Locita

Pudarnya Etika Komunikasi Mahasiswa ke Dosen

Sumber: Republika

Perguruan tinggi harusnya menjadi tempat yang terhormat dalam membentuk melakukan proses belajar dan mengajar. Generasi muda yang diharapkan dapat melanjutkan tongkat estafet perubahan bangsa akan membentuk watak “generasi milenal” yang siap menghadapi tuntunan zaman.

Segudang ilmu pengetahuan, teori, kajian ilmiah, diskusi menjadi kewajiban yang harus dimiliki di perguruan tinggi, namun kadang-kadang diskursus tersebut cenderung abai dan meninggalkan etika komunikasi antara mahasiswa ke dosen yang di dalamnya terdapat nilai-nilai kesopanan, tata krama yang mestinya sudah tumbuh dan berkembang sejak dibangku sekolah hingga perguruan tinggi, yakni etika komunikasi mahasiswa ke dosen.

Pada Oktober 2017 yang lalu, Universitas Indonesia (UI) dalam postingannya membuat viral jagad maya sebab membuat panduan petunjuk menghubungi dosen yang berjudul “Etika Menghubungi Dosen Melalui Telepon Genggam”, ada tujuh poin etika yang dijabarkan.

Pertama, perhatikan kapan waktu yang tepat untuk menghubungi dosen, pilihlah waktu yang biasanya tidak dipakai untuk beristirahat atau beribadah. Contoh : hindari menghubungi dosen diatas pukul 20.00 Wib atau disaat waktu ibadah.

Kedua, awali dengan sapaan atau mengucapkan salam. Contoh: Selamat pagi Bapak/ibu atau Assalamualaikum (apablia kedua belah pihak sesama muslim).

Ketiga, Ucapkan kata maaf untuk menunjukkan sopan santun dari kerendahan hati anda. Contoh: “Mohon maaf mengganggu waktu Bapak/ibu.

Keempat, setiap dosen pastinya menghadapi ratusan mahasiswa setiap harinya dan tidak menyimpan nomor kontak seluruh mahasiswa. Maka pastikan mahasiswa untuk menyampaikan identitas disetiap awal komunikasi percakapan. Contohnya: “Nama saya Ziya, mahasiswa Sosiologi Agama angkatan 2016, mengambil mata kuliah Sosiologi dikelas Bapak/ibu.”

Kelima, gunakan bahasa yang umum dimengerti, tanda baca yang baik dan dalam konteks yang formal, Keenam, tulis pesan dengan singkat dan jelas, contohnya: “Saya memerlukan tanda tangan Bapak/ibu di lembar pengesahan saya, kapan kiranya sata dapat menemui Bapak/ibu?”

Terakhir yang ketujuh, akhiri pesan dengan mengucapkan terima kasih atau salam penutup.

Tak lama ini juga menjadi perbincangan didunia maya, hal yang sama juga dilakukan oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) yang secara umum membuat panduang etika mahasiswa menghubungi dosen via SMS/WA yang dipampang besar-besar dalam bentuk banner di sudut kampusnya.

Isinya tidak jauh berbeda seperti halnya dengan kampus UI, hanya menambahkan berperilaku baik, artinya si mahasiswa tidak membangun kesan memaksa, tidak terburu- buru dan tidak menggurui dalam menyampaikan pesan ke dosennya. Nampaknya kedua kampus ini me “re-etika kan” atau mengembalikan etika komunikasi mahasiswa ke dosen yang mulai pudar, walaupun itu tidak berlaku secara umum mahasiswa.

Etika Komunikasi

Kampus UI dan UGM menjadi kampus terbaik di Indonesia, yang mahasiswanya berasal dari berbagai macam daerah, dan beragam budayanya menjadi menarik ketika kedua kampus ini membuat panduan tertulis mengenai etika berkomunikasi mahasiswa ke dosen. Tidakkah cukup pembelajaran tentang etika tersebut didapatkan dibangku sekolah atau mungkin didapatkan secara lisan dari dosen atau birokrasi perguruan tinggi? Mengapa harus secara tertulis dan dibuatkan panduannya serta disebarluaskan?

Berbicara mengenai etika, James J. Spillane SJ menyebut bahwa yang dimaksud dengan etika yakni mempertimbangkan dan memperhatikan tingkah laku manusia dalam mengambil suatu keputusan yang berkaitan dengan moral. Ini lebih mengarah pada penggunaan akal budi manusia untuk menentukan benar atau salah.

Sementara etika berkomunikasi yakni mencakup segala nilai dan norma yang menjadi standar dan acuan manusia dalam berkomunikasi dengan orang lain. Etika komunikasi menilai mana tindakan komunikasi yang baik dan buruk berdasarkan standar yang berlaku.

Karena komunikasi merupakan salah satu hal yang krusial dalam kehidupan manusia, maka penting bagi kita untuk memahami mengenai etika komunikasi. Tanpa adanya etika komunikasi, dapat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kesalahpahaman, pertengkaran, perselisihan, dan lain sebagainya.

Selain itu, etika komunikasi yang tidak diketahui dan diterapkan akan menyebabkan hubungan kita dengan orang lain jadi buruk. Tentunya itu akan berakibat tidak baik, karena bagaimanapun juga kita adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan dan dibutuhkan orang lain.

UI dan UGM tentunya membuat panduan tersebut berangkat dari sebuah fakta sosial di dalam kampus, antara mahasiswa dan dosen. Guna menghindari etika yang buruk antara keduanya, maka dibuatlah panduan etika komunikasi, tidak cukup hanya berdasarkan lisan mulut ke mulut. Bisa jadi kondisi serupa juga dirasakan dikampus mana saja di Indonesia.

Membangun Pola Komunikasi

Kampus memberikan pendidikan dengan “gaya pendidikan orang dewasa” yang menjadi pedoman dalam proses pendidikan. Artinya peserta didik sudah dianggap dewasa dan secara kesadaran untuk mengikuti kegiatan proses belajar-mengajar, bukan sekedar hadir karena paksaan atau takut dengan dosen yang bersangkutan.

Begitu juga dengan pola komunikasi di dalam kelas, dosen juga dituntut menerapkan metode pembelajaran yang terbaru, agar output-nya bagi mahasiswa didapatkan dengan baik.

Sudah tidak zamannya lagi dosen yang mengajar dengan cara metode dan teknik yang monoton satu arah. Namun diperlukan pola kumunikasi yang dua arah, membuka ruang diskusi dan aktif dalam menyampaikan pendapat bukan sekedar diam atau bertanya yang kemudian dijawab oleh sang dosen.

Komunikasi seperti ini akan menjadi cair, sebab bisa jadi dosen memposisikan dirinya sebagai “teman untuk berdiskusi” dan membuka lebar ilmu pengetahuan yang datangnya dari mahasiswa.

Bukan seperti pendidik yang pendapatnya tidak dapat dibantah, atau segala sesuatu berdasarkan perintah dan memaksa. Oleh sebab itu, pola komunikasi ini jangan disalah artikan dengan mengabaikan sikap saling menghormati dan menghargai didalam kelas maupun diluar kelas.

Pola komunikasi yang cair juga tetap dibangun dalam kaidah etika komunikasi yang didalamnya terdapat nilai kesopanan, tata krama, dan lain lain yang semestinya menjadi budaya adiluhung bangsa Indonesia.

Ruang ruang akademis harus berjalan beriringan dengan nilai dan norma agar menghasilkan generasi milineal yang punya nilai-nilai luhur bangsa dan agama dan siap menghadapi tantangan zaman.

Rholand Muary

Sosiolog, minat pada kajian Sosial, politik dan Filsafat

Add comment

Tentang Penulis

Rholand Muary

Sosiolog, minat pada kajian Sosial, politik dan Filsafat

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.