Locita

Satu Rumah Tiga Tuhan, Pesan Toleransi dari Bima

“Aku bukanlah orang Nasrani, Aku bukanlah orang Yahudi, Aku bukanlah orang Majusi, dan Aku bukanlah orang Islam. Keluarlah, lampaui gagasan sempitmu tentang benar dan salah. Sehingga kita dapat bertemu pada ‘Suatu Ruang Murni’ tanpa dibatasi berbagai prasangka atau pikiran yang gelisah”.

PESAN terindah dari Jalaluddin Rumi (Ulama sufi) di atas sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk memekarkan mawar toleransi di antara kita. Biarlah orang lain merayakan ritual keagamaannya, kita sendiri pun beribadah menurut keyakinan masing-masing. Yang terpenting adalah outputnya, yaitu akhlak atau etika kolektif yang mengharum di ruang publik.

Tapi penyakit hati seperti egois, prasangka buruk, takut dan resah ketika memandang sesuatu yang berbeda masih saja kita jumpai dalam kehidupan keagamaan di Indonesia. Seolah-olah kalau melihat simbol atau ritual agama lain, iman mengalami pengeroposan. Jangan-jangan kurang piknik, ya?

Betapa tidak, gelombang intoleransi simbolik akhir-akhir ini menggambarkan bahwa gaya beragama lebih menampilkan duri daripada harumnya. Pada pertengahan Desember 2018 lalu, sebuah nisan kayu salib umat Kristiani dipotong di Paroki Pringgolayan, Yogyakarta.

Awal tahun 2019, terjadi penghancuran simbol-simbol agama di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Giriloyo, Magelang. Belakangan, sekelompok masyarakat menolak perayaan tahun baru Imlek dan Cap Go Meh 2019 di wilayah Bogor.

Kalau memang kurang piknik, saya mengajak Anda mengunjungi sebuah “desa toleran”, yakni Desa Mbawa, Kec. Donggo, Bima – NTB. Desa yang terletak di pegunungan bagian barat Kabupaten Bima ini memang tergolong desa adat, dengan aroma tradisional yang khas.

Di desa Mbawa terdapat pemeluk Islam, Katolik, Protestan, dan Parafu (kepercayaan lokal). Kendati begitu, warga Mbawa tetap mampu menjaga kerukunan satu sama lain.

Sebagai catatan, dou Donggo (orang Donggo) disebut sebagai penduduk asli yang pertama kali menghuni tanah Bima. Dou Mbawa sebagai bagian dari Donggo dikenal masih teguh merawat tradisi.

Keunikan sistem kepercayaan, adat istiadat dan tradisi dou Donggo (termasuk Mbawa) mengundang perhatian seorang antropolog Amerika untuk melakukan penelitian disana, yakni Peter Just yang kemudian diterbitkan dalam buku berjudul Dou Donggo Justice: Conflict and Morality in an Indonesian Society (Rowman & Little field Publishers, 2001).

Mbawa ibarat oase spiritual lintas iman di tengah menguatnya konservatisme keagamaan jaman now. Keberbedaan agama tak menghambat warga Mbawa untuk saling menautkan cinta kasih. Bahkan dalam satu satu rumah terdiri dari beragam agama, namun harmoni tetap terjalin erat.

Aktualisasi sikap toleran tercermin pada ‘revolusi kebudayaan’ dalam bentuk pemberian nama.  Misalnya, beberapa kaum Kristiani di Mbawa, terjadi percampuran nama baptis dengan nama syar’i.

Jangan kaget, kalau kita memasuki Desa Mbawa, Anda akan menyaksikan nama-nama pengikut Kristus yang Islami, seperti Ibrahim, Muhammad, Ahmad, Abu Bakar, Ismail, Abdullah, Siti Hawa, Hadijah, dll.

Dalam merawat toleransi antar umat beragama, masyarakat Mbawa ditopang dengan ritual Raju, sebuah doa jelang musim tanam yang diikuti oleh penganut Islam, Katolik, Protestan dan Parafu. Kearifan lokal Raju itu meneguhkan watak pluralitas masyarakat Mbawa yang asyik bertemu–meminjam kata-kata Rumi: suatu ruang murni, bebas dari prasangka negatif dan ketakutan akan goncangan iman.

Dalam disertasinya di Universitas Udayana–Denpasar berjudul Praktik Budaya Raju dalam Pluralitas Dou Mbawa Di Bima, NTB (2016), Abdul Wahid menulis, praktik budaya Raju memainkan peranan penting dalam dinamika masyarakat.

Prosesi ini berlangsung selama 3 sampai 9 hari yang dimulai dari persiapan (pengkondisian) sampai kepada puncak ritual, mengambil tempat di ketinggian di mana Uma Ncuhi (rumah adat) terletak. Dalam prosesinya, Sando (tetua adat) memimpin dengan pembacaan mantra-mantra yang diiringi tarian-tarian khas seperti Mpisi dan Kalero, sesajian, Kasaro (doa-doa), pujian kesyukuran, dan perbincangan-perbincangan.

Dalam catatan Abdul Wahid (2016), praktik dan kreasi budaya ini bersumber dari kepercayaan leluhur, bergulir dan membentuk jalinan dalam perpaduan unik tradisi dan agama. Dalam jalinan itu terkandung sistem kepercayaan, pandangan dunia, visi sosial atau cita-cita hidup, serta gambaran mengenai kesejahteraan dan kedamaian.

Jadi, banyak jalan menuju toleransi. Identitas simbolik tidak harus disombongkan, diglorifikasi, apalagi diberhalakan. Di sinilah spiritualitas non-ego menemukan relevansinya, berbeda dalam agama tapi bersenyawa dalam satu cinta.

Titik-titik temu bersemai dari persilangan spiritual dalam bentuk mystic synthesis (sintesis mistik) guna menyelami ‘kebenaran’ dalam hakikat, bukan kepandiran yang terjebak dalam penampakan. Perjumpaan agama dan tradisi memantulkan keadaban lokal bagaimana beragama secara inklusif, toleran dan cinta damai.

Saat perayaan hari-hari besar keagamaan, masyarakat Mbawa terlihat merayakan kegembiraan bersama. Kelompok muslim ikut mengamankan gereja saat perayaan Natal.

Begitu pula komunitas Kristen turut menjaga masjid saat idul fitri dan idul adha, termasuk pas sembahyang jum’at. Dalam momen indah seperti itu, mereka pun saling membawakan makanan, saling mengunjungi satu sama lain.

Lebih dari itu, kadang gereja digunakan oleh kaum muslim untuk melaksanakan hajatan pernikahan. Pandangan dunia dou Mbawa lebih mengutamakan esensi kemanusiaan daripada atribut formal keagamaan. Apalagi mereka diikat dengan sebuah kesadaran sebagai satu moyang, satu darah.

Warga Mbawa pun saling bahu-membahu saat pembangunan sarana ibadah seperti masjid dan gereja. Begitu juga dalam rembug bersama untuk melaksanakan acara hajatan sebagai manifestasi visi sosial. Mereka saling bergotong-royong untuk saling membantu demi kesejahteraan dan kedamaian bersama.

Menariknya, di Donggo terdapat Lembaga Adat dan Syariah Donggo (LASDO). Majelis Adat LASDO terdiri dari beberapa perwakilan tokoh masyarakat dari masing-masing desa di Donggo. LASDO menjalankan hukum adat, hukum Islam maupun hukum tidak tertulis secara berbarengan.

Tidak hanya mengatur umat Islam, tapi juga Kristen dan kepercayaan lokal. Dalam proses resolusi konflik yang timbul di masyarakat misalnya, LASDO inilah yang turun tangan.

Hukum adat ini juga diberlakukan di Desa Mbawa yang tak sedikit dihuni oleh orang-orang Katolik, Protestan dan Parafu. Semua kelompok agama dan aliran kepercayaan menerima.

Sistem hukum Dou Donggo melalui LASDO terbukti efektif menciptakan kerukunan dan harmonisasi di antara komunitas yang majemuk maupun stabilitas sosio-kultur secara umum.

Dus, Desa Mbawa bisa menjadi lilin kecil untuk menyalakan kembali cahaya kebangsaan kita yang mulai retak akibat virus intoleransi, pemuja kekerasan dan ruang gelap politisasi isu agama.

Daripada studi bandel, mendingan studi banding ke Mbawa.

Mawardin

Mawardin

Alumnus FISIP Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UNHAS, Makassar. Pernah jadi peneliti di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Saat ini bekerja di Charta Politika Indonesia.

Add comment

Tentang Penulis

Mawardin

Mawardin

Alumnus FISIP Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UNHAS, Makassar. Pernah jadi peneliti di Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). Saat ini bekerja di Charta Politika Indonesia.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.