Locita

Raffles dan Perenungan Penjajahan Kontemporer

The sun will never sets on British Empire” adalah ungkapan yang sering terdengar untuk menggambarkan kebesaran dan kejayaan Kerajaan Inggris. Hal ini karena di jaman kolonisasi modern, Negara Inggris memiliki jajahan terluas dan terbesar. Inggris menancapkan benderanya mulai dari daratan paling utara Benua Amerika di Kanada tahun 1497 oleh John Cabot pada tempat yang disebutnya Newfoundland, sampai di kepulauan Falkland di lepas pantai Argentina yang diklaim ditemukan oleh John Davis pada tahun 1592; mulai dari Gambia dan Gold Coast di Afrika Barat yang dibeli dari Antonio I (tahta Portugis) tahun 1588, sampai New Zealand di Laut Antartika.

Thomad Stanford Raffles adalah Wakil Gubernur Jendral Inggris yang berkedudukan di Hindia (Nusantara). Inggris merebut kepulauan ini dari Perancis-Belanda dan mendirikan kantor dagang dari Aceh sampai Ambon. Raffles menjalankan pemerintahannya dengan bersendikan paham liberalisme. Hal ini mencakup kebebasan tanam modal dan perdagangan, dengan menetapkan pajak tanah (landrent system) sebagai ganti pajak hasil bumi (contingenten) dan penyerahan wajib (verplichte leverantie). Selain itu juga dilakukan reformasi birokrasi (pembagian 16 karesidenan di Pulau Jawa dan pengangkatan bupati sebagai pegawai kolonial), dan reformasi sosial hukum (pencabutan kerja rodi, pencabutan pynbank, dan pencabutan perbudakan).

Selain itu dia juga membangun Kebun Raya Bogor, khususnya untuk mengenang istrinya Olivia Mariamne Devenish, dan juga sebagai wujud kecintaan akan keanekaragaman hayati. Kebudayaan Jawa yang didalami melalui penelusuran pelosok-pelosok pulau ini tertuang kemudian di dalam History of Java. Begitu besar kemajuan yang diciptakan Raffles pada jamannya, menjadi tolok ukur masa setelahnya. Hal ini berbanding terbalik dari era sebelumnya. Gubernur Jenderal Daendels yang menetapkan kerja rodi membangun jalan raya Postweg Straats dari Anyer sampai Panarukan (+/- 2000 mil), yang menyebabkan banyak korban jiwa dari para pekerja paksa tersebut. Godverdomme!

Setelah Traktat London (1816) ditandatangani, seluruh jajahan Inggris di negeri ini diserahkan kembali kepada Belanda dan ditukar dengan kawasan India secara keseluruhan dan Singapura, kecuali Bangka Belitung dan Bengkulu. Selama 140 tahun menguasai Bengkulu, begitu banyak saksi bisu kejayaan Inggris di sana, antara lain Fort Marlborough (dibangun antara 1714-1719), monumen Thomas Parr, kuburan Inggris, dan lain-lain. Bahkan British Petroleum (BP), sampai hari ini masih menancapkan kuku tajamnya di Rejang Lebong. Begitu besarnya sumbangsih Raffles bagi Bengkulu dan ilmu pengetahuan, sehingga flora endemik yang ditemukan di daerah ini dinamai menggunakan namanya. Bunga Padma Raksasa (Rafflesia Arnoldii) adalah endemik Bengkulu yang masih ada di hutan-hutan Kerinci Seblat.

***

Bukan merupakan sebuah kebetulan jika Simposium Kedaulatan Agraria dan Maritim dihelat di Bengkulu minggu kemarin (7-8/4/17), karena ternyata penjajahan tidak pernah berkesudahan di sana. Sejak Inggris dan Belanda hengkang, sampai saat ini tetap saja ada penjajahan dan eksploitasi terhadap tanah, energi, dan kekayaan mineral. Kali ini dilakukan bangsa sendiri. Seperti yang ditulis kompas.com, September 2016 lalu, “42 Perusahaan Tambang Batubara Masuk Hutan Konservasi di Bengkulu”. Luas kawasan 42 pertambangan itu totalnya 120.000 hektare, 23 perusahaan berada di kawasan hutan konservasi dengan luas 5.144 hektare, 16 perusahaan berada dalam kawasan hutan lindung mencapai 113.600 hektare. Ini memiriskan hati karena seperti kita tahu, hutan-hutan Bengkulu masih memiliki banyak keanekaragaman hayati dan satwa. Apalagi banyak perusahaan pertambangan itu yang juga menunggak setoran ke kas negara dan kas daerah. Dua dosa dalam satu kali pukul, merusak lingkungan dan menghambat pertumbuhan ekonomi daerah. Bukan main!

Ir. Soekarno, pendiri bangsa yang pernah ditahan dalam salah satu kamar di Fort Marlborough, pernah mengatakan: “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Hal ini mungkin saja betul-betul terjadi hari ini. Bukan saja penjajahan di sektor ekonomi dan energi, tapi juga di seluruh lini kehidupan.

Raffles vs pemerintah hari ini

Polarisasi masyarakat efek Pilkada Jakarta, serta penyerangan penyidik KPK Novel Baswedan yang diindikasi terhubung dengan kasus E-KTP, dan perjuangan buruh Pelindo I Belawan Medan yang melakukan long march ke Jakarta untuk temui Presiden, sekian dari banyak kasus yang melilit kehidupan berbangsa. Raffles mereformasi birokrasi, hukum, dan sosial; namun pemerintah hari ini berjalan mundur dengan berkelahi di Senayan, mengintimidasi pemberantasan korupsi, dan membiarkan degradasi sosial terjadi. Raffles membangun Kebun Raya Bogor dan mendukung ekspedisi penemuan Rafflesia Arnoldii, namun kolaborator pemerintah hari ini masuk hutan konservasi dan merusak alam mengatasnamakan eksplorasi dan eksploitasi demi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Rakyat si tuan polan!

Bangsa ini harusnya dibangun dan dikelola dengan mengedepankan peradaban yang unggul, nilai-nilai lokal yang disadur dari pengalaman panjang sejarah bangsa yang tetap bertahan melewati zaman, seperti refleksi Raffles tentang masyarakat Jawa. Survivalitas untuk hidup pada kerasnya gelombang negara kepulauan, membuat orang-orang Indonesia sebenarnya unggul dari banyak bangsa lain yang punah akhirnya. Hal tersebut adalah hasil peramuan dan perenungan ribuan tahun akan kearifan lokal bangsa ini. Kesepakatan penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan, adalah sebuah kecerdasan lain untuk mengikat ribuan budaya dan bahasa di seluruh gugusan pulau. Namun bahasa ini cuman digunakan untuk menghubungkan kepentingan ekonomi yang satu dengan yang lain, bukan untuk memajukan pendidikan dan mempertahankan keunggulan. Dan kadang juga Indonesia ini seperti

Sukamiskin, yang digambarkan Hotasi Nababan dalam Sukamiskin: Laboratorium Peradaban Indonesia. Menurut dia, Belanda menganggap Sukamiskin sebagai “Straft Gevangenis voor Intelectuelen“, artinya penjara bagi kaum intelektual. Sepertinya Indonesia berisi kaum intelek yang terpenjara. Terpenjara karena kaum intelektual diam menonton penindasan, profesor-profesor kita tidak berpihak pada rakyat yang termarjinalkan, doktor-doktor kita asyik bercinta dan berbagi kasih dengan korporasi. Tjootje!

Ketakutan hari ini adalah memikirkan sejarah di masa depan yang akan ditulis tentang hari ini. Toh cerita penjajahan tidak pernah usai, cuman skenarionya saja yang berubah. Malah ketakutan berikutnya ketika Thomas Raffles ternyata lebih manusiawi, dibanding era hari ini. Masyarakat Kendeng yang akan digusur dari tanahnya karena pabrik semen akan berdiri; Suku Amungme dan Komoro yang dihilangkan airnya dan kehidupannya di hutan-hutan Timika oleh Freeport; orang-orang Punan yang direlokasi dan diadu dengan Suku Tidung di Kalimantan Utara karena tanahnya diambil perusahaan sawit; bahkan orang-orang Seko yang ditipu-tipu dan diintimidasi karena pembangunan PLTA atas nama modernitas. Cerita-cerita ini akan menjadi kisah sejarah di masa yang akan datang, bahwa penjajahan belum usai. “Hari ini kamu melawan bangsamu sendiri, yang adalah penjajahmu yang baru,” gumam Kus di Blitar.

Alan Christian Singkali

Sekretaris Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI)

Tentang Penulis

Alan Christian Singkali

Sekretaris Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.