Locita

PSI, Cari Topik Lain untuk Mendulang Suara

KABAR baik itu datang dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI), partai politik yang digawangi oleh Grace Natalie sebagai ketua umum dan Radja Antonie sebagai Sekretaris Jendral.

Kerap disebut sebagai partainya anak muda, PSI berhasil lolos dalam verifikasi partai politik untuk pemilu 2019. Pertama dan utama tentu saja saya ingin mengucapkan selamat atas kerja keras para Bro and Sist PSI tersebut.

Kenapa saya menyebutnya kabar baik dan ucapan selamat layak kita berikan pada mereka? Kabar baik tentu saja karena akhirnya ada partai politik yang menampilkan citra lain dibandingkan para pendahulunya.

Bukankah kita kerap kali dipertontonkan dengan para elit partai politik yang karena konflik internal dalam partai lalu membuat partai baru atau mereka yang sudah punya banyak privilege akhirnya membuat partai politik.

Apakah salah? Tentu tidak. Semua orang, baik perorangan ataupun kelompok berhak membuat partai politik di Indonesia dengan syarat dan ketentuan yang berlaku (yang subhanallah njelimet alias tidak mudah).

PSI hadir dengan memperlihatkan semangat kolektif anak muda yang banyak di antaranya bukan dari kalangan elit partai sebelumnya, ada mahasiswa maupun tenaga professional yang kemudian dengan kesadaran bersama membentuk partai politik.

FYI, menurut Peraturan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017, setidaknya ada 10 syarat untuk partai politik bisa ikut pemilu.

Antara lain, berstatus badan hukum sesuai dengan UU Parpol, memiliki kepengurusan di seluruh provinsi, memiliki kepengurusan paling sedikit 75% dari jumlah kabupaten atau kota di provinsi yang bersangkutan, memiliki kepengurusan paling sedikit di 50% jumlah kecamatan.

Kemudian menyertakan paling sedikit 30% keterwakilan perempuan pada kepengurusan partai politik tingkat pusat, memiliki anggota paling sedikit 1.000 atau 1/1.000 dari jumlah penduduk, memiliki kantor tetap untuk kepengurusan pada tingkat pusat provinsi hingga kota, mengajukan nama, lembang dan tanda gambar pada KPU, serta yang terakhir menyerahkan nomor rekening atas nama partai.

Kemunculan PSI menjadi menarik tapi tak juga surut dari kritik. Kritik yang sering kali saya  baca di media, termasuk media sosial hasil cuitan beberapa orang misalnya PSI yang dianggap sebagai partai media sosial.

Kritik tersebut tentu bukan tanpa sebab, karena jika kita amati bersama PSI memang menjadi salah satu partai yang paling massif melakukan kampanye di media sosial. Ditambah dengan bergabungnya beberapa  nama yang cukup terkenal di media sosial. Sebut saja Tsamara Amany, Giring Nidji, Guntur Romli, Kokok Dirgantoro, dan beberapa nama lain yang mendaftar sebagai calon legislatif dari PSI.

Sering dianggap sebagai partai media sosial dan hanya mampu menyentuh masyarakat kelas menengah keatas yang tingkat pendidikannya tinggi, menurut saya juga tidak bisa disalahkan. Seperti halnya suatu produk, si pembuat produk pasti sudah punya target pasarnya.

Pun PSI jika target konstituennya seperti itu, ya sah-sah saja. Beda halnya jika dianggap bahwa PSI tidak mampu menghadirkan solusi atas persoalan rakyat, ini saya kira terlalu dini kita menilainya.

Memangnya partai politik yang sudah beruban di Senayan sana telah mampu hadirkan solusi atas persoalan rakyat hari ini? Jawabannya akan sangat melebar dan tentu saja subjektif.

Akan tetapi beberapa terobosan baru yang dilakukan PSI adalah betul adanya menurut saya perlu diapresiasi. Dua di antaranya adalah patungan rakyat dan melakukan seleksi terbuka untuk calon legislatifnya.

Patungan rakyat merupakan salah satu program PSI untuk menggalang dana kampanye dari rakyat yang harapannya PSI menjadi bagian daripada gerakan rakyat bersama dan mencitrakan dirinya jauh dari mahar politik untuk para calon legislatifnya.

Selanjutnya adalah seleksi terbuka bagi calon legislatif. Hal tersebut, merupakan terobosan luar biasa dimana PSI membuka peluang besar bagi tenaga professional, pekerja seni, mahasiswa, atau siapa saja untuk mencalonkan dirinya sebagai anggota legislatif. Dua hal tersebut menjadi modal bagi PSI untuk bisa dianggap berbeda dibandingkan partai-partai lainnya.

Pertanyaannya, apa kemudian itu cukup? Tentu tidak. Kita hidup pada masa pertarungan politik tak pernah cukup hanya dengan ide dan gagasan, tapi bahwa PSI hadir untuk membawa harapan baru saya kira patut diapresiasi dan tentu saja berikan kritik yang berarti, bukan sekedar bualan iri hati.

Saya kira sebaiknya PSI juga tak perlu muluk-muluk dalam Pemilu 2019 nanti, tak perlu juga bermanuver dengan ekstrim, cukup fokus kaderisasi dan mencitrakan diri sebagai jawaban atas persoalan bobroknya partai politik kita hari ini.

Pesan terakhir untuk PSI, mulai ramai punggawa PSI yang memberikan komentar menyoal LGBT. Saya tidak berharap banyak PSI akan ada pada barisan anak muda progresif yang “mendukung” kaum minoritas tersebut, saya paham membela LGBT saat menuju tahun politik sama dengan bunuh diri.

Tapi berhentilah memberikan komentar yang sama memuakkannya dengan para elit partai politik tua itu, lebih baik hindari bicara soal isu tersebut dan cari topik lain saja yang bisa digunakan untuk mendulang suara.

Adis Puji Astuti

Berbuih bersama @Perutpuan - Meyakini bahwa durian adalah surga dunia kedua setelah orgasme.

Add comment

Tentang Penulis

Adis Puji Astuti

Berbuih bersama @Perutpuan - Meyakini bahwa durian adalah surga dunia kedua setelah orgasme.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.