Locita

Rasis di Amerika Serikat, di Indonesia?

Kota Minneapolis, Minnesota, Amerika Serikat bergejolak. Kerusuhan tidak terelakkan dan hal yang sama menjalar ke kota lain. Pemicunya bukan hal yang baru. Sudah sering terjadi dan hal itulah yang membuatnya harus terus dibincangkan. Sebab hal yang sama bisa terjadi di mana, kapan, dan kepada siapa saja.

George Floyd seorang warga biasa Amerika Serikat di Minneapolis yang dilaporkan karena dugaan pemalsuan cek. Cek sebesar 20 dolar. Bukan jumlah yang besar. Hanya sekitar 300 ribu rupiah. Dan Derek Chauvin menangkapnya. Tidak cukup sampai di situ. Lehernya ditekan. Videonya menyebar. Dan siapa pun bisa tahu perlakuan amatlah berlebihan. Dugaan pemalsuan cek hanya sebesar 20 dolar lalu ditindaklanjuti dengan penangkapan berujung kematian.

Soalnya memang bukan 20 dolar itu. Tetapi karena Floyd adalah seorang berkulit hitam dan Derek Chauvin berkulit putih. Dan satu lagi dan ini tak kalah pentingnya, Chauvin adalah seorang polisi. Seorang penegak hukum.

Sudah 244 tahun Amerika Serikat merdeka dan sentimen rasis di negeri itu tidak kunjung reda. Tentu, tanpa menafikkan fakta bahwa diskriminasi sudah jauh lebih berkurang dan lebih baik dibandingkan sebelumnya. Keadaan demikian tak lepas dari orang-orang yang memiliki kesadaran bahwa setiap dari kita lahir tanpa bisa memilih dilahirkan sebagai ras, suku dan etnis apa. Yang oleh karena itulah setiap dari kita berhak diperlakukan sama.

Meski begitu, ada banyak juga yang tetap memelihara perilaku rasisme ini. Derek Chauvin adalah salah satu contoh yang perlu dikedepankan. Dan ia bukan satu-satunya.

Saat studi di Amerika Serikat, sikap rasisme itu masih ada. Pada titik tertentu saya juga merasa terpengaruh. Ada kalanya ketika saya berpapasan dengan orang kulit hitam pada malam hari, saya menjadi awas, pikiran saya penuh curiga, dan sebisa mungkin saya mencari aman. Walau tentu, hal yang sama juga terjadi pada mereka yang kulit putih tetapi tidak sebesar pada mereka yang berkulit hitam.

Saya selalu diperingatkan untuk menghindari kawasan tertentu di Saint Louis –kota besar di negara bagian sebelah—. Saint Louis adalah salah satu daerah dengan jumlah penembakan tertinggi di Amerika Serikat. Secara kebetulan kebanyakan pelaku kriminal di sana adalah orang-orang berkulit hitam.

Saat saya naik bus ke Iowa dan mendapati diri saya satu-satunya orang Melayu, sisanya adalah orang-orang Amrik yang sebagian besarnya adalah berkulit hitam, saya menjadi lebih berhati-hati. Di kepala saya, mereka yang berkulit hitam sering kali menjadi pelaku pencopetan misalnya. Perlahan-lahan saya menyadari bahwa pikiran saya ini sedikit banyak telah dipengaruhi oleh konstruksi sosial di masyarakat.

Bahwa beberapa kasus kriminal dilakukan oleh orang berkulit hitam adalah satu hal, bahwa kejahatan yang sama bisa dilakukan oleh siapapun, apapun warna kulitnya. Namun sedikit banyak pikiran kita telah dikuasai atau setidaknya dipengaruhi bahwa jika ada berkulit hitam maka sangat besar mereka memiliki jiwa kriminal, terutama dari etnis tertentu.

Kenyataannya toh tidak selalu seperti itu. Saya berkawan dengan beberapa orang Amerika Serikat berkulit hitam. Di tahun pertama bahkan roommate –teman tinggal dengan dua kamar tidur berbeda tetapi dengan satu kamar mandi bersama—adalah mahasiswa kulit hitam dari Saint Louis. Hubungan kami baik-baik saja. Tidak pernah adan konflik berarti.

Orang yang pertama-tama mengucapkan selamat wisuda adalah seorang tetangga, seorang ibu paruh baya dengan badan yang besar, yang tidak pernah saya tahu namanya. Saya memiliki dua sahabat karib, mahasiswa Amrik berkulit hitam, yang tidak kalah cerdas, baik, dan profesional dari sahabat Amrik saya yang berkulit putih. Di apartemen, saya juga memiliki seorang sahabat mahasiswa yang juga seorang tentara Amerika Serikat, yang selalu menyapa dan setiap kali bertemu selalu mengingatkan,

Take care bro, okay?”

Perilaku rasis justru saya dapatkan dari seorang berkulit putih, seorang nenek yang meminta saya angkat kaki dari Amerika Serikat, seolah-olah leluhurnya yang mendirikan negara itu. Teman-teman saya yang lain juga lebih sering mendapatkan perlakuan rasis dari mereka yang berkulit putih.
Saya meyakini bahwa perlakuan rasis, diskriminasi, dan hal semacamnya bisa terjadi di mana saja, kepada dan oleh siapa saja. Amerika Serikat menjadi tempat yang selalu kepadanya mata kita tertuju jika membincangkan rasis. Barangkali sebab negara ini telah melewati sejarah panjang dan selalu mempertemukan berbagai suku bangsa yang amat jauh berbeda, termasuk jika dilihat dari warna kulit.

Namun, hal yang sama juga terjadi di tempat di mana saja. Maksud saya, hal yang sama juga terjadi di Indonesia, negara kita sendiri. Apa yang terjadi terhadap saudara-saudara kita dari Papua adalah bentuk lain dari apa yang terjadi pada Floyd dan mereka yang berkulit hitam yang dilakukan oleh aparat bernama Chauvin dan mereka yang melakukan hal yang sama.

Perlakuan terhadap Floyd adalah juga sering terjadi pada orang Papua terutama kepada mahasiswa Papua. Medio Agustus tahun 2019, 43 mahasiswa Papua ditangkap paksa di Surabaya. Ada yang meneriaki monyet dan bentuk-bentuk ledekan sejenis.

Kekerasan yang mereka terima dilakukan oleh aparat yang seharusnya menjadi pelindung. Tetapi mengapa mereka tetap melakukannya bahkan terkesan santai di depan kamera? Seperti halnya yang dilakukan oleh Chauvin.

Barangkali sebab mereka tahu tidak akan konsekuensi bagi mereka. Mereka tidak akan diproses hukum. Paling banter hanya peringatan.

Kita patut mengutuk perilaku rasis yang menimpa Floyd tetapi mudah-mudahan kita juga tidak menutup mata perilaku rasis di negara sendiri, oleh aparat kita sendiri. Sungguh tidak elok jika “kuman di seberang lautan tampak, tetapi gajah di pelupuk mata tidak tampak.”

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.