Esai

Seberapa Mewah Ruang Kerja Anggota DPR?

PERTAMA masuk ruangan bernomor 1803 di Nusantara 1 DPR RI. Saya terhenyak, karena saya membayangkan ruangan anggota DPR itu besar, ada kamar tidur, ruang tamu dan kamar mandi sendiri. Saya membandingkannya ke ruangan direktur jenderal (dirjen) salah satu kementerian yang pernah saya kunjungi. Ruangannya sangat besar. Saya berpikir “Kalau ruangan dirjen segede itu, pasti ruangan anggota DPR lebih gede,” pikir saya. Ternyata tidak demikian.

Ruangan 1803 yang saya tempati itu besarnya tiga kali lima meter. Ruangan tersebut ditempati delapan orang. Pada desain awal, ruangan untuk saya sebagai anggota dewan lebih luas dari ruangan staf. Saya merombak ruangan, dengan mempersempit ruangan untuk saya dan meluaskan ruangan untuk staf. Pertimbangan saya, jumlah staf lebih banyak dan mereka lebih sering berada di ruangan.

Jangan bayangkan ada ranjang yang empuk dalam ruangan atau meja makan yang nyaman dan ruang tamu yang megah. Alhamdulillah, di sela-sela break rapat, saya tetap bisa istirahat tidur di sofa. Tetap nyenyak kok. Buktinya masih ngorok dan ngiler. Hahaha.

Ruangan saya maksimal bisa menerima tamu empat orang saja, karena hanya itu sofa yang tersedia. Kalau ada tamu banyak, saya tarik kursi-kursi tim saya. Kalau tamunya orang dekat saya ya mereka duduk saja di kursi kerja saya. Malah kalau tamunya krucil-krucil keponakan, mereka duduk di atas lemari pendek yang ada di ruangan. Jadi kruntelan hehehe.

Ruangan tim, saya buat senyaman mungkin. Saya pesankan meja dan kursi sendiri, agar semua tim punya kursi-meja masing-masing. Saya tambah komputer, karena komputer dari sekretariat hanya ada dua. Itupun dua tim saya masih belum mendapat komputer. Nah, PR saya untuk menambah komputer baru.

Perabotan lainnya juga saya tambahi sendiri yang lebih minimalis, agar ruangan tidak terlalu kelihatan sempit. Saya dan tim kalau mau makan ya ndelosor saja di lantai yang sempit di ruangan. Untungnya mayoritas tim saya adalah santri, jadi diajak ndelosor yo monggo saja hehe.

Untuk ke kamar mandi, dalam satu lantai, ada sekitar delapan kamar mandi dan peruntukannya untuk umum. Senang sih kalau lagi antri ke kamar mandi kita berderet. Ya anggota dewannya, ya tenaga ahli, ya Aspri, ya sekretariat, ya office boys, semuanya mesti antri. Jadi keliru kalau tiap ruangan anggota DPR punya kamar mandi sendiri-sendiri.

Nah, yang paling menarik berbicara soal lift. Di Nusantara 1 yang merupakan ruangan seluruh anggota DPR (560 anggota), ada tujuh lift. Sebenarnya empat lift untuk anggota dewan dan 3 lift untuk staf dan tamu. Namun, prakteknya pembagian itu tidak terpakai. Pokoknya lift mana yang datang duluan ya, semuanya naik disitu. Seru juga saling berdesakan dengan staf, tamu dan anggota dewan lainnya.

Kalau sudah habis rapat paripurna, antri di lift sering kali bisa 30 menit. Bayangkan 560 anggota ditambah 2.800 tenaga ahli, ditambah 1.120 Aspri, dan tenaga ahli fraksi (saya tidak tahu persis jumlahnya). Belum lagi sekretariat fraksi (lagi-lagi saya tidak tahu jumlahnya), ditambah lagi office boy dan pamdal. Maka, depan lift itu udah menyerupai keramaian pasar. Hahahaa.

Lift di Nusantara 1 ini bebannya luar biasa. Harus naik dari area parkir hingga lantai 22 dengan beban yang super banyak. Jadi sering kali lift ini berbunyi-bunyi tanda overload. Nah karena beban ini lift sering banget ngambek, jarang sekali tujuh lift itu sehat semuanya. Pasti ada yang satu atau dua sedang out of order.

Karena suatu saat lift itu sangat capek, akhirnya ngambek. Saya yang saat itu sedang di dalam lift mau turun dari lantai 18 ke parkir. Antrian yang panjang membuat saya memilih ikut lift naik dulu ke lantai 22, baru turun. Eh ketika turun di lantai 20, lift bergoyang hebat, lalu turun cepat. Kita semuanya dalam lift udah teriak. Untungnya di lantai 18, lift berhenti dan bisa dibuka. Ahirnya kami memutuskan untuk turun lewat tangga, rombongan dengan seluruh orang yang saat itu juga sedang antri lift. Olahragaaaaa euyyyyy hahhaa.

Saya sangat beruntung karena tidak terjadi apa-apa walaupun lift ngadat. Beberapa teman mengalami kejadian lift jatuh dari lantai 2 ke parkir. Terakhir kejadian ahir bulan Juli kemarin. Waktu break rapat paripurna, semua anggota dan staf kembali ke ruangan untuk break sholat magrib dan makan malam.

Lift penuh, sudah naik ke lantai 2 lalu lift berbunyi dan nomor indikasi lantai jadi ngacau. Saya yang sedang antri lift kaget. Dan ternyata liftnya jatuh. Alhamdulillah lift yang full tersebut tidak melukai orang-orang yang ada di dalamnya. Sejak saat itu setiap kali harus naik lift yang ada deg-degan.

“Duh bisa nyampai lantai yang saya tuju tidak ya?” Apalagi saya tahu kalau posisi Nusantara 1 sudah miring, semakin ser-ser’an kalau ngantor. Hehehe.

Mungkin kondisi itu yang perlu dilihat dalam wacana pembangunan gedung DPR yang baru, bukan soal fasilitas-fasilitasnya. Saya sih tidak care ada atau tidak ada fasilitas olahraga ataupun fasilitas lainnya, yang penting keselamatan penghuni gedung Nusantara 1 terjamin. Menurut saya siapapun pengguna gedung yang kondisinya membahayakan ya gedungnya harus diperbaiki, bukan karena saya anggota DPR lalu meminta gedung diperbaiki. Hehehe.

Di media sosial, sering ada meme “Kalau Gedung DPR ambruk, yang meninggal 560 anggota dewan yang akan bahagia 250 juta rakyat Indonesia.” Ada juga meme “Gedung miring karena penghuninya otaknya miring.” Meme lain “Gedung DPR Ambruk, Rakyat malah Pesta” dan masih banyak meme lainnya.

Bagaimana perasaan saya baca meme-meme itu? Hmm, gimana ya perasaan saya, jadi bingung mengungkapkan. Ya, bayangkan saja anda semuanya sedang didoakan banyak orang untuk segera meninggal, yaa itu yang saya rasakan hehehe. Saya hanya berdoa semoga anak-anak saya tidak membaca meme-meme itu biar mereka tidak sedih mamanya didoakan untuk meninggal, dikata-katain otak miring dan sebagainya, biar anak-anak saya tidak sedih dan tidak terganggu belajarnya. hehehe.

Silakan mampir di gedung kami.

Monggo yang mau mengatakan saya lebay ya hahaha.

Nihayatul Wafiroh

Nihayatul Wafiroh

Anggota DPR RI dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB). Berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Aktivitas bisa dipantau di http://nihayahcenter.net/

Previous post

Membaca Kesehatan Mental Pekerja Kreatif

Next post

Menyibak Tabir Kasus Pegang Tetek National Hospital