Locita

Saatnya HMI DIPO dan MPO Rujuk Kembali

HMI lahir di tengah pergulatan bangsa dan tanah air melawan penjajah yang hendak merongrong republik pada fase pembentukannya. Sebagai salah satu lokomotor perubahan, HMI hadir tidak sekadar menampilkan kemewahan intelektual, tetapi turut meretaskan trajektori bagi perubahan cita-cita sosial.

Bagaikan mutiara di dalam kubangan lumpur, organisasi kemahasiswaan ini menunjukkan eksistensinya yang luar biasa dalam mempertahankan keutuhan umat dan bangsa di masa awal kemerdekaan.

Persoalan paling mendasar di balik keretakan bangsa hari ini dipicu oleh kegagalan menyerap cita-cita sosial sebagai tujuan berbangsa dan bernegara.

Hampir 7 dekade berlalu bangsa ini–secara konsensus–dibentuk, namun mimpi itu terasa semakin jauh diraih, bahkan terasa mustahil digapai. Tidak karena bangsa ini ditakdirkan untuk menjadi bangsa pemimpi, melainkan praktik kekuasaan yang cenderung memarjinalkan sebagian mayoritas dalam kubangan kemiskinan, dan minoritas lainnya dalam genangan harta.

Inilah hulu dari bencana sosial yang mendera negeri ini sejak berdiri sampai sekarang.

Menyikapi hal ini, HMI sebagai salah satu organisasi mahasiswa tertua yang semenjak berdirinya berikrar untuk mengeluarkan bangsa ini dari kemelut sejarah, perlu mengambil sikap dalam merespon dinamika dan tantangan zaman saat ini.

Generasi muda HMI harus mampu menerjemahkan situasi dan problematika bangsa dan umat yang berlangsung di setiap patahan maupun kesinambungan sejarah. Menangkap setiap pendulum masalah, memahami akarnya, memroyeksikan pemecahannya dan bersikap komit dalam mentransformasi zaman sesuai cita-cita umat dan bangsa.

Kader HMI harus mampu menjernihkan polemik budaya, agama dan identitas berbasis kelompok. Juga, tampil sebagai agen intelektual yang tidak berpihak pada satu golongan di atas golongan yang lain. Berpikiran kritis, berpandangan maju serta berjiwa dedikatif bagi pembaharuan cita-cita umat dan bangsa dalam rel ketauhidan.

Kader HMI diharapkan mampu membaca arah gerak perubahan zaman, memanfaatkan perkembangan tekonologi yang ada untuk mewujudkan visi transformasi sosial yang humanis, religius dan modernis.

Sintesa pemikiran ke-Indonesiaan dan ke-Islaman adalah wujud komitmen HMI sejak pembentukannya. Ini sekaligus menegaskan bahwa HMI memiliki pandangan dan pendirian teguh bahwa antara wawasan ke-Islaman dan ke-Indonesiaan tak bisa dibenturkan.

Ia saling bersenyawa dan membentuk sebuah entitas yang utuh dan padu antara representasi keumatan dan kebangsaan dalam wadah negara Republik Indonesia.

Hasil persenyawaan itulah yang disebut sebagai sintesa antara anasir umat dan bangsa. Oleh karena itu, dalam wawasan ke-HMI-an, ke-Indonesiaan dan ke-Islaman diletakkan secara seimbang dan saling bersinergis dalam membangun Indonesia merdeka dan berperadaban.

Sebagai dampak atas diterapkanya asas tunggal dibawah rezim orde baru, akhirnya HMI terpecah menjadi DIPO dan MPO. Perpecahan ini disinyalir oleh perbedaan persepsi dalam menerapkan asas tunggal yang termaktub dalam konstitusi HMI.

Akibat dari perpecahan ini kemudian DIPO dan MPO berjalan diatas rel perjuangan yang berbeda. Menyadari pentingnya semangat perjuangan ini disatukan, ketimbang berdiri di atas rel yang berbeda. Maka agenda rekonsiliasi dianggap penting dalam mengatasi kebuntuan yang selama ini menyandera kesatuan organisasi HMI.

Rekonsiliasi HMI DIPO dan MPO

Berangkat dari semangat pendirian HMI, semestinya polemik struktural di internal organisasi ini dapat diselesaikan dengan menegaskan visi HMI sebagai instrumen perjuangan bangsa. Konflik yang melanda organisasi ini telah berlangsung sejak tahun 1985-2018.

Upaya untuk menyatukan kembali organisasi ini selalu mengalami kemandegan, bahkan sebelum berlangsungnya kongres HMI di Ambon, ada beberapa alumni dan Pengurus Besar khusunya Ketua Umum DIPO (Diponegoro) dan MPO (Majelis Penyelamat Organisasi) menginisiasi simposium kebangsaan di Yogyakarta yang bertujuan agar HMI dapat menyatu dalam satu badan.

Menyadari pentingnya upaya pemufakatan tersebut, beberapa langkah riil perlu dirumuskan. Pertama, menyatukan frame berpikir di tataran elite HMI dan para alumninya. Sejauh ini upaya mempertemukan pandangan di level elit ini terasa agak sulit, disebabkan banyaknya benturan pandangan di antara mereka.

Isu terkait penyatuan simpul ini telah lama bergema, bahkan sempat terkawal dengan cukup intens dalam beberapa waktu. Namun, lagi-lagi nawaitu itu mengalami kebuntuan di tengah komitmen perealisasiannya. Upaya serius ini akan terwujud, tatkala masing-masing kelompok dari kedua kubu (DIPO-MPO) bersedia dan terbuka untuk melebur kembali dalam satu wadah yang sama.

Kedua, dengan menyadari tidak mudahnya menyatukan friksi pandangan dari masing-masing kubu, maka satu-satunya harapan adalah semoga kedua pihak terbuka hati dan bersedia menepis keperbedaan kepentingan dalam mewujudkan HMI yang satu dan solid ke depan.

Aktor-aktor kunci di masing-masing kubu perlu mengambil langkah konkret dan solutif dalam rangka memobilisasi dukungan, baik di level elit maupun di tingkatan basis. Langkah terakhir ini penting, mengingat upaya peleburan ini tidak bisa ditempuh hanya pada satu sisi.

Dimensi struktural maupun kultural diharapkan bersinergis dalam proses ishlah ini, mengingat kedua wilayah memiliki kerangka penyelesaiannya yang berbeda. Akhirnya, kesediaan yang tulus didukung oleh langkah praktis dari kedua kubu sangat diharapkan.

PB HMI Periode 2018-2020 berkomitmen untuk merealisasikan itikad baik ini, sebagai bentuk konsistensi terhadap semangat kejuangan HMI di masa mendatang. Keyakinan ini didasari oleh kesadaran sosial sebagai kader umat dan bangsa untuk selalu menjaga marwah dan keutuhan organisasi tercinta.

Dengan demikian ikhtiar yang panjang ini semoga mendapatkan dukungan dan ridho dari Allah SWT demi mengukuhkan cita-cita HMI dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur.

R. Saddam Al Jihad

Ketua PB HMI periode 2018-2020

1 comment

Tentang Penulis

R. Saddam Al Jihad

Ketua PB HMI periode 2018-2020

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.