Locita

Saat Jokowi Membedakan Mudik dan Pulang Kampung

Ilustrasi (Foto: Pikiran Rakyat)

Jokowi seorang pebisnis politisi yang berpengalaman. Penuh pertimbangan dalam bertindak apatah lagi dalam berkata-kata.

Kepada Jokowi, Najwa –yang cantik, cerdas, dan berbahaya itu—berkata, “…Sudah hampir satu juta orang curi start mudik. Faktanya sudah terjadi penyebaran orang di daerah bapak.”

Dan dengan meyakinkan dan tanpa aling-aling, kita tahu jawaban Pak Presiden.

“Itu namanya pulang kampung (bukan mudik).”

Dan kita juga tahu Jokowi mengatakannya dengan jelas dan tanpa berpikir panjang seperti biasanya. Padahal biasanya Ia sangat berhati-hati dalam berkomentar. Tak jarang biasanya ada jeda beberapa detik sampai lawan bicara gemes, barulah ia berkomentar. Ia pun biasanya irit kata-kata jika memang tidak mengetahui atau ragu-ragu atau malah menyuruh menterinya menjawab.

Jokowi seorang pebisnis politisi yang berpengalaman. Penuh pertimbangan dalam bertindak apatah lagi dalam berkata-kata. Politisi sekelas dan seberpengalaman Prabowo saja keok di depannya. Kini Prabowo malah menjadi pembantunya menterinya. Adapun pendukung maniak Prabowo tetap istiqamah dengan nyinyirannya.

Maka jika Jokowi mengatakannya dengan tampak cukup percaya diri, kuat dugaan ia telah mempersiapkan jawabannya dengan matang. Sudah seharusnya, ia juga sudah tahu perbedaan mudik dan pulang kampung.

Lagi pula bagi saya, yang sejak dulu memperhatikan gaya berbahasa Jokowi dan dari itu saya mendapat inspirasi menulis –dan mendapat honor tentu saja–, pernyataan itu adalah peningkatan dan bukanlah suatu hal yang mengherankan sama sekali.

Dari dulu Jokowi memang telah menjadi bulan-bulanan karena caranya berbahasa. Berbahasa Indonesia ia dibuli, berbahasa Inggris apalagi. Bahkan potongan videonya sengaja dibanding-bandingkan dengan Soekarno atau SBY yang memang keinggris-inggrisan itu.

Ketika Jokowi menyampaikan sambutan suatu waktu, alih-alih bilang [al-fatihah] ia menyebutnya dengan [al-fatikha] dengan konsonan [kha] yang jelas. Pengucapan bahasa Inggris Jokowi tidak perlu ditanyakan lagi. Maksud saya, tidak perlu ditanyakan lagi ketidakinggris-inggrisannya. Yang dalam persepsi netijen tentu pengucapannya sangat buruk. Dalam perspektif kajian bahasa tentu lain lagi. Namun, kita kembali ke hukum umum: netijen selalu benar.

Sehingga jika sebelumnya Jokowi hanya sering dianggap salah dalam pengucapan fonem, lalu menjadi kekurangtepatan dalam pengucapan kata-kata, dan akhirnya kini dianggap keliru dalam membedakan frasa. Sekelas Ivan Lanin saja belum tentu mampu melakukannya. Ini kan namanya peningkatan. Peningkatan dalam kesalahan.

Saya menduga kemampuan Jokowi untuk membedakan mudik dan pulang kampung bukan tanpa alasan. Ia bahkan sedang mengamalkan prinsip linguistik yaitu jika kedua kosa kata atau istilah dibentuk untuk makna yang sama, lah untuk apa? Ini kan namanya pemborosan anggaran. Kalau pulang kampung ya sama saja dengan mudik kenapa tidak fokus ke salah satunya saja. Lagi pula kedua frase itu sama-sama bahasa Indonesia juga. Kalau keduanya sama saja justru bisa menimbulkan perdebatan, ya seperti sekarang. Barangkali demikian pertimbangan visioner seorang Jokowi.

Oleh karena itu, Jokowi merasa perlu membuat batasan apa yang dimaksud dengan mudik dan pulang kampung. Maka baginya barangkali pulang kampung adalah mereka yang balik ke kampung jauh sebelum lebaran atau bahkan sebelum puasa. Sementara itu, baginya mudik adalah mereka yang balik ke kampung menjelang lebaran.

Dengan batasan tersebut, larangan mudik tidak perlu dibuat terburu-buru sebelum bulan Ramadan. Sebab kalau sebelum Ramadan apalagi sebelum lebaran, larangannya disebut larangan pulang kampung.

Apalagi pemerintah kita memang tidak suka buru-buru. Tidak buru-buru bertindak ketika wabah Corona sudah muncul di Wuhan. Tidak buru-buru memperketat dan bahkan menutup bandara seperti pemerintah Selandia Baru ketika beberapa sudah menjadi korban meninggal Corona, yang ada malah pemerintah mengundang influencer untuk mempromosikan pariwisata.

Pemerintah tidak buru-buru membatasi akses lintas daerah demi mencegah penyebaran. Pemerintah tidak buru-buru mengadakan alat pelindung diri (APD) sampai puluhan dokter dan perawat telah meninggal dunia. Pemerintah tidak buru-buru mengambil tindakan cepat dan tepat untuk buru-buru menyetop atau meminimalisir korban meninggal Corona. Dan tentu tidak terburu-buru menyalahkan diri sendiri ketika masyarakat menjadi gamang dan gemes melihat sikap pemerintah.

Kembali soal mudik dan pulang kampung (karena sampai sini esai ini baru 598 kata, belum cukup syarat minimal 600 esai Locita), Jokowi merasa berhak untuk melekatkan perbedaan definisi. Pengartian yang berbeda dari apa yang telah dipahami publik secara luas. Lah kan apa yang dipahami masyarakat belum tentu benar. Contoh kata radikal kan yang artinya menurut KBBI adalah secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip), publik malah selalu memahaminya teroris atau kelompok keagamaan tertentu yang biasa melakukan bom bunuh diri.

Begitulah barangkali analogi Jokowi. Apa yang dipahami oleh masyarakat atau orang banyak secara umum tidak serta menjadi benar. Begitu pun dengan kata mudik dan pulang kampung. Alih-alih mengabaikan KBBI, kita malah diajak untuk menggugat KBBI. Akhirnya mereka yang sebelumnya jarang membuka kamus akhirnya membuka kamus, tujuannya tentu selain memastikan, juga untuk membuli. Kapan lagi bisa meledek presiden ya kan.

Kalau sekelas Ajudan Pribadi saja bisa melakukan pengacauan bahasa apalagi seorang presiden.

Nah karena esai ini sudah 739 kata dan saya tidak tahu lagi harus menulis apa untuk membela Jokowi maka cukup sampai di sini saja.

Apalagi kita sudah memasuki bulan puasa, lebih baik saya berkemas untuk pulang kampung eh mudik ding.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.