Locita

Realitas dan Mental Kita di Layar Televisi

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

Dalam sebuah esainya tentang sirkus televisi, Jean Baudrillard mengatakan dengan tegas bahwa: “Yang memalukan, di zaman kita, bukanlah serangan terhadap nilai-nilai moral, melainkan terhadap prinsip realitas” Tentu saja, hari ini dan beberapa tahun ke depan, saya percaya pada apa yang disampaikan Baudrillard patut kita perhatikan dengan saksama. Serangan media telah menjelma perangkap atas realitas yang kita miliki. Sebagian besar yang ditawarkan televisi hari ini penuh dengan berbagai konten yang mampu merusak cara berpikir kita.

Salah seorang penyair Makassar, Aslan Abidin dalam sebuah kesempatan bercerita kepada saya, perihal apa yang dilakukan untuk menyelamatkan nalar keluarganya di rumah. “Saya tidak menyimpan televisi di rumah. Televisi itu sampah!” setelah mengatakan itu, Aslan lalu tertawa kecil sambil bertanya tentang pendapat saya mengenai hal tersebut. Mari kita melihat kondisi televisi hari ini. Apa yang sebenarnya terjadi atau yang mungkin akan terjadi dalam beberapa tahun ke depan?

Jonah Berger dalam bukunya yang berjudul Contagious menjelaskan beberapa hal penting tentang psikologis seseorang terhadap sesuatu yang menyebar dan itu seringkali digunakan media televisi. Saya kemudian melihat beberapa alasan mengapa televisi terus menerus melakukan hal yang sama. Buku Berger secara umum bercerita tentang hal psikologis yang dapat membuat sesuatu itu terus menyebar dan berkembang hingga diterima oleh pikiran banyak orang. Dijelaskanlah salah satu hal yang dapat dengan mudah tersebar, yaitu emosi.

Sesuatu yang mengandung emosi, baik itu bahagia maupun sedih memiliki ruang kemungkinan yang lebih besar untuk tersebar. Untuk membuktikan pernyataan ini, anda bisa mencoba melihat sebuah channel youtube tentang seleksi kontes penyanyi cilik. Dan perhatikanlah beberapa video yang memiliki pengujung atau jumlah penayangan yang lebih banyak. Kemungkinan besar, video itu mengandung unsur emosi positif atau negatif, sedih atau bahagia.

Maka bukan hal yang mengherankan bila sebuah stasiun televisi, menggunakan strategi yang serupa. Seseorang dibiarkan menangis setelah diminta menjawab pertanyaan yang terarah. Atau sejumlah reality show yang dikonsep dengan memunculkan sisi yang lebih emosional pada para penonton. Bahkan, pada taraf yang lebih ganjil, kita bisa melihat usaha tersebut pada film religi yang dikemas dengan paduan yang benar-benar merusak realitas namun mencoba memunculkan emosi yang menyentuh sebagian orang. Semua ini bisa menjadi jalan untuk membawa realitas kita terperangkap.

Disadari atau tidak, konten seperti itu akhirnya membuat kita jauh dari realitas sosial yang sebenarnya terjadi. Kita kehilangan kesempatan untuk berpikir atau melakukan refleksi terhadap apa yang telah ditayangkan. Sikap kritis kita terhadap sesuatu pada akhirnya tumpul atau bisa jadi menghilang. Mario Vargas Llosa, seorang penerima Nobel Sastra di tahun 2010 pernah menulis esai yang berjudul “La civilización del espectáculo.” Senada dengan Baudrillard, Mario Vargas Llosa pun menjelaskan tentang realitas yang ditawarkan televisi yang mengganggu proses berpikir kritis kita.

Celakanya dari masalah tersebut, hal itu akan merambat pada kebudayaan yang kita miliki. Misalnya saja buku sastra yang sebagian muncul menjadi buku-buku best seller adalah bacaan yang ringan, enteng, dan hanya bertujuan untuk menghibur semata. Begitu pun dalam siaran televisi, informasi diubah menjadi hiburan. Mario Vargas menjelaskan bila cara terbaik untuk menghibur dan menyenangkan orang awam adalah dengan mengumpani nafsu-nafsu terdasarnya. Sesuatu yang menjadi gaya jurnalisme hari ini, adalah dengan membongkar kehidupan pribadi orang lain, terutama apabila mereka tokoh ternama atau prestius.

Program infotainment pada akhirnya menjadi siaran yang terus menerus diproduksi tiada henti. Meskipun sebenarnya dalam survei indeks kualitas program Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menempatkan infotainment pada nilai indeks paling rendah. Di survei tahun 2016, indeks tertinggi yang dicapai program infotainment hanya 2,79. Pada survei 2017 tahap pertama hanya mencapai 2,36 dengan penilaian terendah pada aspek penghormatan kehidupan pribadi dan penghormatan terhadap nilai dan norma kesopanan dan kesusilan.

Kembali pada prinsip realitas yang ada, televisi telah menjadi ancaman bagi kita yang tetap terbawa dengan berbagai siaran yang ditawarkan. Mengharapkan terbentuknya budaya kritis melalui televisi, barangkali adalah sebuah utopia. Pasalnya, selama televisi terus melakukan pola yang serupa, apa yang dikatakan Albert Bandura pun dapat terjadi. Social Learning Theory dari Bandura, bahwa manusia sering kali akan belajar dari mengamati tingkah laku dengan mengamati tingkah laku orang lain. Televisi menjadi lingkungan lain yang mampu membangun konsep mental baru bagi para penonton. Keremeh-temehan yang ada pada akhirnya akan membawa kita pada cara berpikir yang sama. Ilmuwan dari Universitas California dan San Francisco melakukan penelitian terkait kesehatan mental dan televisi. Penelitian yang diterbitkan dengan judul Effect of Early Adult Patterns of Physical Activity and Television Viewing on Midlife Cognitive Function menjelaskan bahwa semakin sering seseorang menonton televisi, semakin buruk mereka dalam serangkaian tes kecerdasan. Studi ini menggunakan 3.247 partisipan berusia 18 dan 30 tahun.

Mungkin saja pernyataan Aslan Abidin tentang televisi terbentuk. Tapi, itu hanya untuk beberapa orang yang mampu melihat dengan kritis, tentu saja sisi ini dapat dengan mudah diamati. Hanya saja, dapat dipastikan bahwa jumlah penonton yang terbawa arus atau melihat siaran tanpa ada proses kritis jauh lebih banyak. Mulai dari anak-anak hingga lansia, televisi menjadi hiburan yang mampu membius kesadaran kita serta memengaruhi mental pada diri kita.

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

Add comment

Tentang Penulis

Wawan Kurniawan

Alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.