, sekaligus aktivis 98) dalam akun Facebook-nya dengan gamblang mengatakan bahwa TNI dan Polri melakukan penipuan publik. Informasi adanya peristiwa penyanderaan 1.300 warga oleh Polisi dan TNI harus dibuktikan kebenarannya. Sampai sekarang, Mabes Polri dan TNI tidak mampu memperlihatkan foto-foto atau video adanya fakta penyanderaan, penangkapan, penganiayaan, penyiksaan, dan pembunuhan.

Apabila kepolisian dan TNI tidak mampu menunjukan bukti maka istilah penyanderaan merupakan kebohongan publik. Yang benar adalah warga Utikini dan Kimbeli terisolasi karena adanya blokade jalan, baik yang dilakukan oleh aparat Kepolisian dan TNI di Tembagapura, juga TPN OPM di Utukini.

Tabloidjubi.com di Papua  edisi 12 Nov 2017 memberitakan pengakuan  warga Papua tentang informasi penyanderaan tersebut. Menurut warga tersebut, sebenarnya mereka tidak disandera. Berikut kutipannya:

“Seorang pemimpin Suku Amungme yang tinggal di Kampung Banti berhasil diwawancarai oleh Fairfax, jaringan media Australia. Jonathan Kibak, warga yang turun dari Banti ini diwawancarai di Timika, Sabtu (11/11/2017). Ia memastikan semua penduduk di Kampung Banti aman.”

Pertanyaannya bagaimana publik yakin bahwa benar-benar terjadi penyanderaan di kampung-kampung tersebut? Apa indikatornya untuk menyebut sebuah fenomena sebagai fenomena penyanderaan?

Siapakah warga pendatang yang berhasil dievakuasi tersebut?

Sekedar info, saat ini kampung tersebut merupakan tempat terjadinya pendulangan illegal. Hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi warga luar Papua untuk datang dan mengubah hidupnya. Lokasi tersebut dari dahulu sudah diketahui sebagai sebagai lokasi kelompok perjuangan Papua merdeka. (BACA: Papua Tak Hanya Soal Freeport)

Sebanyak 350 pendatang yang tidak ber-KTP di Timika berada di area PT Freeport International. Kawasan tersebut dijadikan sebagai kawasan untuk pertambangan illegal. Sebenarnya, warga tidak diperbolehkan masuk begitupun warga setempat. Sebanyak 350 warga itu adalah pendatang tanpa ijin yg mendulang emas di Utikini.

Pada suatu kesempatan Kapolri Tito Karnavian mengatakan bahwa para penyandera adalah orang-orang lama yang sering meresahkan warga pendulang liar. Negara sepertinya paham benar bahwa di daerah yang sangat berbahaya ini terjadi mobilisasi pendatang baru dari luar dan tidak berijin (tanpa KTP).

Jika saat ini penyanderaan itu adalah benar-benar fakta, maka siapa yang berhak disalahkan dalam hal ini?

Penggunaan Anggaran Negara

Empat tahun silam, tepatnya di bulan Desember, untuk pertama kalinya saya pulang ke Papua tepatnya di Kabupaten Paniai. Kampung saya ini hingga sekarang masih merupakan daerah target operasi karena negara mencium adanya gerakan Papua merdeka di sana.

Saat itu Pania tiba-tiba mencekam. Beredar berita bahwa ada penembakan oleh OPM terhadap seorang anggota kesatuan Brimob. Setelah diusut oleh sebuah lembaga independen, ternyata isu itu sengaja dimainkan oleh aparat keamanan untuk melakukan pelaporan tahunan. Hal ini tentunya berhubungan dengan penggunaan anggaran belanja negara.

Di Papua, isu-isu OPM selalu memuncak di akhir tahun. Dari tahun ke tahun selalu saja isu Papua merdeka muncul di akhir tahun.  Dalam satu diskusi, seorang teman bertanya, “Mengapa isu tentang gejolak Papua selalu datang di akhir tahun?

Dengan gamblang, saya jawab, “Mungkin karena aparat baik TNI dan POLRI bingung bagaimana menghabiskan uang negara untuk keamanan. Makanya, isu-isu murahan tersebut sengaja  dimainkan.”

Rasanya bukan rahasia umum. Papua adalah lahan basah, siapa pun yang bermain licik, maka dalam sekejap dia akan menjadi kaya raya.

Ricky Keiya

Warga Paniai, Papua. Sekolah di Pascasarjana IPB.

2 comments

  • 1.Bagaimana soal propaganda kemerdekaan di kampus uncen (universitas cendrawasih papua)? Apa itu hoax atau fakta?
    2. Kekerasan teroris bersenjata di lokasi penyanderaan (video di fb?) apa itu hoax atau fakta?
    3. Mengapa tidak ada perlawanan atau bujukan yg diperlihatkan oleh bupati atau gubernur kepada teroris bersenjata? Yang melakukan perlawanan dan meminta tolong hanya kepala suku atau kepala dusun setempat? ( referensi televisi)
    4. Mengapa pigai dan anda seperti tidak peduli nasib para sandera? Apakah karena yang disandera adalah para pendatang?

  • Lalu fakta apa yang patut dibanggakan dari ulasan ini yang masih “katanya” “informasinya” “dikutip” untuk menuding semua pihak ‘bermain’ sampai media tak netral. Hebat sekali.. kami yang tinggal puluhan tahun di sini, di dekat lokasi penyanderaan, tidak pernah berkoar2 menuding orang lain. Dan saya wartawan, saya pastikan saya netral. Saya punya hubungan baik dengan semua pihak termasuk TPN-OPM

Tentang Penulis

Ricky Keiya

Warga Paniai, Papua. Sekolah di Pascasarjana IPB.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.