Locita

Seleksi CPNS yang Menjanjikan dan Juga Mencemaskan Seleksi CPNS yang masih rentan kecurangan

Awal bulan ini saya ke Surabaya untuk sebuah wawancara kerja di salah satu institusi yang berada di bawah naungan Kedubes Amerika Serikat. Hanya satu yang akan diterima dan sepertinya ada beberapa pendaftar yang dipanggil wawancara.

Berangkat ke Surabaya dengan biaya sendiri adalah sebuah perjudian. Jarak Surabaya dan Makassar tidak sejauh Bekasi dan Jakarta. Maksud saya harga tiket mahal, cukup untuk menguras saldo rekening saya.

Toh, saya berangkat juga. Lagi pula ini kesempatan saya mengunjungi Surabaya untuk pertama kali. Dan yang paling penting, saya berjuang dulu. Perihal hasil, itu soal lain. Syukur jika diterima. Gajinya menjanjikan.
Namun, menjelang wawancara saya jadi meragu.

Pekerjaan ini memang menjanjikan dari sisi finansial. Tetapi tidak dengan jenjang karir saya ke depan yang bercita-cita menjadi dosen, sesuai dengan latar belakang pendidikan saya. Passion saya memang mengajar. Saya mencintai dunia pendidikan.

Apalagi memang kabarnya akan ada penerimaan CPNS tahun ini. Akhirnya, saya pun bersikap legowo ketika wawancara. Jika diterima ya syukur, jika tidak ya sudah, saya telah berusaha sebaik yang saya bisa. Walau saya tentu tetap berpikir-pikir bagaimana jika saya diterima sementara proses pendaftaran CPNS akan segera dimulai.

Sudah tentu saya tidak mungkin bolak balik Surabaya-Makassar dan meminta izin demi mengurus berkas CPNS.

Saya menjalani wawancara dengan lancar. Saya menjadi salah satu kandidat kuat. Meski begitu, saya tetap gagal. Saya tidak terlalu kecewa. Sebab dengan begitu, saya bisa mempersiapkan diri mendaftar CPNS tahun ini.

Bagi saya pendaftaran CPNS adalah salah satu kesempatan. Walau dengan begitu bisa jadi saya akan dimasukkan ke kategori orang yang berpikir cara lama. Orang yang masih menganggap PNS sebagai pekerjaan idaman.

Tidak berani keluar dari pakem pikiran lama. Orang yang mencari aman. Orang yang bersedia tunduk-tunduk dan terkungkung aturan di kantor. Tentu seumpama saya lolos.
Bagi saya sah-sah saja orang-orang berpendapat demikian. Namun, bagi seorang yang fleksibel dan realistis seperti saya, apa yang salah dengan menjadi CPNS.

Walau demikian, saya juga menyadari bahwa menjadi PNS bukan perkara mudah. Selama ini seleksi CPNS dianggap momok bagi banyak orang. Hanya orang-orang tertentu yang akan terpilih. Semisal mereka punya keluarga dan relasi (orang dalam) atau punya cukup uang untuk membayar.

Jadi sebagai orang dari kampung, dua hal tertanam kuat di kepala saya. Pertama, PNS adalah pekerjaan bergengsi dan idaman. Barangsiapa yang lulus PNS maka derajat sosialnya akan naik.

Kedua, PNS memang pekerjaan berstatus sosial tinggi, namun hanya orang-orang tertentu yang bisa berada pada posisi itu. Mereka yang punya kenalan, relasi, punya harta untuk membayar setoran, atau karena sangat cerdas. Hal-hal yang tentu tidak saya miliki.

Tahun 2015, setahun setelah saya menyelesaikan jenjang sarjana, saya mendaftar CPNS di Barru. Saya pun ke sana, bolak balik Makassar-Barru dengan total tempuh selama empat jam pulang pergi. Hanya ada dua yang diterima. Berbekal harapan jika rezeki tak akan ke mana, saya pun mendaftar. Dan gagal, tentu saja. Saya hanya tercecer di peringkat delapan. Saya makin menyadari betapa tidak cerdasnya saya menaklukkan CPNS yang saat itu sudah memakai sistem CAT alias berbasis komputer.

Selama beberapa tahun terakhir seleksi CPNS telah melalui komputer. Tidak lagi manual berupa kertas yang rentan kecurangan. Tentu saja cara ini dilakukan BKN (Badan Kepegawaian Negara) atas nama transparansi. Saya yang memang tidak memiliki modal apa-apa, baik relasi maupun modal uang, tentu senang dengan seleksi yang konon lebih terbuka itu.

Apakah seleksi CPNS benar-benar murni dan orang-orang tidak lagi ‘bermain’? Dulunya saya pikir dan berharap seperti itu. Namun, beberapa teman yang saya kenal membisiki tak sepenuhnya terutama jika kuotanya sangat terbatas.

Mungkin tes komputer berupa CAT bisa lolos dan tidak ada celah kecurangan. Namun, masih ada tes SKD (Seleksi Kompetensi Dasar) dan SKB (Seleksi Kompetensi Bidang). Penguji kedua tes ini adalah manusia. Mereka bisa jadi mendapat titipan orang ini dan orang itu. Hasil penilaian bisa jadi subjektif terutama jika ada kandidat tertentu yang dia kenal. Jadi, bisa jadi hasilnya akan tampak benar-benar murni namun bisa jadi masih ada permainan cerdik dibaliknya. Sehingga tak jarang ada teman yang bercerita harus meminta tolong kepada seorang yang dianggap punya pengaruh untuk mengawal hasil tesnya kalau saja ada kandidat yang berusaha menyikut dengan jalan memanipulasi nilainya.

Lagi-lagi dalam hal itu, tentu, saya tidak memiliki siapa-siapa. Atau barangkali saya hanya terlalu pesimis.

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.