Locita

Semoga Sa Punya Anak Lancar ke Surga Kisah Relawan Kesehatan di Asmat

LEO Berpit (30) sedang membawa anaknya, Bernabas Berpit (3) di Rumah Sakit Agats, Kabupaten Asmat, Papua menjelang sore itu (28/1). Sebagai tim medis gabungan Dompet Dhuafa-Ikatan Dokter Indonesia (IDI), saya turut ikut memeriksa anak tersebut. Perut anak itu membesar, tangannya serupa ranting kering, kepalanya terlihat membesar.

Terlihat jejak merah di matanya, pertanda sakit tak mampu membendung laju air matanya. Di hidungnya terpasang plester, sisa tempat melekat selang untuk makanan tambahan. Di tangan kanannya terpaut balutan sisa infus. Leo datang kepada kami dengan wajah yang datar, dan sangat maskulin. Namun dari nada suaranya kita dapat mengetahui kalau dia sangat ringkih.

“Anak sa tra apa-apa?” tanyanya kepada saya.

Leo adalah salah satu warga Kampung Awets, di pesisir kota Agats. Mario Berpit dan kedua saudaranya terkena campak dan sudah dirawat di RS ini sejak 6 Januari lalu. Anak-anak sekampungnya turut terkena campak, penyakit yang kini menjadi KLB di daerah ini.

Saya sangat mengerti ketakutan yang dia rasakan. Wajar, kedua anak tertuanya telah meninggal Maria dan Opunia Berpit sejak KLB campak dan gizi buruk mendera. Dua dari enam anaknya yang masih tersisa kini dirawat intensif untuk mengobati penyakit tersebut.

Dengan suara yang sedikit bergetar dan mata memerah, dia bertanya kepada saya sembari meludah beberapa kali.

“Mario juga dijaga sama dia punya Mama,” tuturnya kepada saya. Mario (2), turut diungsikan ke rumah sakit sejak tanggal 6 Januari lalu, karena kasus yang sama seperti kakaknya, Bernabas. Saya dan rekanan kemudian memeriksa keadaan anak tersebut, khususnya kondisi status gizinya. Dalam hati saya bersyukur Bernabas cepat ditangani.

Hingga hari ini, kondisi gizi buruk dan campak di Agats, Kabupaten Asmat, Papua kini membaik. Relawan-relawan lintas organisasi, TNI, gereja, dan tim kesehatan telah turun membantu. Bersama-sama kita bahu membahu memutuskan rantai kematian akibat endemik ini. Hasilnya, bisa juga dibaca di Kompas bahwa 34 pasien mulai membaik sekalipun masih dalam pengawasan medik. Salah satunya, Bernabas anak Leo ini.

Namun apakah itu selesai? Saya pikir masih jauh dari itu. Saya sepakat dengan pernyataan Butet Manurung dalam pengantarnya di buku Yang Menyublim Di Sela Hujan, bahwa kita perlu pendekatan kultural untuk mengurai benang kusut di Asmat ini. Program kesehatan tentunya memang perlu berbasis budaya dan komunitas lokal di sini. Tidak mudah memang, tapi sustainable-nya perlu dijaga tanpa harus menyapu budaya dan tradisi lokal mereka.

Di tempat ini saya dapatkan realitas itu, utamanya pada sosok Leo dan keluarganya. Kepala keluarga ini bukanlah orang yang miskin secara finansial.

Dia bekerja sebagai buruh pelabuhan dan menyusuri Sungati Pomats. Di sela waktu lainnya, dia adalah pekerja bangunan. Dia memiliki penghasilan yang cukup untuk membiayai keluarga, namun tradisi sentrum keluarga di ayah, menjadikan penghasilan itu tidak digunakan untuk jangka panjang dan memperhatikan kebutuhan keluarga.

Dia mengakui bahwa uang harian yang dia dapatkan itu habis untuk untuk rokok, minuman, dan hiburan-hiburan lainnya. Kesadaran akan gizi masih kurang, Leo rela anak-anaknya hanya makan sagu bakar. Beberapa kali makanan tambahan gizi atau makanan untuk pasien (anak-anaknya) disantap olehnya.

Belum lagi tiadanya kesadaran mereka akan vaksinasi, padahal rumah sakit di sini sudah menyediakan vaksin secara gratis. Padahal, status gizi baik dan vaksinasi adalah modal awal untuk mencegah serangan penyakit berbahaya dan mematikan.

Salah satu temuan lainnya, adalah ritus-ritus pengobatan tertentu digunakan untuk mengobati anak yang campak. Sebut saja air kelapa merah. Kelapa merah yang di Jawa dikenal dengan nama Kelapa Wulung ini, airnya dipergunakan untuk memandikan anak yang terkena campak. Lainnya, anak yang mengalami sakit perut dan membucit karena kurang gizi, ditusuk bagian perutnya dengan bara api. Bercak merah yang menjadi indikasi campak dikompres.

Apakah mereka salah? Tidak juga, mereka lahir dan dibesarkan dengan budaya seperti itu, dan itu telah dilakukan turun temurun bertahun-tahun hingga berabad-abad. Ketika kita datang hanya dengan mengedepankan ego sentris kita sebagai makhluk yang berperadaban, tentu resistensi dari mereka akan semakin besar.

Yang perlu kita ingat bahwa Asmat hanyalah gunung es dari banyak masalah kesehatan yang ada di Papua, itu kata Yanuar Nugroho, Deputi II Kantor Staf Presiden seperti dilansir BBC. Perlu dicatat bahwa daerah-daerah lain di Papua akan siap mengalami nasib seperti Asmat. Ya, lagi-lagi menyembuhkan campak dan kurang gizi Papua membutuhkan kerja panjang dan kerja sama dengan pelbagai pihak multi sektor dan penyelesaian secara holistik

***

Di sebuah rumah, yang berdiri di atas papan, saya dibawa oleh Leo. Di rumah ini dia dan keluarganya hidup di atas rawa yang mengering.

Sampah rumah tangga bertabur di sekeliling rumah ini, tampak beberapa anak-anak sedang bermain. Di dalam anterior rumah sederhana ini botol-botol air tadahan hujan berjejer—para penduduk Asmat mengandalkan air bersih dari tadahan hujan.

Leo terduduk lesu di halaman, matanya jelas berkaca-kaca. Saya dan rekan saya hanya terduduk, mendengar bagaimana ketakutan dia akan wabah penyakit ini.

“Semoga sa punya anak lancar ke Safar (istilah mereka untuk surga),” tuturnya.

Abdul Halik Malik

Dokter umum, peneliti kesmas, tenaga ahli kesehatan dan gizi masyarakat Bappenas 2016-2017.

Add comment

Tentang Penulis

Abdul Halik Malik

Dokter umum, peneliti kesmas, tenaga ahli kesehatan dan gizi masyarakat Bappenas 2016-2017.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.