Locita

Saatnya Beralih dari “Made in China”. Kini eranya “Made in Bangladesh”

• Melonjaknya upah di Cina mengakibatkan banyak perusahaan Cina memindahkan pabriknya ke Bangladesh. kondisi ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi bangladesh dan diharapkan mencapai 8% pada tahun ini.
• Sementara itu terdapat reaksi bertentangan terhadap investasi dan pekerja asal Tiongkok di Filipina dan Indonesia, sedangkan Dhaka menyambut lebih ramah

Ketika pengusaha Tiongkok, Leo Zhuang Lifeng tiba di Dhaka 22 tahun yang lalu, hanya salah satu dari dua sabuk konveyor bagasi di Bandar udara yang berfungsi. Pencahayaannya pun tidak berfungsi dengan baik.

Bandara kumuh yang berada di Ibu kota Bangladesh telah memperlihatkan kepada banyak pengusaha Cina dan asing tentang apa yang terjadi di negara tersebut, dimana perekonomian yang masih tertinggal pada saat itu, dengan pemadaman listrik yang sering terjadi dan infrastruktur yang belum memadai.

Zhuang(51) mendarat di Dhaka Ibu kota Bangladesh pada tahun 1997 untuk mendirikan perusahaan pakaian, yang memanfaatkan upah tenaga kerja yang rendah dan ketersediaan pekerja yang berlimpah di sana. “Saat itu, sangat susah untuk mendapatkan komoditas harian. Bahkan untuk membeli mie instan pun sulit.” kata Zhuang, Direktur Manajer dari LDC Group, yang sekarang mempekerjakan 20.000 pekerja di negaranya.

“Namun Bangladesh telah melalui perubahan luar biasa selama bertahun-tahun, meskipun tentu saja kita tidak dapat membandingkan perubahan tersebut dengan apa yang telah dialami oleh Cina.” ujar Zhuang

Kompleks pabriknya yang cukup besar hingga menyerupai satu desa tersendiri. Di sana terdapat pusat kesehatan yang menyediakan konsultasi gratis untuk pegawai dan anggota keluarganya, bahkan terdapat tempat penitipan untuk anak-anak.

Kompleks pabriknya kini ada dimana-mana di Bangladesh, sebagaimana warga China dan pengusaha asing lainnya terus berdatangan di negeri tersebut. Investasi tersebut telah mengubah sebuah negara menjadi “Manufacturing Powerhouse” dengan 3,5 juta buruh yang membuat pakaian untuk merek lokal dan internasional seperti Uniqlo dan “H&M”.

Merek mewah seperti Michael Kors juga memiliki beberapa produk yang dibuat di Bangladesh.” Berkaitan dengan upah yang melambung tinggi di Cina, akan lebih banyak pakaian yang membawa label “Made in Bangladesh” daripada “Made in China” di tahun-tahun yang akan datang.

Zhuang, yang kini menjabat sebagai Presiden Asosiasi Cina Luar Negeri di Bangladesh, memperkirakan hanya 20 hingga 30 Perusahaan Cina di Bangladesh 22 tahun yang lalu. Menurut perkiraannya, angka ini terus tumbuh hingga sekitar 400 perusahaan yang berada di negara yang relatif muda di Asia Selatan tersebut, yang memperoleh kemerdekaan dari Pakistan pada tahun 1971.

Pinjaman dari Cina telah mendorong pertumbuhan ekonomi Bangladesh. Selama sekitar satu dekade, perekonomian Bangladesh tumbuh dengan rata-rata 6% per tahun, tetapi diduga akan mencapai 8,13% tahun ini, yang menjadikannya salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia.

Kemampuan Bangladesh untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang begitu cepat dan stabil selama bartahun-tahun cukup mengejutkan beberapa pihak. Bagaimanapun, dalam berbagai wawancara, Menteri luar Negeri Bangladesh Mohammad Shariar Alam serta Menteri Penerangan Dr Hasan Mahmud mengatakan bahwa pemerintah mampu membayar hutang tersebut karena perekonomian yang kuat.

Menteri penerangan juga menegaskan bahwa Dhaka tidak ingin bergantung pada negara manapun, dan pemerintah Bangladesh ingin membangun hubungan dengan negara manapun yang memberikan dukungannya untuk pembangunan Bangladesh.

“Kami memiliki hubungan ekonomi yang luar biasa dengan India” katanya, yaitu merujuk pada pinjaman milliaran dollar yang diberikan India kepada Bangladesh.

“Pertanyaan Anda apakah kami dapat membayar kembali pinjaman (Cina)? Jangan khawatirkan Bangladesh.”

Beberapa analis mengatakan bahwa Dhaka telah menghindari “Jebakan Hutang” dari Cina karena ketika hubungannya yang baik dengan Cina. Dhaka terus mencari mitra ekonomi dengan negara-negara lain, khususnya India.

DARI CINA KE BANGLADESH

Meskipun pertumbuhan ekonominya cepat, Dhaka tetap berbeda dengan ibu kota Asia lainnya seperti Jakarta, Manila dan Phnom Penh. Infrastrukturnya, termasuk jalan raya yang masih masih buruk; Bahkan selama jam sibuk, terdapat banyak kemacetan lalu lintas yang bisa memakan tiga jam frustasi untuk jarak tempuh 50 km.

Namun ketersediaan lahan yang cukup luas untuk pengembangan di Bangladesh adalah alasan yang menarik banyak investor. Termasuk pengusaha berwarganegara Hong Kong bernama Felix Chang Yoe-Chong, Pimpinan Evergreen Product Group, yang merupakan salah satu produsen wig terbesar di dunia.

Sejak memindahkan pabriknya dari daratan Cina ke Bangladesh, kini ia memiliki 18.000 pekerja yang dapat memproduksi 300.000 hingga 400.000 wig dalam sebulan di Kawasan Ekspor Uttara, yang jarak tempuhnya satu jam penerbangan dari Dhaka.

Sekitar 20 perusahaan, 6 diantaranya dari Hong Kong, telah membangun pabrik di lahan kawasan seluas 213 hektar. Terdapat delapan kawasan di seluruh Bangladesh, yang memungkinkan perusahaan untuk mengimpor bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat produk mereka dengan tarif pajak yang dikurangi bahkan hingga tidak kena pajak. Kebijakan konsesi pajak ini berlaku pula untuk kegiatan ekspor mereka.

Seperti banyaknya pengusaha dari Hongkong dan dataran Cina yang mendirikan pabrik di Bangladesh, Chang (53) melakukan hal yang sama 10 tahun yang lalu, dikarenakan upah tenaga kerja yang meningkat pesat di China. “Saya harus memindahkan pabrik saya di suatu tempat di Asia. Bukan hanya tentang upah, tunjangan kesejahteraan sosial yang harus diberikan pada pekerja juga terus meningkat di China.”ujarnya.

Satu dekade yang lalu, perusahaan Chang memiliki pabrik di kota Shenzen, Ghuangzou dan Kunming, serta di Provinsi Henan. Ia menutup pabrik di Ghuangzhou kemudian pabrik-pabriknya yang lain di Cina. Kini, 93% dari produksi perusahaan wignya berada di Bangladesh. Sebelum Chang memindahkan pabriknya kesana, ia mengupah pekerjanya sekitar 2.000 yuan (289 USD) per bulan. Beberapa saat setelah relokasi, ia hanya memberi upah minimal kepada pekerja lokal senilai 170 yuan, atau setara 25 USD.

Upah minimum di Bangladesh saat ini yaitu 95 USD per bulan, notabene masih terendah dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya. Di Kamboja sebesar 182 USD per bulan, 180 USD per bulan di Hanoi dan Ho Chi Minh, meskipun lebih rendah di kota-kota Vietnam lainnya; dan 3,6 USD per hari di Myanmar.

Upah yang rendah membuat sektor garmen dapat menghasilkan 30 milliar USD yang dimana industri tersebut berkontribusi sebesar 80% dari ekspor Bangladesh. Pekerja di negara Asia selatan kurang senang dengan penghasilan mereka. Pada bulan Januari yang lalu, ribuan massa turun ke jalan untuk menuntut kenaikan Upah Minimum. Lusinan orang terluka dalam bentrokan dengan polisi dan bahkan satu orang meninggal.

Zhuang dari LDC Group – yang memiliki pabrik di kota Gazipur, yang terletak sekitar 2 jam jalur darat dari Dhaka – mengatakan bahwa masalah untuk mendirikan pabrik di Kamboja adalah adanya persatuan yang kuat di negara tersebut dan populasi kecil yang hanya berjumlah 16 juta jiwa.

Sebagai perbandingan, Bangladesh memiliki populasi sebanyak 160 juta jiwa. Ia pun mengatakan bahwa kurang menyukai Vietnam karena biaya produksi dan upah yang meningkat cepat. “Korupsi di Kamboja adalah hal yang biasa. Populasinya kecil dan persatuan mereka kuat,’ ujar Zhuang

Meskipun adanya peningkatan jumlah yang besar dari perusahaan Cina semenjak kedatangan Zhuang di Bangladesh 22 tahun yang lalu, keberadaan mereka masih relatif sedikit dibandingkan dengan negara lainnya seperti Filipina dan Indonesia, yang pekerja dan pengusaha Cina sangat mudah ditemukan di Ibu kota.

Yang dimana masuknya China menyebabkan kegelisahan dan amarah di negara-negara tersebut, sentimen tersebut tidak -setidaknya belum muncul di Bangladesh

INFRASTRUKTUR TIDAK MEMADAI

Saat itu penghujan Musim panas ketika Chang dari Evergreen Products pertama kali tiba di Bangladesh satu dekade yang lalu.“Terdapat hujan lebat yang membuat Dhaka banjir. Air yang sangat tinggi membuat ban kendaraanku sepenuhnya terendam banjir.” Kenangnya

“Listrik disana sangat buruk. Selalu terjadi pemadaman listrik di kantorku yang berada di Dhaka setiap kali saya datang. Hal tersebut berlangsung setiap sejam sekali. Tetapi hampir tidak ada pemadaman yang terjadi selama beberapa tahun terakhir. Jalanan kini sedang diperlebar, Jalan raya dan jalan layang juga sedang dibangun.”

Selama tahun-tahun pertama Chang di negara tersebut, tidak ada penerbangan dari Dhaka ke daerah lokasi pabriknya berada. Meskipun terdapat bandara, tetapi tidak dibuka karena hampir tidak ada orang yang menggunakannya. Hal tersebut berarti setiap dia perlu pergi ke pabriknya, dia harus menempuh perjalanan darat selama 9 hingga 12 jam, tergantung kondisi lalu lintas.

Salah satu pertanda banyaknya perubahan yang telah terjadi, kini sudah terdapat beberapa penerbangan ke pabriknya di Kawasan Uttara setiap harinya.

Masalah utama yang dihadapi investor yaitu diperlukan waktu yang lama untuk mengirimkan barang mereka kepada klien yang berada di luar negeri. Di pelabuhan Chittagong, yang merupakan pelabuhan utama di Bangladesh Tenggara, menangani sekitar 2,56 juta unit kontainer senilai 20 Foot equivalent Units (TEUs) di 2017, melebihi kapasitas tahunan yang dirancang hanya sebesar 1.7 juta TEUs per tahun.

Pelabuhan masih belum bisa menangani kapal kontainer besar karena ukurannya yang sempit. Ini artinya Pengiriman bahan dari daratan Cina atau Hongkong ke Bangladesh membutuhkan empat hingga lima minggu,” kata Chang. “Salah seorang teman saya yang memiliki pabrik tas jinjing membuka pabrik di Kamboja 2 hingga 3 tahun yang lalu.

Ia memiliki 4.000 pekerja di pabriknya di Bangladesh. Ia mengatakan kepadaku bahwa hanya membutuhkan 10 hari untuk mendapatkan bahan yang dikirimkan dari Cina ke Kamboja. Sangat cepat.” Kata Chang. “Keuntungan untuk berbisnis di Bangladesh adalah upahnya yang rendah. Sedangkan kerugiannya yaitu pengiriman yang memakan waktu yang lama. Namun bagi saya, solusinya adalah untuk mnyimpan lebih banyak bahan wig di pabrik.”

Warga negara Hongkong David Lam Ming-heung, sebagai manajer umum sebuah produsen kacamata di kawasan ekspor yang sama, memahami permasalahan logistik tersebut dengan amat baik.

“Biasanya membutuhkan sebulan untuk mendapatkan bahan yang dikirimkan dari daratan Cina ke Bangladesh,” ia berkata, menambahkan bahwa hal tersebut dapat memakan lebih satu minggu lagi jika tidak ada dermaga yang tersedia.

“Bangladesh sekarang seperti Cina ketika pertama kali membuka diri (di tahun 1970-an),” kata Lam (53), yang mengawasi 3.700 pekerja di pabriknya. “Bangladesh menggunakan cara Cina untuk menumbuhkan perekonomiannya”

TEMAN BAGI SEMUA

Dukungan Beijing terhadap Bangladesh dibuktikan dalam 27 perjanjian untuk investasi dan pinjaman yang ditandatangani oleh kedua negara – dilaporkan sebesar 24 juta USD – ketika Presiden Xi Jinping berkunjung pada tahun 2016.

Nilai bersih Investasi asing dari Cina ke Bangladesh melonjak setelah kunjungan Xi Jinping. Hal tersebut mencapai 506 juta USD pada tahun keuangan 2017/2018,menurut koran Bangladesh The Finansial Express, sebuah peningkatan yang signifikan dari 68,5 juta USD di tahun 2016/2017.

Chen Wei, Wakil kepala misi di kedutaan besar Tiongkok di Dhaka, menolak untuk menyatakan berapa proporsi pinjaman pada perjanjian yang ditandatangani pada 2016. Namun ia menekankan bahwa kekhawatiran tentang Cina menciptakan “jebakan hutang” untuk Bangladesh adalah “murni kesalahpahaman” dan “noda” yang “tidak berdasar sama sekali”.

Professor Brahma Chellaney, dari New Delhi Centre of Policy Research, memperkirakan bahwa Utang Publik jangka menengah hingga jangka panjang setara dengan 14% dari Produk Domestik Bruto “Tingkat hutang ini masih sedang. [Bangladesh] ingin memastikan bahwa tingkat hutang tetap terkendali.

Jadi ia ingin mengimplementasikan proyek yang dibiayai oleh Cina dengan pendekatan yang lebih bijaksana,”katanya, menambahkan bahwa kesepakatan kontroversial Sri Lanka dalam Operasi Pelabuhan Hambantota ke Cina selama 99 tahun dijadikan sebagai “panggilan bangun kepada Bangladesh untuk menghindari teperangkap dalam jebakan hutang Cina.”

Chellaney menambahkan bahwa Bangladesh tidak hanya mengandalkan bantuan dari Cina, tapi juga dari India, Jepang dan Korea Selatan untuk menggerakkan roda ekonominya. “Meskipun China melebarkan jejak di Bangladesh, bantuan dan investasi India dan Jepang tetap penting. Bangladesh ingin mempertahankan pertumbuhan ekonominya dengan cara bekerja sama dengan semua kekuatan, tanpa memilih satu diatas yang lainnya,” katanya.

Professor David Lewis, penulis Bangladesh:Politics, economy and Civil Society, mengatakan bahwa perekonomian negara kuat dikarenakan strategi ekspor yang efektif. “Perekonomian telah tumbuh pesat di balik ekspor ini, terutama sektor pakaian jadi, yang mana menjadi pusat dari pertumbuhan negara”.

Kata beliau dari London School of Economics and Political Science. “Selain dari usaha perseorangan yang meningkat, remitansi internasional juga berperan penting dari kebijakan migrasi yang terkelola dengan baik. Juga penting untuk ditekankan bahwa Bangladesh teruntungkan secara tidak langsung dari kesuksesan ekonomi India.”

Bangladesh, sebagai eksportir pakaian terbesar kedua setelah Cina, diperkirakan untuk mengekspor pakaian senilai 39 juta USD pada tahun ini. Pemerintah menargetkan untuk mencapai 50 juta USD pada tahun 2021.

Alam, Menteri Kebijakan Luar Negeri, mengatakan bahwa pemerintah telah mempertimbangkan model finansial lain selain sekadar meminjam dari negara lain. Ia mengatakan bahwa telah terdapat pertimbangan kemitraan dengan pemerintah swasta yang mana, salah satu contohnya, sebuah perusahaan asing membangun pembangkit listrik di dalam negara, menjual listrik yang diproduksi untuk menutup biaya yang dikeluarkan, dan kemudian mengembalikan kepemilikian pembangkit tersebut ke pemerintah setelah beberapa tahun.

Tahun lalu, Bangladesh telah memenuhi persyaratan PBB untuk lulus dari predikat “negara kurang berkembang” menjadi “negara berkembang”.

Mehdi Hasan, Konsulat Jendral Bangladesh untuk Hong Kong, mengatakan Cina akan menjadi salah satu daya utama untuk membantu Bangladesh mencapai tujuannya menjadi negara berkembang pada tahun 2041.”Daya tariknya adalah upah buruh, dimana yang terendah adalah di Bangladesh. Upah buruh kian meningkat bahkan di Vietnam… terdapat 160 juta jiwa di Bangladesh, 57% diantaranya berusia di bawah 25 tahun. Populasi yang tergolong muda.”

RUMAH YANG JAUH DARI RUMAH

Sekitar 2.300km dari rumahnya di provinsi Hunan, Thomas Zou Haibo adalah bayangan dari dirinya yang lampau. Sejak menjadi asisten manajer dari pabrik tas jinjing ini mulai bekerja di kawasan Uttara tujuh tahun yang lalu, bobot badannya menurun drastis dari 90kg menjadi 70kg.

“Saya adalah satu dari tujuh orang yang dikirim oleh perusahaan saya tujuh tahun lalu. Ketika saya pertama tiba, yang tersedia hanya internet 2G dan tidak ada satupun saluran televisi berbahasa Cina. Tidak ada hiburan sama sekali. Yang ada hanya bekerja setiap hari.” Kata Zou, 33 tahun.

Ratusan pekerja Cina dalam perusahaan di kawasan ekspor sangat akrab satu sama lain. Banyak dari mereka tinggal bersama di bangunan yang sama, berbagi makanan dan berkaraoke di apartemen mereka di akhir pekan. Ini adalah pengalaman terdekat yang menyerupai dengan Chinatown di dalam kawasan.

“Setelah sekian tahun bekerja disini, saya telah menumbuhkan rasa kekeluargaan dengan orang-orang disini,” kata Zou. “Namun saya juga merindukan rumah. Karena itu saya pulang ke rumah dua tiga tahun sekali.”

David Zhao Zhiwen, manajer pabrik mainan di dalam kawasan tersebut menguatarakan merindukan kedua anaknya. Ia mengawasi 4.200 pekerja yang menghasilkan 12 juta model mainan setiap tahun. Harinya bermula jam 7 pagi dan berakhir 12 jam kemudian; ia mengawasi setiap prosedur, mulai dari pelelehan logam hingga pencetakan mainan.

Ketika Zhao, kini 39 tahun, datang ke Bangladesh tujuh tahun lalu untuk membangun pabrik di kawasan Uttara, area tersebut dulunya adalah pedesaan sepi dengan mayoritas perumahan bambu di kedua sisi jalanan. Keberadaan kawasan sejak itu telah memberi perubahan total, dengan sekitar 30 ribu pekerja menetap disana.

“Saya datang untuk mencari uang dan meningkatkan kualitas hidup keluarga saya. Saya pulang [ke Hunan] tiga kali setahun dan setiap kali pulang menetap selama 10 hari. Sepadan dengan kedatangan saya untuk bekerja,” kata Zhao, yang keluarganya tidak tinggal bersamanya di Bangladesh.

Terdapat sekitar 100 pekerja Cina di pabrik Zhao, sebagian besar manajer dan teknisi. “Kami membutuhkan orang Cina disini untuk mengajar dan meneruskan teknik kami kepada pekerja Bangladesh,” ia berkata.

Bertolak belakang dengan reaksi yang meledak di Filipina dan Indonesia, Warga Bangladesh dan politisinya sangat mendukung investor dan pekerja dari Cina. Muhammad Shafiqur Rahman, anggota parlemen Bangladesh, adalah salah satunya. “Kami menyambut semua orang dari setiap negara di dunia… Warga Cina telah berada di sepenjuru negara ini. Jika Anda mendatangi pasar-pasar dan pusat perbelanjaan, terdapat banyak barang yang diproduksi di Cina. Investasi Cina sangat membantu negara ini.”

Farhan Haq, dosen hukum pada Central Women’s University di Dhaka, mengatakan: “Infrastruktur sedang dibangun di negara ini. Banyak warga Cina disini, investor dan pekerja. Mereka telah menciptakan banyak peluang pekerjaan untuk warga lokal. Kami tidak khawatir. Kami senang. Mereka membantu perekonomian.”

===========

Opini ini ditulis oleh Philu Shiu di South China Morning Post 

ophini

ophini

Mahasiswa Kedokteran Hewan di IPB University

50 comments

Tentang Penulis

ophini

ophini

Mahasiswa Kedokteran Hewan di IPB University

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.