Locita

Sadar atau Tidak, Kita Telah Merawat Rasisme

Sijay adalah roommate saya pada tahun pertama saat studi di Illinois, Amrik. Dia orang Amerika dari kota sebelah, Saint Louis, Missouri. Saat saya tahu bahwa dia orang Amerika tetapi berkulit hitam, saya menjadi kurang bersemangat. Terbayang stereotipe di kepala saya. Tidak bersih dan rapi, berbau badan, terbelakang dan sepertinya tidak keren saja gitu. Kalau berteman saja mungkin tak apa sebab saya sudah sering bergaul dengan orang dari berbagai latar belakang.

Namun saya mengakui bahwa pikiran seperti itu adalah konstruksi yang telah lama terbangun di kepala saya dan butuh waktu meruntuhkannya. Saat saya kecil, seseorang yang seharusnya mendukung saya, meledek saya seperti monyet karena bulu-bulu di kaki saya. Saya memang memiliki bulu-bulu yang lebih lebat karena faktor genetik. Ejekan monyet kemudian saya juga tahu sering disematkan kepada mereka yang berkulit hitam: dari Papua hingga ke Afrika sampai Amerika.

Saya beruntung di kelilingi oleh orang-orang yang anti-rasis yang sering kali menyuarakan anti-rasis di sosial media. Saya juga bersyukur sebab terbantu dengan bacaan-bacaan yang mencerahkan pikiran saya. Dan tentu pengalaman pernah mengalami tindakan rasis membantu saya untuk turut merasakan jika saya di posisi mereka.

Saya, barangkali seperti halnya sebagian dari kita yang pernah atau masih berpikir rasis terutama karena warna kulit, adalah korban rasisme sistemik dan terstruktur yang telah terbangun sejak lama. Dari bangsa-bangsa kulit putih yang menjajah kemudian turun ke negara-negara jajahannya sendiri. Dan kini bangsa-bangsa penjajah sedang sibuk untuk melawan apa yang telah diperbuat leluhurnya sendiri.

Rasisme telah diilmiahkan untuk menyebarkan dan meyakinkan banyak orang. Gaungnya lebih besar melumat bantahan-bantahan ilmiahnya. Dan karena stereotipe tersebut sudah begitu terkonstruksi secara sosial maka butuh usaha keras menghilangkannya. Mungkin kita perlu berjihad. Kita sedang melawan stereotipe besar yang telah berlangsung ratusan tahun. Kita sedang melawan pikiran kita sendiri. Konstruksi global yang telah mencekoki kita sejak kecil.

Samuel Morton adalah ilmuwan yang mengilmiahkan rasis sehingga terkesan saintifik. Morton, yang biasa dijuluki Bapak Rasisme Ilmiah itu meneliti tengkorak manusia dan menyimpulkan bahwa kecerdasan manusia dapat diurutkan berdasarkan rasnya. Ada lima tingkatan katanya. Yang paling atas adalah Ras Kaukasia, yang tak lain tak bukan adalah orang kulit putih sedangkan yang paling bawah –untuk tidak menyebutnya paling bodoh—adalah Ras Ethiopia yang tak lain tak bukan merujuk pada kulit hitam.

Rasisme seolah divalidasi dengan temuan yang seolah ilmiah ini. Beberapa orang –termasuk beberapa senator di Amerika Serikat– yang mungkin memang dari boroknya berpikir rasis sejak alam pikiran menggunakan data ini sebagai pembenaran. Tentu saja temuan tersebut ngaco. Beberapa ilmuwan membantahnya, menguliti metode analisisnya, dan pengampilan sampelnya yang tidak valid dan reliable. Buktinya adalah teman saya sendiri.

Namanya Selikem Gotah dari Ghana. Awalnya saya berpikir ia biasa saja saat pertama kali berada dalam satu kelas. Mana dia percaya diri sekali duduk paling depan, sendiri pula. Lama-lama saya dan yang lain banyak bergantung pada dia. Kami membentuk grup khusus untuk menaklukkan mata kuliah ‘Advanced Syntax’ dan mengangkatnya dengan penuh hormat sebagai ketua kelompok. Profesor saya yang awalnya saya anggap berpikir rasis karena sering mencuekkan mahasiswa internasional, termasuk pada Selikem, lama-lama menaruh hormat pada Selikem. Ia dengan senang hati menjadi pembimbingnya dan membangga-banggakannya di hadapan profesor lain. Bukan hanya di kampus kami tetapi pada kolega-koleganya di kampus lain. Di penghujung program, Selikem diterima untuk melanjutkan Ph.D di 8 kampus ternama di Amerika Serikat, termasuk Harvard University. Maka jelaslah Teori Morton itu tidak benar adanya.

Anak-anak kulit hitam sering dianggap bodoh. Tidak perlu jauh-jauh. Beberapa kali saya mendengar stereotipe anak-anak Papua katanya bodoh, terbelakang dan tidak beradab. Kita lupa bahwa ketidakadilan (sikap) kitalah yang menyebabkan mereka tertinggal. Bukan hanya di Indonesia tetapi juga di seluruh dunia.

Dalam sebuah eksperimen sosial, dua tim akan mengikuti cerdas cermat. Dua tim tersebut dipisahkan oleh sebuah tirai penghalang. Sebut saja Tim A dan Tim B. Pada mulanya kedua tim-tim sama-sama menjawab dengan sama benar dan sama cepatnya. Lama-lama pertanyaan makin ke sini makin sulit. Tim A mulai tersendat-sendat dan kalah cepat dari Tim B. Sementara Tim B tidak terbendung. Mereka menjawab dengan cepat. Pendukung Tim A yang sebagian besar orang tuanya mulai kehilangan tepuk tangan dan berganti ketakjuban pada Tim B.

Namun, ketika tirai tersebut dilepaskan mereka menyadari jika Tim B dapat menjawab semua pertanyaan dengan lebih banyak dan lebih cepat sebab mereka dibantu oleh laptop dan internet. Akses. Pemerataan terhadap fasilitas kawan. Seandainya orang-orang kulit hitam sana memiliki akses yang sama, seandainya anak-anak Papua diberikan akses yang sama, seandainya kaum kulit hitam di Amrik mendapat hak yang sama dengan kulit putih, bisa jadi mereka akan lebih maju dari saat ini.

Ketidakmajuan mereka adalah buntut dari rasisme secara sistematik dan tersutruktur. Saya masih mendapat bekas-bekas rasisme di Amrik ketika kulit hitam ditempatkan di tempat yang kumuh dan diberi nama khusus. Tempat duduk di bus dipisahkan dengan kulit putih. Pun begitu dengan westafel dan kamar mandi. Tentu, fasilitas yang kulit putih ini jauh lebih lengkap dan lebih bagus dari yang untuk kulit hitam.

Dalam sebuah tragedi yang disebut The Tuskegee Syphilis Experiment orang kulit hitam menjadi korban penelitian tentang penyakit sifilis. Para tenaga kesehatan yang merupakan kulit putih itu memanfaatkan ketidaktahuan pasien mereka yang kulit hitam untuk dimanfaatkan dalam penelitian tersebut. Ada 400 orang kulit hitam di Alabama selama 40 tahun sejak 1932 yang menjadi korban rasisme berkedok kesehatan tersebut.

Hari ini, rasisme sistemik ini tetap berlangsung. Di bank seperti Wells Fargo, jika nasabahnya kulit putih mereka akan mendapatkan keistimewaan dengan tidak perlu membayar bunga bank yang sebesar kulit hitam. Kulit hitam sebalik dijerat dengan biaya bunga lebih besar. Yah, makin miskinlah.

Kulit hitam tidak dapat semaju kulit putih karena mereka tidak diberi akses yang sama. Proporsi kulit hitam yang miskin lebih banyak daripada kulit putih karena mereka tidak mendapat kesempatan kerja yang sama. Anak-anak mereka tidak mendapat fasilitas pendidikan yang sama. Bahkan ketika meminjam di bank pun mereka mendapat rasisma bunga bank. Dengan semua sistem seperti itu bagaimana mereka bisa semaju kulit putih? Bahkan ketika Barrack Obama pun menjadi presiden, rasisme itu tidak sepenuhnya hilang.

Saya percaya bahwa jika semua orang-orang, ras apa pun, memiliki fasilitas dan akses yang sama, mereka sama hebatnya. Bahkan bisa lebih hebat.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.