Esai

Rahasia Nama Jokowi dan Mukjizat Angka-angka Al-Qur’an

PANJANG video tersebut kurang lebih berdurasi satu menit lebih. Video viral berisi ceramah dari salah seorang publik figur (saya sebut begini karena beberapa kali orangnya memang sempat muncul di media massa) yang dalam orasinya mencoba mencari “titik temu” antara nama Jokowi dengan nama salah satu surat di dalam al-Qur’an.

Apa yang dilakukan tokoh ini sontak menuai kontroversi karena dianggap oleh sebagian mengandung tendensi politisasi ayat-ayat al-Qur’an untuk menyerang sosok Presiden Indonesia itu.

Dalam ceramahnya publik figur yang saya singgung tadi menafsirkan nama Jokowi dengan menjumlahkan angka-angka dari urutan abjad penyusunnya, (J = 10, O = 15, K = 11, O = 15, W = 23, I = 9/ 83), yang kesemuanya berjumlah 83. Lalu kemudian mencocokkannya dengan surat urutan ke-83 dari al-Qur’an.

Kalau hendak diperiksa kembali, surat yang dimaksud ialah surat al-Muthaffifin yang secara harfiah bisa diartikan dengan orang-orang yang curang.  Hal inilah yang membuat sebagian orang geram karena kesan yang muncul darinya cenderung berkonotasi negatif dengan memojokkan nama Presiden Indonesia menggunakan surat yang telah disebutkan tadi.

Sah-sah saja jika kemudian anda boleh setuju ataupun tidak dengan pandangan tokoh yang telah diceritakan sebelumnya. Jelasnya dalam tulisan ini saya tidak bermaksud, bahkan tidak tertarik untuk ikut membicarakan hal ihwal perpolitikan Indonesia.  Entah itu soal siapa yang cocok jadi presiden antara Pak Jokowi atau Pak Prabowo di ajang pemilu 2019 nanti, dan lain sebagainya.

Lebih menarik bagi saya untuk menyoroti praktik gaya interpretasi nyentrik tokoh penceramah di atas, toh background saya juga kan dari tafsir. Yah sedikit banyaknya, bisalah saya juga ikut mengomentari.

Pro Kontra Mukjizat Angka-angka Dalam Al-Qur’an

Apa yang dilakukan oleh sosok yang saya sebut sebagai publik figur di atas sebenarnya bukanlah hal yang baru. Upaya untuk mengungkap relasi antara angka-angka dan al-Qur’an terlebih dahulu telah diperbincangkan oleh sekian tokoh. Misalnya Rashad Khalifah dan Abu Zahra al-Najdi dengan konsep mereka mengenai kemukjizatan angka-angka di dalam al-Qur’an.

Bahkan ada pula sumber yang menyebutkan bahwa gagasan mengenai kemukjizatan angka-angka al-Qur’an ini telah dicetuskan jauh pada era kekuasaan dinasti Umayyah, dipelopori oleh khalifah ke-5 dinasti tersebut,  Abdul Malik bin Marwan.

Meskipun begitu, hal ini bukan berarti bahwa konsep ini terlepas dari kritikan-kritikan yang dialamatkan kepadanya. Tidak sedikit pakar yang kemudian menggugat gagasan tersebut.

Di antara argumen yang dikemukakan pihak kontra adalah adanya kesan “pemaksaan” atau “pencocokkan”, dilakukan dengan mengaitkan “kebetulan-kebetulan” pola penggunaan angka-angka tertentu dengan ayat-ayat al-Qur’an.

Titik tekan permasalahannya terletak pada subjektifitas penafsir itu sendiri. Sama halnya dengan penolakan terhadap penafsiran ayat al-Qur’an dengan nuansa ilmiah, kekhawatiran serupa juga melandasi lahirnya kritikan sebagian ulama terhadap kedua gagasan ini.

Baik itu mengenai kemukjizatan angka-angka dalam al-Qur’an ataupun tafsir-tafsir ilmiah yang berupaya menonjolkan aspek kemukjizatan ilmiah al-Qur’an, ialah penggiringan opini ayat agar sesuai dengan keinginan sang penafsir.

Pada proses penafsiran terjadi “pemaksaan” prakonsepsi/ideologi yang dimiliki, sehingga produk tafsir yang dihasilkan kemudian harus sama dengan keinginan sang penafsir.

Dari sini boleh jadi si penafsir tadi akan beranggapan bahwa ayat tersebut sesuai dengan apa yang disangkakannya semula, padahal bisa saja ayat tersebut tidak berbicara mengenai prakonsepsinya tadi.

Mencari Benang Merah Antara Jokowi dan Al-Muthaffifin

Problem selanjutnya ialah bagaimana mengatasi prasangka-prasangka di atas tadi untuk menemukan penyelesaian mengenai kasus video viral tersebut.

Sebelum melangkah ke situ mungkin baik kiranya bila kita bercermin terlebih dahulu kepada sikap para ulama ketika mengatasi problem subjektifitas penafsiran ayat al-Qur’an semacam ini.

Setidaknya, dengan belajar dari pandangan mereka ketika merespon persoalan demikian, ada tolak ukur  untuk menjawab persoalan video ini.

Untuk mengatasi subjektifitas seseorang ketika menafsirkan ayat, pakar kemudian merumuskan seperangkat adab, aturan,  serta berbagai prasyarat lainnya yang menjadi pegangan wajib bagi mereka yang ingin menginterpretasikan al-Qur’an.

Tanpa mengindahkan hal-hal tersebut seseorang tidak dianggap sah untuk “melegitimasi” penafsiran suatu ayat.

Oleh sebab itu untuk menjawab (baca: menafsirkan) apakah nama Jokowi punya hubungan dengan nama surat al-Muthaffifin, maka terlebih dahulu pastikan bahwa anda sudah layak untuk “melegitimasi” ayat-ayat al-Qur’an ini.

Kalaupun tidak dan sudah pasti begitu, anda tidak perlu khawatir karena masih bisa merujuk pada tokoh-tokoh lain yang tentu lebih kompeten di bidang ini yaitu mufassir itu sendiri.

Saya akhiri tulisan ini dengan menyadur penjelasan beberapa mufassir ternama terkait alasan penamaan surat al-Muthaffifin ini.

Sumber-sumbernya bisa anda klarifikasi sendiri dengan merujuk pada Tafsir al-Munir-nya Al-Zuhaili, al-Tahrir wa al-Tanwir karangan Ibnu Asyur, Tafsir Ibn Katsir milik Ibnu Katsir, dan terakhir dari Al-Suyuti dalam kitabnya Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (sengaja saya sebutkan supaya muncul nuansa-nuansa tafsirnya hehe).

Singkatnya berdasarkan penjelasan pakar-pakar ini, penamaan surat al-Muthaffifin, yang berarti orang-orang yang curang, ini dinisbahkan kepada penyebutan kata al-muthaffifin pada ayat pertama surat tersebut.

Sebuah riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas mengisahkan bahwa ayat tersebut turun berkaitan dengan praktik-praktik kecurangan yang biasa dilakukan masyarakat Madinah pada saat itu, gemar mengakal-akali timbangan dalam jual beli. Minta dilebihkan ketika ditakar serta mengurangi timbangan orang lain ketika giliran ia yang menakar.

Setelah ayat ini turun barulah kemudian masyarakat sadar dan meninggalkan kebiasaannya ini. Nah, sampai di sini sekarang setidaknya anda telah memiliki gambaran umum mengenai background  penamaan surat al-Muthaffifin tadi.

Tugas berikutnya ialah menilai kecocokan, kalau nama Jokowi diidentikkan dengan surat tersebut. Tugas saya hanya mengantar anda pada argumen-argumen singkat di atas. Kesimpulannya yah silahkan anda buat sendiri. Wallahu a’lam.

 

Rianto Hasan

Rianto Hasan

Alumni Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddin Makassar, Anggota SANAD TH Khusus,
Sekarang jadi pengemis di yogya

Previous post

Menguji Dua Keistimewaan: Tionghoa dan Yogyakarta

Next post

Abu Tours, Kamu Jahat