Locita

Sejauh Apa Barakka dan Pammase Bertahan di Wajo?

SEJAK tahun 2017, papan-papan reklame, pohon-pohon hingga tiang listrik dipenuhi dengan orang yang memberikan senyum meski kadang senyumannya tak dibalas. Orang-orang itu tetap tersenyum meski diguyur hujan dan diserang oleh teriknya matahari. Mereka tak pernah lelah, tetap setia menjaga kampung baik siang maupun malam.

Tak hanya tersenyum, orang-orang itu juga melambaikan tangan dan mengajak orang lain yang lewat di sekitar mereka untuk menuju pada kesejahteraan. Ada yang mengenal mereka, ada juga yang tidak. Terlepas dari apakah mereka dikenal atau tidak, yang pasti mereka telah berhasil mendapatkan ruang dikalangan masyarakat untuk diperbincangkan baik di dunia nyata maupun dunia maya. Senyuman yang tak kenal lelah itu adalah senyuman dari mereka yang katanya ingin mengabdikan diri untuk masyarakat dan daerah.

Tahun 2017 telah berlalu, dan tahun 2018 telah berjalan selama sebulan. Senyuman-senyuman dan janji-janji kesejahteraan masih memenuhi kota hingga pelosok-pelosok kampung. Hal ini wajar, mengingat tahun 2018 adalah tahun politik.

Sebanyak 171 daerah akan mengadakan sebuah pesta yang katanya akan menentukan nasib suatu daerah selama 5 tahun ke depan. Sebuah pesta yang menelan anggaran sebanyak 10 triliun rupiah demi tersalurkannya 192 juta suara pemilih.

Namun di tahun 2018, ada yang berbeda dari orang-orang yang tersenyum itu. Jika di tahun sebelumnya, mereka tersenyum sendiri. Namun hari ini, telah ada orang lain yang ikut tersenyum di sampingnya. Ini menandakan bahwa mereka telah memutuskan untuk saling meminang dan berpasangan. Banyak alasan dibalik bersatunya dua orang itu, mulai dari alasan kesamaan visi, kesamaan ideologi hingga kesamaan-kesamaan lainnya. Dan satu lagi hal pasti yang menjadi kesamaan bagi mereka, yakni sama-sama tidak suka dengan sesama jenis.

Ada suka dan duka di tahun 2018. Sukanya wajah-wajah yang kemarin tersenyum sendiri, kini telah memilki pasangan sehingga mereka semakin tersenyum bahagia. Dukanya, beberapa wajah juga menghilang dari sudut-sudut kota. Konon mereka tak berhasil meminang dan dipinang. Bahkan katanya sudah ada yang sepakat untuk saling meminang. Namun apa daya, takdir berkata lain. Partai politik tak merestui.

***

Setiap detiknya, atmosfer pilkada semakin terasa. Ia seperti hangatnya kopi yang begitu nikmat bagi tenggorokan. Bagaimana tidak, orang-orang yang dulunya tak pernah terjun langsung ke masyarakat, kini selalu hadir di tengah-tengah masyarakat. Bahkan bisa dikatakan waktu mereka lebih banyak di masyarakat ketimbang di rumah sendiri. Tak tanggung-tanggung, banyak orang yang mendadak ramah. Suka menyapa duluan, meski tak dikenal. Itulah fenomena pilkada. Segala hal dilakukan demi meraup suara.

Kabupaten Wajo adalah salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang juga akan menyelenggarakan pesta yang katanya dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Pasangan calon bupati-calon wakil bupati telah mengerucut menjadi dua kandidat.

Pasangan pertama adalah Amran Mahmud-Haji Amran,S.E yang mengusung tagline PAMMASE. Pasangan ini adalah pasangan yang pertama kali melakukan deklarasi, yakni tepatnya tanggal 18 Novemberi 2017 dengan koalisi parpol yang terbilang gemuk (PAN, PKS, PBB, PPP, PDI-P, Nasdem dan  Demokrat).

Pasangan kedua yakni dr. Baso Rahmanuddin Makkarakka-KH.Anwar Sadat dengan tagline BARAKKA. Pasangan ini melakukan deklarasi pada tanggal 9 Januari 2018 dengan diusung 4 parpol (Golkar, PKB, partai Hanura dan partai Gerindra). Kedua paslon ini melakukan deklarasi di tempat yang sama, yakni di Lapangan Merdeka Sengkang.

Ada beberapa hal yang menarik dari pilkada Wajo tahun ini. Pertama, baru kali ini masyarakat akan menyaksikan antara BARAKKA dan PAMMASE berkompetisi untuk memperebutkan posisi 01 dan 02 Wajo. Barakka (berkah) bisa diartikan sebagai karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Sementara Pammase (anugerah) berarti limpahan rahmat atau karunia dari Tuhan.

Jadi jika ingin disimpulkan, maka keduanya adalah kebaikan. Dan baru kali ini kita akan menyaksikan dua kebaikan yang saling bertarung. Padahal doktrin yang selama ini tertanam di kepala saya adalah kebaikan hanya akan berlawanan dengan keburukan.

Namun jika kita ingin melihat dari sisi yang lain, kita bisa berasumsi bahwa selama perhelatan pilkada digelar, masyarakat Wajo tak perlu risau karena yang akan bertarung adalah dua kebaikan yang secara hakiki tak akan saling berbenturan, karena kebaikan akan selalu punya jalan yang sama. Tak akan ada kebohongan, tak akan ada saling cela, bahkan tak akan ada mutasi jabatan atau non job baik sebelum maupun setelah pilkada. Loh, kenapa ? Alasannya sederhana, mereka adalah barakka dan pammase. Jadi siapapun yang terpilih, tentu akan membawa kebaikan bagi seluruh lapisan masyarakat. Bukan kebaikan yang hanya datang bagi tim dan pendukung saja.

Kantor Bupati Wajo. Foto: panoramio.com

Hal menarik selanjutnya, tanpa menunggu salah satu di antara kedua paslon tersebut terpilih, masyarakat sudah bisa merasakan efek dari barakka dan pammase. Baru-baru ini, pasangan BARAKKA telah melaksanakan BARAKKA Cup sebagai ajang untuk menemukan bibit-bibit unggul di bidang sepak bola.

Bahkan katanya, paslon ini akan mengadakan Liga Wajo dengan sistem Home Away sebagai bentuk keseriusan dalam memajukan sepak bola kabupaten Wajo. Pasangan ini juga telah membagi-bagikan kalender secara gratis, memberikan bantuan untuk pembangunan masjid Nurul Yaqin di Desa Keera.

Bukankah ini adalah BARAKKA? Lebih lanjut, paslon ini juga menjanjikan perbaikan infrastruktur (pembangunan jalan antar desa), pupuk gratis, honor bagi guru mengaji dan pengembangan pesantren. Maka barakka mana lagi yang kau dustakan?

Tak mau kalah saing, paslon PAMMASE juga berusaha memberikan efek ke masyarakat sebagai bentuk pembuktian keberadaan mereka. Di bidang olahraga, PAMMASE baru saja mengadakan turnamen sepak takraw di Desa Tosora. PAMMASE juga menyediakan ambulans gratis bagi masyarakat, hingga menyantuni korban kebakaran. Bukankah ini adalah pammase?

Selain itu paslon ini juga telah memberikan harapan kepada masyarakat dengan menjanjikan rumah sakit non stop 24 jam yang dikemas melalui program oto dottoro’ (mobil dokter) ala IGD yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Lantas PAMMASE apa lagi yang kau dustakan ?

Hal menarik lainnya adalah kampanye kedua paslon ini begitu diselimuti dengan romansa religi. PAMMASE saat melakukan deklarasi menghadirkan ulama KH. Muhammad Arifin Ilham untuk memimpin dzikir bersama. Bahkan pada saat peresmian posko di salah satu kecamatan, pasangan ini kembali menghadirkan ustadz kondang, Ustadz Nur Maulana. Tak ingin kalah khusyuk, pasangan BARAKKA juga mengemas konsep deklarasinya dengan nuansa religius.

Penyanyi religius (Haddad Alwi) dan ustadz kondang (Ustad Riza Muhammad) turut melengkapi suasana khusyuknya deklarasi. Sepertinya kedua paslon ingin membuktikan bahwa Sengkang memang benar adalah Kota Santri.

Yang tidak kalah menariknya adalah perhelatan demokrasi di Wajo telah membuat dua tokoh agama untuk turun gunung demi meyakinkan masyarakat bahwa kedua paslon ini benar-benar barakka dan pammase bagi masyarakat Wajo.

Kedua tokoh agama ini bukanlah sosok yang asing bagi masyarakat, yakni Ustadz Abdul Somad di pihak BARAKKA dan Ustadz Nur Maulana di pihak PAMMASE.

“Ada berkah yang diberikan Allah untuk Kabupaten Wajo. Ada dokter fisik, yakni dr. Baso Rahmanuddin dan dokter batin lulusan Al-Azhar.” Kurang lebih seperti itu yang dikatakan oleh Ustad Abdul Somad sebagaimana dilansir Fajar.co.id (29/12/2017).

“Pammase itu paketnya lengkap. Amran Mahmud jago di birokrasi. Berpengalaman di DPRD dan pernah jadi Wakil Bupati. Pasangannya (Amran SE) itu pengusaha sukses. “Jadi apa pi? Wettunnana Pammase,” tegas Ustadz Nur Maulana sebagaimana dilansir Halosulsel.com (21/1/2018).

Jika sudah dua tokoh ini yang angkat bicara, apapi yang buat ki ndak percaya? Terlepas dari itu, bagi saya momentum pilkada tetaplah panggung yang menampilkan tontonan dimana orang-orang langsung mendadak ramah, mendadak baik, mendadak merakyat. Satu pertanyaan yang selalu hinggap di kepala saya bahwa setelah Juni 2018, masihkah Wajo Diselimuti Barakka dan Pammase?

A.Achmad Fauzi Rafsanjani

A.Achmad Fauzi Rafsanjani

Ketua Umum Rumpun Pemuda Wajo yang nongkrong di Lingkar Mahasiswa Islam Untuk Perubahan (LISAN) Cabang Makassar. Sedang berjuang mengenakan toga di Politeknik Negeri Ujung Pandang.

Add comment

Tentang Penulis

A.Achmad Fauzi Rafsanjani

A.Achmad Fauzi Rafsanjani

Ketua Umum Rumpun Pemuda Wajo yang nongkrong di Lingkar Mahasiswa Islam Untuk Perubahan (LISAN) Cabang Makassar. Sedang berjuang mengenakan toga di Politeknik Negeri Ujung Pandang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.