Esai

Sejarah Becak: Dari Jepang, Makassar, Hingga Jakarta

BELAKANGAN ini, becak sering menjadi topik pembicaraan warga di warung kopi. Semuanya bermula ketika Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, memberikan pernyataan akan memberi ijin beroperasinya kembali becak di Jakarta. Hingga detik ini, becak (pernah) menjadi bagian dari nadi kehidupan masyarakat Indonesia setelah ditemukan dan diproduksi selama berpuluh-puluh tahun.

Becak sering disimbolkan dengan kehidupan orang kecil. Pada zamannya, becak pernah menjadi alat transportasi yang handal, murah dan terjangkau di Jakarta maupun di kota-kota besar Indonesia.

Sejarah becak (kemungkinan besar) dimulai dari Jepang. Becak temuan Jepang disebut jinrikisha. Kata jinrikisha artinya kendaraan (dengan) kekuatan manusia. Sebenarnya tidak ada kejelasan, siapa penemu pasti jinrikisha.

Di Jepang, seorang misionaris Amerika, bernama Jonathan Goble mengklaim jinrikisha adalah ide dan ciptaannya. Konon, jinrikisha ciptaan Goble itu untuk mengangkut isterinya yang berkebutuhan khusus untuk keliling di kota Yokohama pada tahun 1848. Ada sumber lain yang menyebutkan jinrikisha ini ditemukan di Amerika Serikat.

Kita bisa menengok di catatan arsip nasional Jepang, yang kebetulan dapat diakses secara online. Pemerintah Jepang memberikan ijin produksi dan paten jinrikisha kepada Izumi Yosuke, Suzuki Tokujiro, dan Takayama Kosuke pada tahun 1870. Jinrikisha dibuat mendapat ilham dari kendaraan yang ditarik oleh kuda, dan telah beroperasi di Tokyo.

Sejak diproduksi, kendaraan ini dengan mudah menjadi sangat populer sebagai bagian dari transportasi di kota Tokyo. Setelah diproduksi secara massal, pada tahun 1872 sekitar 40.000 jinrikisha terdaftar dan beroperasi di jalanan Tokyo.

Beberapa museum seperti Powerhouse Museum di Sydney juga Museum Toyota di Nagoya memajang  jinrikisha. Kedua museum ini mengakui  jinrikisha diambil dan produksi Jepang pada akhir tahun 1880-an. Bentuk becak di Indonesia tidak begitu mirip dengan bentuk jinrikisha. Becak di Indonesia bentuknya cenderung kendaraan beroda tiga yang berbasis dari sepeda.

Meski tidak begitu mudah menelusuri jejak-jejak sejarah becak di Indonesia. Kenichi Maekawa penulis buku Tonan Ajia no Sanrinsha atau Kendaraan Roda Tiga di Asia Tenggara mengakui hal tersebut. Tidak mudah menelusuri jejak sejarah becak di Indonesia dan Filipina. Hal ini disebabkan sumbernya yang sangat minim dan kurang jelas. Meski agak sulit untuk ditelusuri, tapi bukan berarti sama sekali tidak bisa ditelusuri jejaknya.

Francis Warren dalam bukunya berjudul Rickshaw Coolie A People’s History of Singapore, 1880-1940 menyatakan bahwa arsip nasional Singapura menuliskan, becak di negara itu, dengan model jinrikisha, telah muncul pada tahun 1914. Menurut data di arsip nasional Singapura, kendaraan ini laris terjual di Jawa. Model dan gaya becak di Singapura adalah model jinrikisha. Meskipun demikian, sebuah foto koleksi Tropen Museum Belanda, menggambarkan terdapat becak model jinrikisha pada pertengahan tahun 1930-an di Medan. Jika diamati, becak model jinrikisha jarang ditemui di Indonesia di kemudian hari.

Ada satu tulisan yang mengupas sejarah becak di Indonesia karya Erwiza Erman. Erwiza peneliti senior di LIPI, menulis buku berjudul Dekolonisasi Buruh Kota dan Pembentukan Bangsa. Tidak semata menulis tentang sejarah becak, tapi buku ini lebih banyak membahas aspek politisasi dan sosial dari pengemudi becak.

Secara ringkas, sejarah becak di Indonesia, juga pernah dibahas di Majalah Historia. Beberapa sejarawan cenderung percaya sejarah becak banyak dipengaruhi oleh masyarakat Tiong Hoa. Pertama, mereka percaya hal ini karena kata becak kemungkinan besar adaptasi kata dari bahasa Hokkian, be chia, yang berarti kereta kuda. Kedua, becak banyak dikendarai oleh orang-orang keturunan Tiong Hoa. Analisa ini nampak cocok jika kita melihat sejarah becak sejak zaman 1955.

Warren dan Erman cenderung merujuk sejarah becak di Indonesia dipengaruhi imigran Cina. Meski demikian, sumber dengan perspektif yang berbeda menunjukkan bahwa temuan dan desain becak yang ada di Indonesia kemungkinan besar adalah inovasi dari komunitas dagang (imigran) Jepang. Mereka ini telah ada sebelum pendudukan militer Jepang di Indonesia.

Imigran ini sering juga disebut sebagai komunitas toko Jepang, karena orang-orang Jepang itu banyak yang memiliki toko-toko. Mengapa bisa imigran Jepang? Pertama, menurut observasi yang menjadi bagian dari disertasi saya, pada zaman pendudukan Jepang, komoditas sepeda Jepang membanjiri pasaran Indonesia.

Beberapa peneliti telah menuliskan dengan “membanjirnya” sepeda produk Jepang, seperti yang dituliskan oleh Peter Post awal tahun 1990-an. Menurut Post, pada awal tahun 1930-an, produk sepeda Jepang menguasai pasaran di Asia Tenggara. Termasuk juga di Cina. Di Hindia Belanda produk Jepang ini juga dipasarkan oleh toko-toko Cina.

Satu catatan penting yang membahas tentang bagaimana sepeda-sepeda itu dikreasikan menjadi becak adalah tulisan Tamaki Shibukawa tahun 1941. Shibukawa adalah seorang jurnalis yang keliling Nusantara. Ia menuliskan, “Suara bel yang berbunyi dari tiga roda (becak) di jalanan-jalanan Makassar sangat ribut.” Ia menuliskan bahwa sepeda yang dijadikan becak tiga roda adalah hasil karya Tayoshi Seiko yang pada saat ia temui berusia 50-an tahun pada pertengahan tahun 1930-an.

Saat itu istilah becak sepertinya belum muncul. Suplai sepeda (produksi Jepang) yang berlebih memaksanya untuk membuat becak. Seiko-san adalah salah satu dari komunitas pedagang Jepang yang tinggal di Makassar. Seiko-san sendiri adalah salah seorang karyawan dari toko Sepeda A. Doi, salah satu dari 11 toko sepeda yang ada di Makassar saat itu. Penduduk Jepang saat itu kebanyakan adalah warga Jepang yang berasal dari Wakayama dan sebagian besar pula dari mereka berjualan sepeda.

Masih menurut Shibukawa, 4000 lisensi diberikan untuk operasional tiga roda. Tapi kemudian lisensi ini berkurang karena becak-becak itu kemudian dikirim ke Batavia. Hal ini juga diperkuat oleh sebuah artikel di koran Jawa Shinbun, sebuah koran propaganda pemerintah militer Jepang.

Dalam artikel yang berjudul Becha Monogatari (Kisah Mengenai Becak), yang terbit pada tanggal 20 Januari 1943 menyebutkan asal-mula becak. Menurut artikel ini, becak merupakan inovasi orang Jepang dan ditemukan di Makassar. Setelah beberapa tahun kemudian, becak-becak ini dikirim ke Jakarta.

Artikel yang hanya berselang dua tahun dari buku Shibukawa, sudah menyebutkan nama becak dan bukan tiga roda. Sejak kapan nama tiga roda berubah menjadi becak? Tidak ada penjelasan lebih lanjut. Tetapi, artikel ini banyak mengkritik cukong-cukong becak keturunan Cina yang seakan-akan memeras tukang-tukang becak (dalam artikel ini juga sudah disebutkan istilah tukang becak).

Tidak banyak dokumen yang menunjukkan asal becak dari Makassar. Tetapi, menurut penelusuran saya di koleksi KITLV media, ternyata ada beberapa foto-foto yang menunjukkan bahwa becak-becak atau tiga roda berasal dari Makassar. Foto-foto ini, kebanyakan diambil pada pertengahan tahun 1930-an.

Meski demikian, ada juga yang fotonya diambil di kota lain pulau seperti Balikpapan dan Samarinda. Tapi desain dan konstruksi becak, sangat mirip dengan becak modern Indonesia. Tidak seperti desain jinrikisha seperti yang digunakan di Singapura pada umumnya.

Hal ini juga diperjelas dari tulisan Maekawa. Maekawa merujuk dari tulisan Susan Abeyesakere yang menuliskan sejarah Jakarta. Menurut Susan, becak di Jakarta baru terdokumentasi sejak awal 1940-an. Sebelumnya, di pertengahan tahun 1930-an, laporan mengenai uji coba becak dilakukan di Jakarta.

Uji coba ini dilakukan untuk menguji apakah rem-rem becak tersebut cukup baik dan tidak menimbulkan celaka di jalan. Setelah uji coba ini, pertumbuhan becak-becak ini kemudian melejit di Jakarta. Pemerintah daerah Jakarta akhirnya agak kewalahan dengan tumbuhnya jumlah becak ini.

Pada zaman pendudukan Jepang, jumlah becak tumbuh pesat di kota-kota besar. Mengapa? Masih menurut Maekawa, kendaraan ini irit bahan bakar dan banyak menggunakan tenaga manusia sehingga di-support penuh oleh pemerintah militer Jepang. Kuda-kuda yang digunakan sebagai penarik kendaraan kemudian bisa disembelih untuk dikonsumsi.

Becak kemudian dijadikan kendaraan yang murah dan tidak menghabiskan banyak bahan bakar. Setelah pendudukan militer Jepang usai, industrialisasi becak-becak ini dikuasai oleh cukong-cukong keturunan Tiong Hoa. Sepertinya, teknologinya masih mengikuti gaya becak model Jepang. “Becak-becak ini dijadikan dari sepeda-sepeda yang dirangkai,” demikian yang ditulis dalam tulisan Erman.

Di Jepang, becak atau jinrikisha sudah tidak dioperasikan sebagai sarana transportasi di jalan-jalan besar. Jinrikisha masih dioperasikan oleh pihak-pihak tertentu, tetapi sepertinya dengan tujuan untuk melestarikan sejarah, sekaligus menjaga keeksotisan jinrikisha.

Pada umumnya, jinrikisha ini dioperasikan di wilayah-wilayah turis, seperti di Asakusa di Tokyo atau di Arashiyama di Kyoto. Penarik jinrikisha ini pada umumnya melakukan training khusus. Tidak saja kekuatan fisik yang baik tapi juga salah satu syaratnya, sepertinya berpenampilan menarik.

Bahkan ada istilah ikemen (orang ganteng) untuk penarik-penarik jinrikisha ini. Sebagian dari mereka malah menguasai bahasa-bahasa asing. Tentu saja, karena mereka banyak melayani turis asing.

Jika betul pemerintah DKI, yang konon usulan gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan akan mengoperasikan kembali becak yang dilarang sejak zaman Orde Baru, mungkin ada baiknya untuk menjaga kelestarian becak sebagai pusaka budaya. Membuatnya eksotis dan eksklusif.

Bukan untuk merendahkan becak. Apalagi tukang becak yang secara historis selalu terlunta-lunta tertindas oleh “kekuasaan” dan kepentingan kapitalisme.

 

Meta Sekar Puji Astuti

Meta Sekar Puji Astuti

Sejarawan alumnus Ohio University dan Keio University. Pernah tinggal di Ohio (Amerika Serikat), Tokyo (Jepang), dan kini kembali bermukim di kota Makassar.

Previous post

KOHATI Dalam Membingkai 71 HMI

Next post

Obituari Yockie Suryoprayogo: Sang Pemberi Jiwa untuk Musik