Locita

Selamat Hari Natal, Salahkah?

Beberapa kawan sering bertanya boleh tidak mengucapkan selamat natal dan saya tahu pertanyaannya hanya sekedar menguji. Sebab ketika saya menjelaskannya boleh, serta merta argumen saya tidak akan diterima bahkan cenderung disalahkan atau malah dituduh liberal dan sebagainya.

Namun, hal yang saya alami, mungkin juga Anda, masih lebih baik daripada perdebatan di media sosial yang tak jarang berujung pada saling caci dan saling mengkafirkan. Celakanya, sebab perdebatan boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal yang kerap berujung pada saling caci seolah menjadi agenda tahunan.

Perdebatan ini turut menyeret dan membelah masyarakat awam dalam kelompok mengharamkan dan membolehkan. Sejatinya perbedaan perspektif ini tidak akan menjadi masalah bagi mereka yang berusaha memahami satu sama lan. Namun, tidak bagi mereka yang fanatik atau menjadi korban fanatisme tertentu. Kedua kelompok akan saling serang dengan beragam argumen. Entah melalui analogi, pendapat ulama, riwayat, hadis bahkan ayat.

Teks-konteks

Beberapa tahun belakangan pemikiran radikal-fundamentalistik semakin berkembang dan pendukungnya semakin terbuka. Mereka yang berpandangan demikian cenderung memahami dalil secara sepihak, imparsial, dan sepotong-potong. Terlebih jika tafsiran dalil ditafsirkan sendiri secara semantik belaka, yaitu penafsiran hanya mengacu pada arti kata itu semata. Padahal dalam memahami teks bacaan ada faktor pragmatis yang terkadang jauh lebih berpengaruh. Paling tidak kita harus memperhatikan konteks waktu, situasi, tempat, dan pelaku yang terlibat.

Untuk memahami sebuah ayat dan hadis misalnya, banyak diantara kita mengabaikan konteks sebab turunnya ayat Al Quran (asbabul nuzul) dan hadis (asbabul wurud). Sementara faktor ini sangat berpengaruh dalam memahami maksud sebuah ayat atau hadis, sebab dengan demikian kita dapat menafsirkan maksud ayat tersebut sesuai konteksnya. Pemahaman imparsial tanpa memperhatikan konteks dapat menggiring kita pada pemahaman dangkal dan terburu-buru.

Hasilnya muncullah persepsi yang kerap saling menjustifikasi. Apatah lagi jika dirongrong fanatisme yang hanya bersedia meyakini satu pendapat lantas menafikan penjelasan pendapat yang lain. Mereka akan menganggap kebenaran hanya pada diri mereka dan yang lain salah. Imam Shamsi Ali pada sebuah kesempatan memperingatkan jika ada orang atau sekelompok orang yang menganggap dirinya paling benar, maka sesungguhnya orang atau sekelompok orang itu telah mengambil posisi Tuhan.
Perang Perspektif

Perbedaan perspektif sebagaimana sedang terjadi saat ini di berbagai konteks dapat berujung pada sebuah perang perspektif. Meski perangnya hanya sebatas pada tataran perbedaan pendapat, namun efek yang ditimbulkannya dapat jauh lebih mengkhawatirkan. Sebab perbedaan ini dalam konteks hubungan sosial dapat merenggangkan silaturahim.

Sikap-sikap ini tentu dapat merusak hubungan antar manusia (hablu minannas). Sebab pada tataran yang lebih parah kita dapat saling mengkafirkan. Syamsuri, Lc (Dosen Ulumul Qur’an UIN Alauddin) dalam salah satu khotbahnya menyebutkan perbedaan perspektif salah satunya disebabkan oleh kedangkalan pengetahuan. Ada kecenderungan mengabaikan dalil- dalil yang lain sekaligus sebagai keegoisan menerjemahkan dan memaksakan dalil.

Terkadang, begitu mudah menjustifikasi seseorang secara sepihak hanya karena sudut pandang kita yang berbeda. Ironinya sebab mereka yang berpengetahuan dangkal justru lebih keras mengharamkan dan mengkafirkan. Sebagian dari kita bahkan terkadang begitu arogan menuduh orang lain kafir. Syamsuri mengingatkan untuk tidak mudah mengkafirkan meski hanya sebatas candaan. Sebab dalam sebuah riwayat disebutkan jika salah satunya menuduh kafir maka salah satu darinya, pasti adalah kafir.

Polemik boleh tidaknya mengucapkan selamat natal kepada umat Kristiani turut menjadi bagian dari perang perspektif ini. Ada yang yang membolehkan dan ada yang mengharamkan. Mereka yang mengharamkan bersikeras bahwa mengucapkan berarti membenarkan keyakinan Umat Kristiani. Kita tentu bersyukur, jika ada saudara-saudara kita yang mengingatkan dan berusaha menyelamatkan dalam persepsinya tetapi bukan berarti memaksakan pendapat.

Sejatinya, persoalan mendasar dan menjadi sebab polemik adalah apakah ketika mengucapkannya kita membenarkan keyakinan mereka atau tidak. Keyakinan ini ada dalam barometer hati kita masing-masing dan hanya diketahui oleh kita sendiri dan Tuhan. Jika kita mengucapkan tanpa membenarkan keyakinan mereka, sebagaimana yang dikhawatirkan tentu tak ada masalah sebagaimana penjelasan ulama Imam Syamsi Ali, Prof. Quraish Shihab, Syeikh Dr. Yusuf Qardhawi, hingga Dr. Mustafha Az Zaqra. Mereka adalah ulama-ulama besar dengan kedalaman ilmu agama yang tak perlu diragukan.

Imam Shamsi Ali adalah Imam Besar New York yang pernah menuntut ilmu di beberapa negara Timur Tengah. Prof Qurasih Shihab adalah ahli tafsir yang rasanya sulit mencari penggantinya di Indonesia. Syeikh Dr. Yusuf Qardhawi dan Dr. Mustafha Az Zaqra adalah ulama terkenal dari Mesir. Bagi mereka, ucapan tersebut tidak perlu dipersoalkan jika diucapkan hanya sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan semata bukan pembenaran.

Jika kita memahami mengucapkan berarti justifikasi, apakah berarti tindakan yang lebih besar dari itu juga justifikasi? Apakah jaminan Rasulullah terhadap gereja-gereja dan rumah-rumah ibadah lainnya, atau Umar yang memaksa Gubernur Mesir untuk mengembalikan tanah ke orang-orang Kristiani, atau bahkan Rasulullah yang rela menjadi musuh umatnya sendiri jika ada orang dari umatnya menyakiti umat yang lain adalah justifikasi pembenaran terhadap keyakinan umat lainnya?

Pada akhirnya, kalaupun Anda tidak mengucapkan selamat Natal atas dasar keyakinan, tidak akan jadi masalah, asal jangan memaksakan pendapat pada orang lain. Akhlak dan perilaku kita harus berbicara lebih keras dan lebih nyata. Mudah-mudahan kita bersedia berbincang-bincang dengan pikiran-pikiran yang jernih.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.