Locita

Sesuatu yang Sangat Dekat dan (Masih) Tabu

Antusiasme publik menyambut kehadiran suatu film nampak dalam pelbagai rupa. Di zaman internet yang maslahat, salah satu jendela untuk meneropong seberapa besar animo publik terhadap suatu film ialah banyaknya jumlah klik pada trailer film di akun youtube film atau rumah produksi yang bersangkutan. Sejak diunggah di akun youtube StarvisionPlus pada 25 Mei 2019 sampai pekan ketiga pemutaran filmnya di bioskop, trailer Dua Garis Biru (Gina S. Noer, 2019) sudah disaksikan oleh lebih dari sepuluh juta pasang mata.

Bagaimanapun suatu karya dianggap penting dan relevan bagi kehidupan bermasyarakat serta digarap dengan serius dan tulus oleh senimannya, akan jadi sia-sia tanpa adanya publikasi yang memadahi. Inilah yang belakangan tampak semakin diamini para seniman film di Indonesia. Jauh-jauh hari sebelum kelahiran film, tim produksi sudah lebih dulu memancing mata penasaran publik dengan cuilan-cuilan informasi di jagat maya. Hal yang demikian juga dilakukan oleh tim produksi Dua Garis Biru. Akun instagram @duagarisbirufilm aktif mengunggah postingan sejak Februari 2019 silam dan memiliki lebih dari 81 ribu pengikut.

Seks di Ruang Keluarga

Terlepas dari strategi promosi yang telah dilakukan dan terbukti berdampak baik bagi iklim perfilman kita, yang tak kalah penting ialah persoalan wacana yang digulirkan oleh film itu sendiri. Apa dan bagaimana sebuah film menghadirkan lanskap idea. Film itu hendak menyampaikan apa dan kepada siapa. Menyoal problema seputar seks di kalangan remaja, Dua Garis Biru adalah salah satu film yang layak masuk daftar tonton keluarga, lebih-lebih para orang tua.

Kita mafhum, sekian orang tua menjauhkan anak-anaknya dari bahasan soal seks. Saya mengalami masa kecil sampai jelang dewasa dengan kultur yang demikian. Saat berbagi cerita dengan sekian kawan, ternyata nasib kami tak beda. Alih-alih membangun percakapan soal seks, anak-anak di rumah bahkan terlarang menyaksikan adegan ciuman antara laki-laki dan perempuan di layar televisi. Sekian orang tua (tanpa maksud melakukan generalisasi) buru-buru memindah saluran atau mematikan televisi saat mendapati adegan sepasang kekasih berciuman sebelum tertangkap mata anak-anaknya. Mata anak-anak terlarang –agak— maksiat!

Tak heran apabila anak-anak dari pola asuh yang demikian itu menjadi berjarak atau malah awam sekali dengan perkara seks. Ketakcakapan pengetahuan itu jadi salah satu penyebab maraknya pergaulan seks bebas di kalangan remaja yang berujung merugikan. Para remaja yang sedang hangat-hangatnya mengalami masa pubertas acapkali berhasrat coba-coba berkemauan seru. Hubungan antara remaja laki-laki dan perempuan sulit berhenti sampai tahap romantik semata. Pada akhirnya adalah persinggungan dua entitas fisiologis yang sama sekali berlainan dan saling menantang keingintahuan antara satu dengan lainnya. Keduanya digerakkan oleh rasa penasaran berbalut romansa yang tak melulu menerawang jauh ke hari depan. Itu juga yang terjadi pada Dara (Zara JKT48) dan Bima (Angga Yunanda) di film Dua Garis Biru.

Keduanya, sepasang remaja tanggung yang kadung berpeluh cinta mengalami hari yang kebablasan di kamar Dara. Peristiwa itu terjadi dengan gegas tanpa pertimbangan apa-apa. Pertanyaan Bima pada Dara pasca keduanya berhubungan badan terbatas pada apakah selama peristiwa bersanggama Dara merasakan sakit. Sementara Dara menimpali pertanyaan Bima dengan bibir bergetar, supaya hanya mereka berdua yang tahu apa yang telah mereka lakukan. Rahasia itu memang jadi milik keduanya untuk sekian saat. Setelahnya, hari-hari yang mereka lalui tak pernah mudah.

Penyesalan Tak Hadir di Muka

Kakak perempuan Bima, Dewi (Rachel Amanda) melontarkan respons menggelikan dan penting memperkarakan minimnya pengetahuan adiknya soal seks. Dewi benar saat menuding adiknya tak memakai pengaman ketika berhubungan badan, dan menurutnya itu adalah tindakan ceroboh atau malah bodoh. Cara Dewi memberi respons dengan tak menghakimi Bima menunjukkan dirinya sebagai anak muda sekaligus kakak yang lahir dari tempaan keterbukaan pikiran dan sikap yang sudah seharusnya.

Di bagian lain, kamera menyorot kebersamaan Bima dan ibunya di ruang tamu. Kekecewaan dan kemarahan Ibu Bima (Cut Mini) ditampilkan dengan rona muka dan bahasa tubuh yang kuat sehingga menimbulkan kesan dramatis di benak penonton. Di kursi ruang tamu, gerakan tangan yang tegas dan terkesan buru-buru saat memindahkan snack ke kardus-kardus makanan, juga sorot mata ibu yang seperti menerawang sesuatu nun di jauh atau malah kosong dan tak melihat apa-apa. Melalui kontak mata dan bahasa tubuh lain, keduanya tak bicara sekaligus banyak sekali bicara.

Setelah saat-saat hening dan merasuk, ibu dan Bima terlibat dialog penuh haru. Ibu mengungkapkan penyesalannya sebab tak mengajak anak kesayangannya itu untuk sering-sering diskusi soal seks di rumah. Penyesalan ibu diikuti keyakinan seandainya mereka terbiasa membahas perkara seks di rumah, apa yang menimpa Bima dan Dara sangat mungkin tidak terjadi. Tapi penyesalan tidak pernah hadir di muka.

Akibat dari perbuatan Dara dan Bima berujung panjang dan rumit. Bukan cuma sejoli remaja itu yang tidak siap menyongsong hari-hari di depan, tapi juga keluarganya. Tinggal berhimpitan di salah satu sudut kota Jakarta, keluarga Bima ialah representasi kelas ekonomi menengah ke bawah yang karib dengan budaya pergunjingan. Pasca kejadian itu, ibu Bima mengalami krisis kepercayaan bersosial dengan para tetangga. Sementara kedua orang tua Dara harus menanggung kekecewaan yang sungguh-sungguh karena tak menentunya nasib pendidikan gadis sulungnya yang sejak jauh-jauh hari telah dirancang dengan penuh pertimbangan.

Sementara itu, Dara dan Bima tidak bisa serta merta menyulap diri jadi sosok yang dewasa kendati keduanya menanggung beban untuk menjadi yang demikian. Mengandung di usia tujuh belas tahun berarti ketidaksiapan tubuh perempuan yang berujung membahayakan ibu dan calon bayi. Sementara itu, kemauan Bima bekerja untuk membiayai hidup Dara dan bayinya tak semudah apa yang dibayangkan. Sampai waktu yang susah ditentukan, Bima dan Dara tetap membutuhkan rumah dan fasilitas dan pendampingan dari orang tuanya. Kalau mau memakai istilah lain, mereka adalah beban yang harus ditanggung keluarga. Kiranya hal yang demikian acapkali terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita.

Tema yang Dekat dan Penting

Melalui film Dua Garis Biru, Gina S. Noer, penulis naskah sekaligus sutradara film yang bersangkutan menunjukkan kepiawaian dan kejeliannya sebagai seniman film Indonesia yang layak digadang-gadang. Ia mengambil tema yang sangat dekat dengan keseharian kita dan penting diangkat jadi diskursus di hadapan publik mengingat selama ini membicarakan seks masih disebut-sebut sebagai hal yang tabu di tengah masyarakat.

Di tengah tingginya kasus seks bebas di kalangan remaja Indonesia, kehadiran Dua Garis Biru menjadi demikian penting. Film ini relevan ditonton para remaja untuk menghadirkan gambaran akibat yang harus ditanggung apabila mereka melakukan seks bebas di usia remaja. Sementara bagi para orang tua, film ini memantik pertanyaan apakah pola pengasuhan kepada anak-anak sudah sesuai dengan tumbuh kembang mereka atau sebatas mementingkan keinginan orang tua. Termasuk dalam perkara seks. Absennya peran orang tua sebagai kawan berbagi pengetahuan soal seks di rumah bisa berarti membiarkan anak mengais keingintahuannya sendiri di luar kendali dan pengawasan orang tua.

Dari sisi sinematografi, porsi dialog dan dramatisasi dalam film terasa tak berlebihan. Mata kamera menghadirkan detail-detail peristiwa dengan ciamik. Bagaimana komposisi musik, suasana, karakter tokoh menyatu dengan potongan-potongan cerita yang sedang terjadi. Scene demi scene tampil dengan komposisi mendekati natural sehingga tak memberi kesan film bertekad menjadi penceramah bagi para penontonnya. Dengan demikian, saya kira proses internalisasi gagasan dan barangkali juga nilai-nilai yang hendak disampaikan oleh film lebih mudah diterima penonton. Tsah!

 

Rizka Nur Laily Muallifa

Pembaca tak khusyuk. Mengeja kata di Diskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, dan Bentara Muda Solo.

Tentang Penulis

Rizka Nur Laily Muallifa

Pembaca tak khusyuk. Mengeja kata di Diskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, dan Bentara Muda Solo.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.